728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 12 April 2014

Parpol Islam Jadi Oposisi ? Mengapa Tidak!

Grafik hasil perhitungan cepat pemilu 2014

MUHARRIKDAKWAH - Pernyataan, Fahri Hamzah, dalam dialog pada salah TV swasta pasca pemilihan umum 9 April 2014 belum lama ini menarik untuk disimak dan dipertimbangkan oleh partai Islam dan partai Islam berbasis Islam. Pada kesemapatan itu Fahri Hamzah mengatakan bahwa “Jika sulit untuk membangun koalisi PKS mempertimbangkan untuk menjadi oposisi”

Terlepas apakah pernyataan itu serius atau hanya sekedar melontarkan ide, namun pernyataan itu layak dikanjidan direnungkan oleh pimpinan parpol Islam yang hingga saat ini belum pernah menjadi pemenang Pemilu sejak dilakukan pemilihan umum di Indonesia.

Apa untung ruginya jika parpol Islam dan berbasis Islam memilih menjadi oposisi. Boleh jadi akan lebih terhormat jika parpol Islam menolak tawaran berkoalisi dengan parpol sekuler yang hanya menawarkan satu dua posisi menteri. Sebab jika parpol Islam kemaruk dalam kekuasaan bukan tak mungkin keetika kekuasaan itu hancur maka ia ikut jatuh.

Jadi pernyataan Fahri Hamzah itu layak dipertimbangkan. Untuk tak buru-buru masuk dalam gerbong koalisi yang belum tentu disukai oleh rakyat pemilih. Parpol Islam baru boleh mengambil kekuasaan jika sudah menjadi mayoritas tunggal di parlemen.

Untuk menjadi mayoritas tunggal, akan lebih mudah untuk mencapainya jika tak terlibat dalam kekuasaan. Sebab kekusaan cederung korup dan tak jarang melakukan pelanggaran hak-hak rakyat. Nah disaat pemerintah melakukan hal hal yang melanggar parpol Islam tampil sebagai pembela rakyat. “Tak ada beban jika memberikan kritik keras kepada pemerintah karena tak masuk dalam bagian pemerintah.

Lima tahun waktu yang cukup untuk membangun kepercayaan publik kepada Parpol Islam. Tentu dengan catatan, porpol Islam harus benar-benar kritis dalam setiap pengawasan kebijakan pemerintah. Tidak melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme. Tunjukkan bahwa Parpol Islam mampu membangun diri tanpa harus ada di lingkar kekuasaan.

Tak dapat dipungkiri, kekuasaan itu cenderung korup. Oleh karena itu akan lebih elegan jika Parpol Islam melakukan kontrol pada setiap kebijakan pemerintah yang tak berpihak kepada rakyat. Sebab tak ada beban dan ewuh pakewuh.

Sebaliknya, parpol Islam akan sulit melakukan kontrol jika parpol Islam adalah bagian dari penguasa. Sebab akan terjadi benturan kepentingan anta menteri yang berasal dari parpol Islam dengan anggota legislatif yang mengkritisi kebijakan pemerintah. Dan itu yang kita saksikan pada Kabinet SBY, dimana parapol yang berkoalisi dengan parpol penguasa sulit untuk mengkritisi kebijakan pemerintah.

Berulangkali PKS disebut sebagai anak nakal dalam tubuh koalisi karena sering tak sejalan dengan kebijakan penguasa. Misalnya soal kenaikan gas maupun BBM. PKS malah justru berseberangan dengan pemerintah yang ingin menaikkan harga gas dan BBM.

Jika Parpol Islam tak mendapat posisi yang layak dalam koalisi sebaiknya dipikirkan untuk menjadi oposisi. Pilihan itu agaknya sangat tepat untuk kembali membangun citra Parpol Islam.” Jangan dulu ambil kekuasaan sebelum kuat dan dapat sebagai mayoritas tunggal di parlemen.*** [Dakta]
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Parpol Islam Jadi Oposisi ? Mengapa Tidak! Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah