728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Monday, 14 April 2014

Aktor Intelektual Syiah Dibalik Genosida Ala Mesir



MUHARRIKDAKWAH - Nabi di turunkan di tanah Arab, karena jazirah arabiyah adalah wilayah criminal terbesar di dunia, ras arab mulanya adalah ras paling sombong dan biadab, penduduknya hidup dalam persaingan berdarah, keberanian dan pedang sebagai sebuah budaya turun temurun, dan wanita menjadi pesona nafsu kalangan bangsawan arab. Selain perbudakan dan penistaan terhadap bangsa ayam, terutama kulit hitam waktu itu tak ada bedanta dengan binatang buruan, yang dipermainkan sesuka hatinya. Paganism, menyembah berhala dan patung patung merupakan ketergantungan ritus spiritual yang melumpuhkan akal sehatnya.

Kehadiran nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam merobah segalanya, meredam semua gejala yang merusak bangsa Arab, termasuk memangkas keinginan para kepala suku yang selalu berebut kekuasaan dan menebang jalan sesat bangsa arab hingga keakar akarnya.

Abad silih berganti, Islam berkembang menembus belahan dunia, termasuk meninggalkan warisan di Mesir, yang menjadi gudang kisah para nabi sebelumnya, masuk dalam pembinaan Islam dari para sahabat nabi yang bermukin di Mesir. Imam imam besar sunni dalam bidang keilmuan hidup dan mati di mesir, yang menandai Mesir menjadi wilayah yang kaya dengan Khazanah Islam, selain ulama juga pustaka Islam dari berbagai Karya Islam

Kemenangan Islam dari seorang Morsi, melahirkan delematis para pemimpin Mesir sebelumnya, kecemburuan dan sakit memaksa pejabat pejabat Mesir warisan Mubarak melakukan tindakan jahat atas nama rakyat. Morsi dipaksa turun dari kursi kepresidenan Mesir oleh para petualang kekuasaan warisan Gamal Abdul Nasher yang berjiwa psikopat, lalu dicampakkan ke penjara, dengan berbagai tuduhan palsu kepadanya.

Mesir yang baru saja menebar aroma Islami harus sirna dihempas badai keangkuhan, bau mesiu membaur dengan percikan darah para pendukung Morsi, tiada lagi sopan santun berbangsa, baik pria atau wanita lebur dalam duka pengkhinatan militer Mesir yang tidak rela menyerahkan kekuasaan. Hukum Mubarak, sebagai mantan Presiden Mesir diurungkan, para perampok Uang rakyat berbangga diri karena terbebas dari jeratan hukum.

Mesir kembali ketangan para penjahat kekuasaan dan penjahat kelamin, yang tidak rela hartanya disita oleh Negara, terlebih karena merasa tak ada kebebasan koruptor lari dari hukum, Mesir harus kembali memangku jabatan orang orang dictator, yang meletakkan moncong senjata untuk membunuh orang tak berdosa, rakyat ditindak tanpa prikemanusian dengan biadab dan kejam, dengan melupan bahwa yang dihadapi adalah bangsanya sendiri. Kekejaman Arab Mesir kembali menumpahkan darh bangsa Mesir, tak ada lagi harga diri pemimpin bangsa, kehilangan semangat berbangsa, yang ada dalam dirinya hanya nafsu dan kekuasaan. Agamapun terkubur dari hatinya, hingga imannya tak bisa melihat bahwa yang dibunuh adalah saudaranya.

Belum lagi nasib para tahanan dari kalangan pendukung Morsi dijebak dengan hukum mati, atas tuduhan palsu para praktisi hukum yang memaksa hukum menjerat dengan pasal pasal secara manipulative, sehingga menjatuhkan vonis mati pada ” 529 orang Mesir”, kejahatan baru pemerintah Mesir terhadap rakyatnya, karena semata mempertahankan kekuasan , kalap memaksa dirinya menjatuhkan hukum yang tak kenal Iba, naudzubillah , masa jahiliyah kembali tiba, merenggut kehormatan agama dan bangsa, yang ada satu kata Penguasa “ Kami yang mati atau bangsa yang sirna”.

ULAMA POBIA DAN ULAMA PENJILAT BERSATU MENDUKUNG GENOSIDA MESIR

Dukungan ulama tertentu di Mesir bagian dari cikal bakal kehancuran Morsi di Mesir, mereka membelot dari Morsi dengan harapan mendapatkan hidup lebih layak dari penerintahan Meliter, mereka bukanlah Ibnu Taimiyah yang memilih penjarah sebagai tempat mengabdi di tahanan, tetapi adalah ulama ulama pembelot dan pecundang tang mencari keuntungan dari keruntuhan kepemimpinan Morsi. Jendral Abdul Fattah As Sisi menjadi idola mereka, dicanangkan sebagai pemimpin Mereka. Ulama ulama yang berpetualang dalam kekuasaan ini tak ada bedanya dengan ulama yang bergabung dengan Nasakom dijaman keprsidenan Sukarna, mereka berspekulasi dengan kekuasan dan uang, mengincar harta bertopeng kitab kitab Allah, padahal menjual agama demi harta dan kekuasaan.

Mantan Mufti Mesir Dr Ali Juma’ah selama konferensi pertama lembaga penasehat “Masr Baladi” yang diadakan di sebuah hotel di Kairo juga menyatakan bahwa tahap berikutnya bagi Mesir adalah tahap kaum pemuda. Dia menyerukan para pemuda memanfaatkan potensi mereka di segala bidang sembari menekankan: “Kita harus keluar dari kalangan tua untuk memberi jalan bagi para pemuda menuju negara.”

Mantan Mufti ini pernah terlibat skandal ‘fatwa’ halal pasukan keamanan membunuh demonstran pro Mursi dan Ikhwanul Muslimin. Video yang pernah menyebar di Internet sebelumnya pernah menampilkan Mufti Ali Jumaah yang menyebut Ikhwanul Muslimin sebagai Khawarij, yang berarti bahwa diizinkan untuk melawan mereka dan membunuh mereka.

Syaikh Ali Jum’ah menyebut As Sisi dan pendukungnya bahwa mereka mendapatkan dukungan dari Rasulullah dan wali-wali Allah. Mufti Mesir ini lupa bahwa khawarij adalah orang yang memberontak dengan kekuatan militernya, Adul Fattah As Sisi yang di ebohkan oleh sang mufti dengan kata kata melecehkan agama Islam, kalau Abdul Fattah As Sisi Wali Allah yang didukung Nabi Muhammad, sebuah kebohongan Besar ulama Mesir yang menjilat

AS SISI INGIN MENGULANG SEJARAH PEMBOKONGAN GAMAL ABDUL NASHR

Ssejak Jatuhnya Morsi , ruangan tahanan di Mesir merupakan laboratorium khusus pembantaian, yang dilakukan kelompok As Sisi . Laman situs berita RNN, 26 Maret 2013, mempublikasikan sebuah surat yang ditulis oleh salah seorang tahanan Penjara Azzula Militer Ismailiyyah yang menceritakan tentang perbuatan kejam yang dilakukan terhadap tahanan politik dan penduduk Sinai di dalamnya.

Di antara isi surat tersebut adalah:

Siksaan dilakukan dengan mencurahkan air dan minyak panas serta kejutan listrik kepada tahanan. Terdapat juga tahanan yang diikat kaki serta tangan dalam satu ikatan selama berbulan-bulan.

Banyak di antara tahanan tersebut yang tidak bersalah mati terbunuh akibat siksaan yang sangat berat.

Sebagian tahanan mengalami lumpuh fisik.

Seorang tahanan yang bernama Ayyub dari Sinai yang berumur 12 tahun dituduh meledakkan sebuah tangki dan ayahnya dibunuh.

Seorang yang lain namanya Umar berumur 16 tahun daripada Zagazig juga diperlakukan sama
Toilet hanya dibolehkan untuk dimasuki sekali saja sebelum Subuh. Setiap 3 orang diberikan masa hanya selama 5 mieit bagi 4 tandas dan setiap kali ingin memasukinya, mereka akan dipukul.

Makanan sangat sedikit dan tidak mencukupi (hanya roti dan mie instan)
Tidak ada lampu di dalam sel. Keadaan menjadi gelap sepenuhnya sejak Maghrib sehingga Subuh.

Sebagian di antara tahanan tetap dimasukkan ke dalam penjara meskipun kasus mereka telah dirujuk ke pengadilan.

Terdapat banyak juga anak-anak kecil terbunuh.

Ketika penyidikan dijalankan, tahanan akan dibawa ke bangunan lain di dalam kamp yang sama dengan tangan diikat ke belakang serta mata ditutup. Kemudian akan dimulai siksaan yang di antaranya menggunakan air dan minyak yang mendidih seperti disebutkan di atas. Sebagiannya akan didatangkan bersama isteri-isterinya untuk dipaksa mengaku mengikut keinginan penyidik.

Terdapat satu bagian di dalam penjara khusus untuk wanita dan Anda bisa mendengar jeritan mereka.

PBNU: VONIS PENGADILAN MESIR ADALAH GENOSIDA

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menganggap vonis mati yang dijatuhkan pengadilan Mesir kepada 529 aktivis Al-Ikhwanul Muslimin di Mesir jelas merupakan ‘genosida’ yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Pendapat ini diungkapkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Maksum Machfoedz, yang juga Ketua Badan Halal NU (BHNU), saat dihubungi media nasional, pada Selasa siang (25/3) melalui email.

PBB HANYA BISA MENILAI PENGADILAN MESIR MELANGGAR HUKUM HAM

Tidak ada tindakan khusus dari PBB, melainkan hanya bisa sekedar menilai sikap penguasa Kudeta Militer Mesir melakukan kekejaman serius terhadap bangsanya sendiri, sekain sekedar pernyataan pelanggaran HAM oleh Pemerintah Mesir. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan, keputusan sebuah pengadilan di Mesir yang menghukum mati 529 anggota Jamaah Ikhwanul Muslimin melanggar hukum hak asasi manusia. Juru bicara untuk Komisaris Tinggi PBB bagi masalah Hak Asasi Manusia, Navi Pillay, mengecam pengadilan massal yang dilakukan secara terburu buru tersebut.

“Tidak pernah terjadi dalam sejarah begitu banyak orang dihukum dalam satu waktu,” kata Rupert Colville hari Selasa, 25 Maret 2014, seperti dikutip BBC.

Juru bicara kementerian luar negeri Amerika Serikat, Marie Harf, mengatakan Washington sangat khawatir dan terkejut atas vonis pengadilan hari Senin yang tidak masuk akal tersebut.

Dunia mengakui kalau di Mesir ada “Genosida’, tetapi dunia tak bisa berbuat apa, membiarkan Mesir berjalan tanpa hati dan mata, membunuh bangsanya sendiri untuk kepentingan para Petualang politisi Mesir yang gila jabatan .

PESTA MEDIA SEKULER DAN NON MUSLIM MESIR ‘RAYAKAN’ VONIS MATI 529 ANGGOTA IKHWAN

Bukan pesta rakyat menyambut tumbangnya Husni Mubarok, tetapi perang agama DiMesir telah di mulai, kelompok kelompok sekuler dan Non Islam di Mesir berbangga ria menyambut vonis mati yang dijatuhkan pemerintah Mesir kepada anggota Ikhwanul Muslimin , Ucapan tahinah atas vonis mati datang dari para pemimpin Media Sekuler dan Non Muslim sebagai berikut :

Moussa mengecam organisasi HAM yang telah menyerang peradilan, mengatakan bahwa tugas mereka adalah membela HAM dari Ikhwanul Muslimin, sementara mereka lupa tentang orang lain.
Menanggapi kritik terhadap hukuman mati yang diberikan kepada ratusan orang, ia berkata, “Semoga yang dihukum mati menjadi 10.000, 20.000, bukan 500. Kami sama sekali tidak bersedih, justru kami senang.”

“Bakar mereka, bakar tubuh mereka, bakar pakaian mereka,” lanjutnya. “Negara akan menang menurut aturan hukum dan tidak dengan kekerasan,” pungkasnya dengan paradox

Sedangkan penyiar lain Rania Badawy, dari acara “Fil Maidan” (Dalam Lapangan) yang disiarkan di stasiun TV swasta Tahrir, dibuka dengan mengatakan, “Hari ini, kita mendapatkan keadilan, keadilan yang kita inginkan. Kami lelah dengan kekerasan yang Anda buat (pendukung Ikhwan, re). Kami akan membangun negara meskipun ada perang dari Anda.”

Badawy menggunakan bahasa yang sangat religius dalam acaranya untuk mengecam Ikhwanul Muslimin, mengatakan bahwa mereka (Ikhwan) dapat melakukan apa yang mereka inginkan, tapi Tuhan ada untuk melindungi kita. Itulah kebanggaan yang tercermin dari media sekuler dan non muslim Mesir merayakan vonis mati oleh Pemerintah Mesir.

PM TURKI RECEP TAYYIP ERDOGAN MENGKRITIK BARAT KARENA DIAM ATAS VONIS MATI DARI 529 ANGGOTA IKHWANUL MUSLIMIN DI MESIR

” Mereka telah menjatuhkan hukuman kepada 529 anggota Ikhwanul Muslimin dengan hukuman mati sedangkan Hukuman mati tersebut tidak sesuai dengan undang-undang hak asasi manusia dan aturan Uni Eropa. Lalu mengapa Eropa begitu diam terhadap keputusan ini? “

PIMPINAN PARTAI AN NUR MESIR SETUJUI PEMECATAN POLISI BERJENGGOT

Ada salafi anti jenggot di Mesir, mendukung pemecatan para polisi yang berjenggot, “salafi gadungan tentunya bercokol di Mesir” lalu seorang aktivis Gereja Menanggapi komentar pimpinan Partai Salafi An-Nur tersebut, Romy Jan, pendiri “Gerakan Kristiani Anti-Kudeta” menulis dalam akun Facebooknya, “Partai Salafi An-Nur dalam menanggapi pemecatan polisi berjenggot hanya mengatakan bahwa permasalahan Mesir lebih besar dari sekadar jenggot, semua pihak harus taat hukum. Oh.. oh.. mudah sekali partai ini berubah warnanya. Dulu, di masa Presiden Mursi, kalian dukung mati-matian polisi-polisi berjenggot itu. Kalian serang habis-habisan Presiden Mursi. Sekarang kalian katakan bahwa pemecatan mereka boleh-boleh saja.” [ sikap salafi yang memalukan]

AFSEL TOLAK UTUSAN REZIM KUDETA MESIR DI PEMAKAMAN MANDELA

Pemerintah Afrika Selatan tidak memperkenankan hadirnya utusan penguasa kudeta di Mesir dalam upacara penghormatan Nelson Mandela. Namun beberapa sumber media menyebutkan bahwa pemerintah Afrika Selatan menyatakan menolak kehadiran utusan pemerintah kudeta Mesir dalam upacara tersebut. Alasannya, Mesir saat ini masih dalam status menggantung terkait keanggotaannya dalam Uni Afrika menyusul kudeta militer 3 Juli silam.

KHAWATIR DITANGKAP, MANTAN MUFTI MESIR BATALKAN KUNJUNGAN KE INGGRIS

Syeikh Ali membatalkan kunjungan itu berdasarkan nasihat yang diberikan oleh beberapa badan advokat Mesir yang memberi peringatan kemungkinan beliau akan ditangkap setibanya di ibu negara Inggris, London. Sementara media-media Inggris pula melaporkan beberapa warga Mesir dan badan hak asasi manusia yang menetap di sana telah mengemukakan dakwaan kepada badan perundangan untuk mendakwa pimpinan kudeta,pemimpin-pemimpin agama di Mesir yang menyokong penyembelihan-penyembelihan yang terjadi di Mesir. Sikap Mantan Mufti Mesir ini menyadari sikapnya yang mendukung “Genosida di Mesir.

