728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Sunday, 22 June 2014

Dengan Apa Kita Saingi Mereka



Oleh : Irsyad Syafar, Lc, MEd


MUHARRIKDAKWAH - Betapa beruntungnya orang-orang yang tinggal di sekitar Masjid Nabawi. Setiap waktu shalat mereka bisa shalat berjamaah di masjid tersebut. Satu kali shalat saja mereka berjamaah di situ, lebih baik dari 1000 shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram tentunya. Kita butuh shalat berjamaah tiada putus selama 200 hari atau enam setengah bulan lebih untuk menyamai pahala satu kali shalat mereka tersebut. Rasulullah saw bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat - atau seperti seeribu shalat – di masjid-masjid tempat lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Muslim)

Kemudian mereka datang shalat ke masjid nabawi dengan berjalan kaki. Karena akses mobil tidak ada ke depan pintu masjid. Rata-rata mereka berjalan kaki setiap kali shalat tidak kurang dari 500 - 1000 langkah pergi dan 500 - 1000 langkah pulang. Ada yang lebih dari itu, bisa mencapai 2000 langkah. Maka sebanyak langkah kaki mereka itu, salah satunya Allah angkatkan derjat dan yang lainnya Allah hapuskan dosa mereka. Itu baru satu kali shalat. Bila 5 kali shalat tentunya angkanya akan berlipat ganda. Kalikanlah dalam sepekan atau sebulan. Rasulullah saw bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang berwudhuk di rumahnya, kemudian ia berjalan ke salah satu rumah Allah untuk menunaikan shalat fardhu, maka langkah kedua kakinya, salah satu menghapuskan dosa dan yang lain menaikkan derjat.” (HR Ibnu hibban di shahihkan oleh Albany).

Lalu mereka juga sangat sering mendapatkan shalat jenazah setiap kali shalat berjamaah. Bahkan kadang lebih dari satu jenazah dalam satu kali shalat. Maka mereka mendapatkan pahala sebesar bukit uhud setiap kali menshalatkan jenazah. Bila tiap hari sampai 3 – 5 kali shalat jenazah, tentu pahala dalam sebulan dan setahun juga tidak terhingga. Rasulullah saw bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, bersabda: “Barang siapa yang menshalatkan jenazah dan tidak mengantarkannya (ke kuburan), maka ia mendapat satu qiirath. Jika ia ikut mengantarkan jenazah tersebut, maka ia mendapat 2 qiirath. Ditanyakan kepada Rasulullah: “Apa itu 2 qiirath?”. Rasulullah menjawab: “Qirath yang paling kecil itu seperti bukit uhud”. (HR Muslim)

Kemudian bila mereka shalat di Masjid Nabawi, mereka juga berkesempatan untuk shalat atau berdoa di salah satu taman-taman sorga, yaitu tempat yang bernama raudhah. Tempat antara rumah (kubur) Rasulullah saw dengan mimbar Beliau. Rasululllah telah bersabda: Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Al Mazinni ra, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Antara rumahku dan mimbarku adalah satu taman dari taman-taman sorga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi menyebutkan dalam keterangannya terhadap hadits ini bahwa shalat atau ibadah di tempat tersebut dapat mengantarkan ke sorga. Pernyataan Imam Nawawi ini tentunya dengan makna yang lebih khusus, sebab semua ibadah pastilah mengantarkan ke sorga. Pengkhususan raudhah oleh Rasulullah saw tentunya mengandung makna kemuliaan dan keagungan. Bila setiap hari fasilitas ini dapat dinikmati sekali saja dari lima waktu shalat, tentunya kemulian semakin banyak bila berlangsung rutin sepanjang bulan dan tahun.

Disamping itu mereka bisa juga setiap waktu shalat menziarahi kubur Rasululllah saw dan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta juga bisa langsung mengucapkan salam kepada Rasulullah dan kedua manusia mulia tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasululllah saw telah bersabda: “Tidak ada seorangpun mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah akan mengembalikan ruhku sehingga aku membalas salamnya.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syekh Albany).

Hadits ini berlaku bagi semua yang mengucapkan salam kepada Rasulullah saw di mana saja berada. Namun menyampaikan dan mengucapkan salam langsung di depan kuburan Beliau tentu menjadi suasana dan nuansa lain.

Disamping keutamaan di atas, masih banyak lagi sampingan-sampingan amal shaleh yang bisa diraih. Sebelum memasuki pagar Masjid Nabawi, banyak orang yang menjual mushaf Al Quran waqaf. Ada yang harga 20 real dan ada yang 40 real. Silakan beli mushaf tersebut, lalu akan diberi stempel waqaf lillah. Lalu letakkanlah mushaf itu di dalam rak Al Quran di Masjid Nabawi. Sepanjang tahun jutaan orang yang umrah dan haji akan membaca mushaf waqaf tersebut. Maka pahalanya akan mengalir tak pernah henti.

Begitu banyaknya kemulian yang Allah berikan bagi orang yang ada disekitar Masjid Nabawi. Tak mudah menyainginya. Apalagi kalau yang berada dekat dengan Masjidil Haram. Shalat di sana lebih baik atau sama dengan 100.000 shalat di tempat lain. Untuk mengimbangi satu kali shalat berjamaah saja butuh 20.000 hari shalat berjamaah di tempat lain atau 54 tahun lebih. Bagaimana untuk menyaingi sepekan shalat mereka? Mereka bisa thawaf tiap hari, berdoa di multazam, shalat di belakang maqam Ibrahim dan di dalam hijir Ismail dan lain sebagainya.

Maka tidak ada pilihan bagi kita yang berada jauh dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kita harus melipatgandakan amal shaleh kita. Menjaga shalat berjamaah di masjid, memperbanyak ibadah sunnah, berinfaq, peduli kepada sesama, giat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan memperbanyak taubat serta meminimalisir dosa dan maksiat. Bila tidak, dengan apa akan kita saingi mereka untuk meraih sorga Allah?

Wallahu A’laa wa A’lam

[kasurau]
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Dengan Apa Kita Saingi Mereka Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah