728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 3 May 2014

Sepenggal Firdaus di Bumi Indonesia



By: @NandaKoswara


MUHARRIKDAKWAH - Hal yang paling kamu senangi dari pantai bukannya ombak, tapi langitnya, apalagi di sore hari. Perahu kecil yang dengan istilah lain disebut sampan melenggang pelan diantara kanan dan kiri hutan bakau di muara, kamu melaju menuju tempat yang sebelumnya kamu tidak tahu itu apa, tapi indah. Seisi sampan mulai diam, mulut masing-masing disekap oleh pemandangan yang cantik, secantik pengantin yang sudah dinikahi dan halal bagi seorang lelaki, bahkan lebih. Mataharinya, rimbun bakaunya, angin sorenya, berhasil membuat kamu senyum-senyum sendiri, senyum tanda syukur bahwa kamu masih diberi waktu dan umur untuk menikmati ini semua.

“Apakah banyak orang yang kesini?” kamu coba membuka dialog.
“Tidak banyak”
“Tempat sebagus ini?”
“Mungkin kurang promosi”
“Bisa jadi sih, punya website?”
“Ada”
“Sosial Media?”
“Hmm.. belum sih ya”

Kamu tidak sempat berkenalan dengan orang yang menjawab pertanyaan pertanyaan mu, waktu kamu habis buat sekedar melihat warna senja di air hasil pantulan matahari sore yang memukau, atau menikmati udara sore yang bersahabat, sisanya kamu habiskan mencelupkan tangan ke air yang kamu penasaran berulang-ulang pada jarak jarak tertentu, apakah rasanya asin, payau atau tawar.

“Kita sampai ?”
“Iya, ini dia tempatnya”
“Masya Allah .. “
Kamu diam agak lama sebelum menanyakan sesuatu lagi.
“apakah bapak tau sesuatu tentang Keindahan Indonesia?”
“Saya pernah ke lombok”
“Ketemu fahri Hamzah ?”
“Bukan, ada program tentang mangrove juga disana”
“Cantik ya lombok itu ?”
“Cantik kan isteri saya”

Kamu jadi banyak diamnya kalau sudah melihat yang seperti ini. Hutan bakau yang rimbun, diselingi beberapa home stay, tempat makan sea food, kamu setengah tidak percaya kalau di pelosok seperti ini ada tempat yang wajahnya lebih bagus dari wajah calon presiden dari partai merah. Aaaaakkk, ini pasti efek pencitraan dimana-mana, tiang listrik juga jadi mirip capres tersebut. Kamu tidak ingin merusak suasana, diam adalah pilihan, hanya berbicara yang penting-penting saja seperti menanyakan dimana tempat untuk pipis dan membersihkan diri, bahkan foto-foto saja tidak.

“Aduh pak, saya senang, tempat ini bagus”
“Allhamdulillah .. allhamdulillah..”
“Bapak, yakinlah bisa selalu menjaga tempat ini, karunia ini”
“Saya tidak yakin..”

Sembari melihat ke laut lepas dia berkisah tentang... bukan, bukan isterinya yang cantik, tapi tentang tempat yang saat ini kaki kamu menginjak diatasnya.

“Kita disini sepenuhnya ikut dengan kebijakan kebijakan pemerintah, kebijakan politik, jadi sedih kalau ada nelayan yang masih apatis tentang politik, kan seharusnya tidak begitu, kan sedikit banyaknya peraturan untuk kami disini berkaitan langsung dengan kebijakan politik. Coba lihat, jalan di depan itu diblokir karena ada salah faham. Kalau tidak diblokir, kita tidak perlu bersampan kemari, cukup parkir dan jalan kaki sebentar”
“Ada apa sebenarnya pak .. ?”
“Kamu tau Indonesia di kepemimpinan sebelumnya ?”
“Ya, sedikit “
“ kapal tanker dijual ke asing, satelit di jual, pulau di jual, tambang asing di tanah kita, bumi kita Indonesia, laut punya kita dan asing yang mengebornya, saya rasanya tidak sanggup lagi untuk meyakini hal hal yang gemilang untuk Negeri saya ini”

Kamu hanya mendengar dan tidak banyak bicara, selain menikmati senja, yang kamu kerjakan hanya mendengar dan berbicara sedikit yang penting penting, seperti menanyakan apa menu makan malam hari ini dan apakah ada kepiting bakau yang terkenal itu, yang enak kalau di buat asam manis kecut itu, hanya itu saja.

“Kita disini bersyukur ada bantuan buat Kelompok Usaha Bersama”
“KUBE?”
“Iya”
“Dari Kementrian Sosial?”
“Betul”
“Hmm.. hari ini mata saya merekam sepenggal firdaus, pak. Bagaimana para nelayan di sekitar muara tadi duduk melepas lelah sehabis menangkap ikan, dan kemudian isterinya datang mengantarkan kopi setengah panas. Tapi dibalik itu semua, dibalik yang indah indah itu saya getir, tentang harga solar mereka yang apakah bisa stabil harganya maupun persediaanya, tentang bantuan hukum dari pemerintah kalau kalau saja mereka dengan segala keterbatasan nya melewati batas negara dan ditangkap polisi malaysia, tentang pendidikan anak anak mereka, apakah bisa mengaji, apakah ada guru ngaji, apakah sekolahnya baik, apakah guru sekolahnya mengajar dengan baik”

“Mari, saya tunjukan sesuatu”

Kamu lalu berjalan mengikuti pemandu, setiap langkah penuh lafadzh hamdallah karena punya kesempatan berada disini. Kamu terus berjalan, merekam sekeliling dengan mata, hati dan telinga. Kamu menyadari betapa besar peran orang-orang baik yang mau menjaga tempat ini. Sekecil apapun upaya mereka menjaga, mereka tetap berhasil menjadi hatinya Indonesia, otaknya Indonesia, dan tulang punggungnya Indonesia.

“Lihat, ada laut dan warna matahari sore serta gundukan pasir yang menyerupai pulau, ada sejenis unggas yang setiap sore hadir disana seperti memulai pertunjukan”
“Masya Allah .. “
“Setenang hati saya melihat dan menjaga ini semua tidak bisa dibandingkan dengan perasaan terhadap apa yang para pengatur kebijakan lakukan diluar sana”
“Apakah itu seperti memikirkan kelakuan para Tikus dibalik gambar banteng, dan rayap penggerogot di balik gambar pohon beringin?”
“Lebih parah dari itu, maka jangan pernah berhenti menjaga Indonesia, saya titip Indonesia”

Kamu menyelesaikan hari itu dengan tampan, tidur di atas pasir melihat cakrawala tanpa ada warna lain selain warna firdaus, warna dari syurga. Menunggu adzan maghrib dan shalat di tepian samudera, menekuk lutut dan kadang selonjoran. Inilah negeri yang harus dijaga, inilah tanah yang harus dibela, Inilah sepenggal firdaus di bumi, bernama Indonesia.


*Ditulis Nanda Koswara, 3 Mei 2014 di Galang, Sumatera Utara yang sering mati lampu
Follow @NandaKoswara on Twitter


[pksnongsa]
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Sepenggal Firdaus di Bumi Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Unknown