ULAMA SALAFI SAUDI KRITIK KERAS KEBIJAKAN PARTAI AN NUR MESIR

Seorang ulama Saudi beraliran Salafi, Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Asy Syarif mengkritik pernyataan resmi dari organisasi Dakwah Salafiyah (sayap dakwah Partai An Nur) yang berpusat di wilayah Iskandariah Mesir yang terang-terangan meminta rakyat Mesir menyatakan persetujuan dengan draf perubahan Undang-undang yang diusulkan oleh rezim kudeta Mesir. Dalam pernyataan melalui laman media sosialnya, beliau berkata, “Saya mengikuti perkembangan bahwa para masyayikh Dakwah Salafiyah di Iskandariah setuju dengan draf Undang-undang kudeta yang penuh dengan maksiat dan kejahatan di dalam mesyuarat Majlis Syura mereka. Saya ingin katakan: Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Pernyataan Tokoh Salafy lainnya menyatakan : “Di mana akidah wala’ dan bara’? Di manakah kasih dan marah semata-mata karena Allah? Saya membaca pernyataan Dakwah Salafiyah itu, maka segera sebagian saudara Dakwah Salafiyah menuduh saya tidak memahami suasana internal Mesir dan tidak tahu apa yang terjadi dalam bilik yang tertutup (berkenaan Undang-undang kudeta).”

Demikian kekecewaan seorang ulamak aliran Salafi dengan Dakwah Salafiyah di Iskandariah yang dipimpin antaranya Syaikh DR. Yasir Burhami.

Disamping seorang Pengamat gerakan dakwah, Abdul Malik mengatakan, “Saya bukan ingin memecah belah antara kelompok atau mengompori Wahabi atau tidak Wahabi. Ini karena masih banyak golongan yang mendakwa diri mereka Salafi seperti Parti Ashalah, Fadhilah dan Rayah telah menolak kudeta ini. Tokoh-tokoh gerakan Salafi lain seperti Syeikh Muhammad Hasan dan Syeikh Abu Ishaq Huwaini juga terang-terang memberikan sokongan kepada Presiden Mursi.

Kecuali segelintir Dakwah Salafiyah yang telah “mufaraqah” dalam isu ini lalu mereka mengasingkan diri dari pendirian sebagian besar rekan-rekan mereka.”
Memang sikap memalukan seorang Salafi yang menjilat kekuasaan di mesir tidak sejalan dengan Wala dan Bara’ yang menjadi titian beraqidah Salafi, Manhaj salaf tak membenarkan menjilat kekuasaan.

MUHAMMADIYAH DAN SOLI: KEMBALIKAN MANDAT MURSI!

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan 17 organisasi kemasyarakatan (Ormas) lainnya, yang tergabung dalam Silaturahm Ormas-Lembaga Islam (SOLI), mendesak agar pihak militer Mesir mengembalikan mandat kepada Mohmmad Mursi kembali sebagai presiden negeri piramida itu.
Sikap tersebut disampaikan Imam Sukarjo dari PP Parmusi, yang juga merupakan anggota SOLI, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta
Sikap tersebut disampaikan PP Muhamadiyah dan 17 Ormas lainnya, karena menilai Mursi terpilih sebagai Presiden Mesir melalui pemilu yang demokratis, yang telah disaksikan dan diakui oleh dunia internasional. Pemilu itu juga sekaligus peralihan dari pemerintah militer (di bawah pimpinan Housni Mubarrak) ke pemerintah sipil.
"Kudeta militer terhadap Presiden Mursi merupakan penghianatan terhadap demokrasi atau kedaulatan rakyat," tegasnya.
Mesir merintih membaca nasibnya yang tak kunjung usai dari jerat pemerintah Militer Mesir yang rakus kekuasaan, membuat mata mata pendukungnya menatap bangga, berkaca kaca, menyambut jatuhnya Morsi. Entah kapan Mesir akan kembali bangkit setelah kaki militer menjejakan kembali sebagai penguasa, belum saatnya rakyat Mesur tertawa.

TOKOH UTAMA PENDUKUNG KUDETA MILITER DI MESIR TERNYATA SYIAH

Salah satu actor Intelektual utama pendukung kudeta militer yang terjadi di Mesir, Mohamed El Baradei, telah menyatakan bahwa dirinya berkeyakinan Syiah. Bisa di bayangkan, hanya seorang El Baradei bisa menjadi tokoh berpengaruh melancarkan kudeta atas Morsi di Mesir, ini tentunya perlu menjadi pelajaran Bangsa Indoensia kedepan untuk tidak terpancing dengan kelicikan Syiah yang akan membahayakan bangsa dan Negara, keimanan muslim akan terkikis habis, hingga benar benar murtad, tak lagi bersisa, melainkan hanya baju muslim saja.

[koepas]
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Aktor Intelektual Syiah Dibalik Genosida Ala Mesir Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah