728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 17 May 2014

Ipar Mantan PM Inggris Tony Blair Masuk Islam, Bukan Masuk Syiah

Foto: presstv

MUHARRIKDAKWAH - Semua warga Inggris pasti mengenal Tony Blair. Ya, dia adalah mantan Perdana Menteri Inggris. Namun bukan Blair yang dibahas, melainkan iparnya, Lauren Booth.
Saat itu warga Inggris heboh dengan kabar masuk islamnya Booth. Laurent dituduh menganut Syiah karena ia berganti agama setelah melakukan perjalanan ke Iran.

Akan tetapi ia kemudian mengirimkan sebuah surat kepada publik yang dimuat pada sebuah harian Daily Mail. Surat itu berisi bantahan soal ia masuk Syiah tersebut. Lauren yang bekerja di koran Inggris ‘Daily Mail’ dan stasiun televisi Inggris ‘Press TV’ di London, melalui kontak telepon dengan koran “Al-Quds Al-Arabi”, mengatakan, “Saya telah memeluk Islam dan tidak pernah mengatakan saya mengikuti sekte Syiah atau lainnya, saya tidak tahu kenapa terjadi pembelokan berita yang jelas dinyatakan dalam pers dan tidak ada kesamarannya.”

“Saya belum masuk Islam ketika di Iran, meskipun saya katakan dalam pernyataan, saya masuk Islam setelah kembali dari perjalanan ke Iran,” tegasnya lagi.

Ia juga menulis tentang rasa syukurnya menjadi seorang muslimah. Surat tersebut terdiri dari beberapa bagian. Dan berikut ini kutipan surat bagian ke-2.

“Bagaimana tentang perjalanan spiritual? Itu tak pernah terjadi pada saya. Meskipun saya suka berdoa dan sejak kecil sudah mendengar cerita tentang yesus dan para nabi sebelumnya. Saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat sekuler.

Mungkin apresiasi saya tentang budaya islam, terutama pada wanita muslimah. Perempuan Islam yang saya lihat di inggris selalu menutup seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, kadang berjalan dibelakang suami mereka, dengan anak-anak berbaju panjang disekitar mereka. Ini sungguh kontras dengan kondisi wanita profesional eropa yang pada umumnya sangat memperhatikan penampilannya. Saya, misalnya sangat bangga dengan rambut pirang saya, dan ya, belaham dada saya, Ini seolah menjadi jualan utama kami.

Saya mulai bertanya-tanya seberapa banyak penghormatan bagi gadis-gadis dan perempuan dalam masyarakat bebas kita.

Pada tahun 2007 saya pergi ke Lebanon. Saya menghabiskan waktu empat hari bersama para mahasiswi disana, sebagian dari mereka menggunakan cadar, mereka tetap menawan serta mandiri, dan bebas berpendapat. Suatu waktu mereka menemani saya mewancarai seorang syaikh yang disebut-sebut dekat dengan milisi Hizbullah. Saya sangat terkejut tentang bagaimana dia memperlakukan para gadis yang menemani saya ini. Saat Syekh Nabil yang menggunakan surban dan jubah coklat berbicara tentang topik yang menantang tentang pertukaran tawanan, mereka tergelitik untuk angkat bicara. Mereka bebas bertanya dan menyatakan apapun, termasuk angkat tangan untuk menyela sang Syekh yang tengah berbicara.

Ada hal lain yang berubah kemudian. Semakin banyak waktu saya habiskan di timur tengah, semakin sering saya minta diatar kemesjid. Hanya untuk kepentingan pesiar, begitu selalu saya meyakinkan pada diri saya, walaupun faktanya, saya mendapatkan lebih dari sekedar wisata belaka.

Saya melihat warga muslim di sana duduk begitu saja dengan anak-anak bermain disekitarnya, beberapa memakan bekal mereka, dan wanita tua duduk diatas kursi roda. Mereka membaca Al-Qur-an. Mereka membawa kehidupan mereka ke masjid, dan membawa masjid kedalam rumah-rumah mereka.

Dan tibalah suatu malam saat saya mengunjungi kota Qom, sama seperti perempuan lainnya di sana, tiba-tiba saya bergumam nama Allah beberapa kali, ketika memegang pagar makam Fatimah. Ketika saya duduk sebuah kenikmatan spiritual menyergap saya, bukan kenikmatan yang seolah-olah mengangkat kita dari tanah, tapi kenikmatan yang memberi kedamaian penuh. Saya duduk disana untuk waktu yang lama. Seorang wanita muda di samping saya membisikkan, ‘Sesuatu keajaiban terjadi pada Anda”. Ya, saya tahu saya bukan lagi ‘turis dalam Islam’. Tapi pengembara di dalam umat, bagian dari komunitas muslim dan terkait dengan seluruh muslimin.

Untuk pertama kalinya saya merasakan ingin lari dari situasi ini, karena beberapa alasan. Apakah betul saya sudah siap berpindah agama? Apa yang akan ada dalam pikiran teman-teman dan keluarga kalau saya menjadi muslim? Apakah saya siap untuk mengubah banyak hal dalam perilaku keseharian saya?

Dan terjadilah hal yang benar-benar aneh. Saya tidak merasa khawatir tentang hal-hal itu. Karena entah bagaimana menjadi seorang muslim sangat mudah. Meskipun masalah yang akan saya hadapi sangat berbeda, tentu saja. Untuk memulai, Islam menuntut banyak belajar, namun saya adalah ibu dari dua anak dan bekerja penuh waktu. Kita diharapkan untuk membaca Al-quran dari awal hingga akhir, ditambah dengan bertemu imam dan segala macam aturan bagi orang yang tercerahkan. Kebanyakan orang akan menghabiskan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum menyatakan keislamannya. Dan saya bisa melewatinya.” [dul/
Islampos/nabawia]
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ipar Mantan PM Inggris Tony Blair Masuk Islam, Bukan Masuk Syiah Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah