728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 17 May 2014

Pilpres dan Pilihan NKRI




MUHARRIKDAKWAH - Putaran pelaksanaan pemilihan umum presiden (Pilpres) yang digelar 9 Juli 2014 tinggal satu bulan lebih. Panasnya suasana menjelang pendaftaran capres-cawapres hawanya sudah sangat terasa. Bahkan beberapa partai politik (Parpol) sudah mengambil sikap untuk berkoalisi bahkan sudah dideklarasikan.

Seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menjagokan Joko Widodo. Langkah ini jauh hari sudah dilakukan Partai Nasional Demokrat (Nasdem), yang juga bergabung ke PDIP.

Koalisi juga ditunjukkan oleh Partai Amanat Nasional (PAN). Partai berlambang matahari ini merapat ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), di mana mengusung Prabowo Subianto menjadi capres-nya. Disusul dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga memperkuat koalisi Gerindra dan PAN. Bahkan informasi terakhir, Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa ‘dipastikan’ berpasangan dengan Prabowo Subianto.

Sedangkan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak mau buru-buru ambil sikap terkait adanya duet Prabowo dan Hatta Rajasa yang akan maju di Pilpres 2014 nanti. PKS mengaku masih menjajakan komunikasi politik dengan partai mana pun.

"Ya, coba nanti kita lihat. Yang jelas kita, kita kan berbicara dalam konteks koalisi kita berharap bahwa kita semua diajak bicara. Dari awal kita bicara agar koalisi ini jangan sifatnya transaksional jadi kita duduk di meja, bicarakan bersama," ujar anggota Majelis Syuro PKS, Tifatul Sembiring, di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (14/5/2014), dilansir dari detik.com.

Tifatul mengatakan, PKS akan melakukan pembicaraan dengan Gerindra. Bagi Tifatul, koalisi bukan hanya sekedar untuk gagah-gagahan.

"Kalau Hatta jadi cawapres, ya kita bicara. Ya jangan bagi-bagi kekuasaan seperti itu karena kita berkoalisi ini kan untuk menang bukan gagah-gagahan," ujarnya.

Saat disinggung bagaimana hubungan PKS dengan Gerindra, Tifatul mengatakan, akan menunggu konvensi. Dia menjelaskan komunikasi politik kepada Gerindra masih terus dilakukan. "PD ketika kita tanya, tunggu konvensi, baru sebatas itu. Kalau dengan Gerindra, kita sudah bahas akan bangun bangsa ini seperti apa. Diputuskan di majelis syuro," ucapnya.

Direktur Eksekutif PolcoMM Institute, Heri Budianto, membeberkan peta koalisi dan risiko bagi partai politik di pemilihan presiden dan wakil presiden Juli 2014 mendatang. Menurutnya, ada beberapa skenario yang akan terjadi di luar koalisi PDIP, Nasdem, dan PKB.

Pertama, koalisi Gerindra dan Golkar. Koalisi ini bisa terjadi jika Golkar menyodorkan kader lain sebagai calon wakil presiden Prabowo Subianto. Namun jika Golkar tetap menyodorkan calonnya sebagai cawapres bagi Prabowo, maka kemungkinan besar parpol lain akan menarik diri.

"PAN dan PKS kemungkinan besar akan menarik diri dari kubu Gerindra," kata Heri dalam diskusi Pasca Real Count, Kemana Arah Parpol di Jakarta, Minggu, 11 Mei 2014.

Peta kedua, koalisi Gerindra, PAN, dan PKS. Koalisi ini akan terwujud jika Gerindra batal berkoalisi dengan Golkar. "Kans terbesar yang akan diajukan berpasangan dari koalisi ini adalah duet Prabowo-Hatta (Ketum PAN Hatta Rajasa)," ungkap dia.

Peta koalisi ketiga yakni Demokrat, PAN, dan PKS. Jika Gerindra tetap bersama Golkar, maka peluang munculnya poros baru yang dipimpin oleh Demokrat akan disambut baik oleh PAN dan PKS.

"Terbentuknya poros ini bukan tanpa alasan. Sebab, dengan perolehan suara 10 persen, Demokrat lebih percaya diri untuk mengusung capres sendiri. Pasangan capres-cawapres yang akan diusung kemungkinan besar Hatta-Pramono Edhie atau Hatta-Dahlan Iskan," katanya, seperti dikutip dari vivanews.com.

Kalaulah hal ini terjadi, pilpres kali ini sungguh asyik diikuti dan menggelitik siapa saja, khususnya pecinta dunia politik Tanah Air.

Pertarungan Cukong

Ada informasi yang tidak sedap didengar telinga penulis. Tidak hanya bagi capres-cawapres saja yang bertarung. Pilpres ini juga disebutkan ajang pertarungan cukong-cukong besar Tanah Air, khususnya di Jakarta.

Dengan berbagai kekuatan, mulai dari finansial, jumlah karyawan perusahaan. Cukong-cukong besar ini bela-belaan mendukung pasangan capres-cawapres yang akan bertarung dalam pilpres nanti.

Jika ini sudah dipastikan, cukong tersebut tidak akan berpijak satu kaki (pasangan, red). Andai ada capres-cawapres dua atau tiga pasang, cukong ini juga akan berpijak kepada calon yang lain. Artinya, siapa yang menang, mereka juga ikut menang. Tidak ada kekalahan, meski telah mengeluarkan biaya besar untuk mendukung pasangan capres-cawapres.

Tapi yang perlu diingat, presiden dan wakil presiden ke depan hendaknya memiliki prinsip yang tegas dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi)-nya. Kalaulah mencla-mencle dalam memimpin, Rebublik Indonesia (RI) akan semakin hancur, karena pemimpin ke depan bisa jadi boneka para cukong-cukong.

Apakah kita mau ‘tergadai’ oleh kepentingan-kepentingan penguasa atau mungkin kita harus berdiam diri dengan yang akan terjadi. Mari sama-sama kita renungkan dalam memilih presiden dan wapres periode 2014-2019.

Pilihlah yang terbaik untuk bangsa dan Tanah Air. Kepada pemimpin bangsa, tumbuhkan semangat nasionalis membangun negara ini. Jadikan bangsa ini jangan sampai terkotak-kotak, tumbuhkan rasa kebersamaan, saling hormat-menghormati dan rasa senasib sepenanggungan. Satu sakit yang lain juga merasakan sakit, begitu juga sebaliknya di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.





Penulis: Amril Jambak
Wartawan di Pekanbaru, Riau, sekaligus peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia




____
detik.com
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Pilpres dan Pilihan NKRI Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah