728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 8 February 2014

Istrimu Bukanlah Bidadari Dan Kamu Bukanlah Malaikat



“Istrimu bukanlah bidadari dan kamu bukanlah malaikat.” Ah ini sebuah ungkapan yang realita yang kudengar dari ceramah seorang ustad bernama Syafiq Basalamah. Ceramah yang unik mengajarkanku untuk tidak mengharapkan kesempurnaan dari seorang pasangan. Karena mungkin dari seribu pasangan yang ada di dunia ini, hanya sepuluh orang saja yang hampir sempurna dirinya untuk pasangannya.

‘Saling cinta dan saling memahami,’ mungkin menjadi sebuah slogan untuk keluarga yang bahagia, namun sloga di atas tidak berlaku seratus persen untuk semua pasangan , itu karena seseorang nyaris tidak dapat menebak apa yang ada dalam diri pasangannya dan apa yang dikehendaki pasangannya.

Kuberharap untuk orang yang mau menikah, jangan terlalu mengharapkan kesempurnaan dari pasangannya, karena hal itu hanya akan menjadikanmu kecewa pada suatu saat nanti. Tapi jangan dulu kamu takut untuk tidak mendapatkan pasangan yang sempurna, karena ketidak sempurnaan atau buruknya perangai adalah sebuah penyakit dan penyakit pasti ada obatnya. Kini coba sabar sejenak untuk mengetaui obat agar pasangan menjadi sempurna, namun sebelum aku beritahu obat itu, alangkah baiknya aku kemukakan kisah yang menceritakan akan kesempurnaa seorang pasangan.

Suatu hari syuraih al-Qadhi menemui Assya’bi. Assya’bi bertanya kepadanya tentang keadaan di dalam rumahnya. Ia pun berkata, “Selama dua puluh tahun aku tidak pernah melihat sesuatu dari istriku yang membuatku marah.”

Asyya’bi berkata kepada Syuraih, “Bagaimana itu?”

Syuraih menjawab, “ Pada malam pertama aku masuk menemu istriku, dan aku melihat pada dirinya suatu kebaikan, kecerdasan, serta kecantikan yang luar biasa. Aku pun berkata kepada diriku sendiri, “Aku harus bersuci dan shalat dua rakaat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.”

Ketika aku telah selesai salam, aku mendapati istriku mengerjakan sholat bersamaku. Tatkala para sahabat dan rekan-rekan telah pulang, aku bangkit ke arahnya sembari menjulurkan tangan kepadanya. Ia berkata , “Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayah.”

Selanjutnya ia berkata, “segala puji bagi Allah, aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya. Aku ucapkan shalawat atas Muhammad dan juga keluarganya. Sesungguhnya aku adalah seorang wanita asing, dan aku tidak memiliki pengetahuan mengenai akhlakmu. Untuk itu, terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai sehingga aku dapat melakukannya dan apa yang engkau benci sehingga dapat meninggalkannya. Sesungguhnya dalam kaummu ada wanita-wanita yang layak engkau nikahi dan dalam kaumku ada orang-orang yang cocok untuk diriku. Akan tetapi, Allah melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan dan engkau kini telah memilikinya. Untuk itu, lakukanlah apa yang telah Allah perintahkan kepadamu; mempertahankannya dengan cara yang makruf atau menceraikannya dengan cara yang baik. Aku akhiri perkataanku ini dan aku beristigfar kepada Allah untuk diriku dan juga engkau.

Syuraih berkata, “Demi Allah wahai Sya’bi, ia membuat diriku membutuhkan khotbah pada situasi semacam itu. Lalu aku katakana, “Aku memuji kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Semoga shalawat terlimpahkan kepada Nabi beserta para keluarganya. Adapun selanjutnya, engkau telah mengucapkan suatu perkataan. Jika engkau menetapinya maka itu akan menjadi bagianmu, dan bila engkau meninggalkannya maka ia akan menjadi pendebatmu. Aku menyukai begini dan begini, membenci begini dan begini. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari keburukan maka tutupilah.”

Kemudian ia berkata, “Bagaimana kecintaamu terhadap kunjungan keluargaku?”

Aku menjawab, “Aku tidak suka jika keluargaku membuatku merasa bosa.”

Ia bertanya lagi, “siapa yang engkau sukai dari tetangga-tetanggamu untuk masuk ke rumahmu sehingga aku dapat mengizinkannya, dan siapa yang tidak engkau sukai sehingga aku pun tidak menyukainya?”

Aku menjawab, “Bani fulan adalah kaum yang saleh dan Bani si fulan adalah kaum yang buruk.”

Syuraih berkata, “Lalu aku bermalam bersamanya dengan malam yang paling menyenangkan. Aku hidup bersamanya selama satu tahun dan aku tidak pernah melihat kecuali apa yang aku sukai. Ketika sampai dipenghujung tahun, aku datang dari mahkamah pengadilan. Ternyata ada seorang wanita di dalam rumah. Aku pun berkata, “Siapa dia?” istriku menjawab, “Ibu mertuamu.”

Lantas ia menoleh ke arahku dan bertanya, “Bagaimana engkau melihat istrimu?” Aku menjawab, “Sebaik-baik istri.” Ia berkata, “Wahai Abu Umayah, sesungguhnya seorang wanita itu tidak akan berada dalam kondisi yang paling buruk melainkan jika berada dalam dua keadaan; jika melahirkan seorang anak atau mendapat kedudukan di sisi suaminya. Demi Allah, tidaklah kaum laki-laki itu memperoleh sesuatu yang lebih buruk di rumah-rumah mereka dari seorang istri manja. Untuk itu, ajarilah ia apa yang hendak engkau ajarkan dan didiklah ia apa yang hendak engkau didikkan.”

Ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun. Aku tidak pernah mencelanya dalam suatu hal kecuali hanya sekali saja, dan aku telah berbuat zalim kepadanya.”

Ya Allah, sebuah kisah yang menakjubkan dan sangat jarang berada saat ini, namun dari kisah di atas, aku bisa mengambil pelajaran, bahwa ada yang namanya pasangan yang sempurna. Ah kamu tidak perlu bertanya lagi, sempurna seperti apa, karena sudah jelas di atas menggambarkan akan sempurnanya budi pekerti kemudian ditambah dengan ilmu Islam yang menghiasi, maka sempurnalah sudah diri.

Kini mungkin saatnya aku dan kamu harus tahu sebuah obat untuk menjadikan kita terlihat sempurna dihadapan pasangan, dan ingat, semua itu tidak lepas dari kerja sama antara kedua belah pihak. Berikut beberapa obat menjadi keluarga yang sempurna.

1. Bawaan budi pekerti yang baik, akan membantu menjadikan seseorang terlihat sempurna di hadapan pasangannya.

2. Ilmu Syar’I merupakan sebuah peta yang menunjukkan seseorang menjadi peribadi yang paripurna.

3. Selalu terbuka untuk menerima nasehat dan kritik pasangan adalah sebuah langkah jitu menuju pada slogan saling cinta dan memahami.

4. Saling meminta kode etik antara kedua belah pihak agar terciptanya sloga ‘Saling cinta dan saling memahami. Sebagaimana permintaan istri Syuraih kepada Syuraih untuk memberitahu dia apa saja dan siapa saja yang dia benci.

5. Saling berwasiat adalah kunci mencapai kesempurnaan. Dalam hal ini aku teringat dengan perkataan Abu Darda kepada istrinya, beliau berkata, “Jika engkau melihatku marah maka buatlah aku ridho. Jika aku melihatmu marah maka aku akan membuatmu ridho. Jika tidak maka kita tidak akan bersama…” Hal ini juga yang pernah aku katakan kepada istriku, dan istriku juga berkata, “Jika aku marah, maka peluklah aku.” Maka dari situ kutahu, di antara salah satu yang dapat meredahkan marahnya adalah dengan memeluknya.

Salam santun

By: Irsun Badrun
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Istrimu Bukanlah Bidadari Dan Kamu Bukanlah Malaikat Rating: 5 Reviewed By: Unknown