728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Tuesday, 3 June 2014

Kesaksian Orang Dalam Tentang Jokowi



Berric Dondarrion

MUHARRIKDAKWAH - Sudah cukup banyak mantan pendukung dan pemilih Jokowi yang menyatakan menyesal memilih Jokowi, antara lain warga Fatmawati; Lebak Bulus, Cipete, Sisingamangaraja (Dibohongi masalah MRT); Warga Warakas yang melawan lelang jabatan dan lurah dari Jokowi yang dibalas Jokowi dengan membuat kampanye hitam terhadap Lurah Warakas; pengusaha ritel; warga Waduk Pluit sampai para warga DKI yang menyesali sifat rakus dan ambisius dari diri Jokowi. Silakan disimak beberapa pernyataan dari warga Betawi berikut ini:

- Fajri Husein Ketua Garda Muda FBR menyatakan menyesal memilih Jokowi karena Jokowi malah mencalonkan diri sebagai capres PDIP;

- Syarif Hidayatullah, Sekjend Forkabi mengatakan selama 1,5 tahun di Jakarta Jokowi telah melupakan warga Betawi karena memilih blusukan dan kampanye untuk partainya.

- Mayjend (Purn) Eddie Nalapraya, mantan wagub DKI mengatakan seharusnya Jokowi mencapreskan diri setelah menuntaskan tugas sebagai gubernur selama lima tahun.

- Ridwan Saidi, budayawan senior Betawi mengatakan bahwa bila membohongi warga hal tersebut adalah bawaan lahir dari Jokowi, selain itu di Jakarta, Jokowi justru membunuh orang miskin dan bukannya membunuh kemiskinan.

Yang menarik bahwa sebelum melawan Jokowi, Ridwan Saidi adalah pendukung sekaligus tim sukses Jokowi, namun merasa kecewa setelah melihat sosok di balik pencitraan Jokowi. Ridwan Saidi adalah bukan tim sukses Jokowi pertama yang kemudian berbalik melawan Jokowi; dan dia adalah bukan yang terakhir.

Salah satu mantan pendukung Jokowi yang sekarang melawan Jokowi karena melihat wajah Jokowi yang sebenarnya itu adalah Prijanto, mantan wakil gubernur era Fauzi Bowo/Foke yang mengundurkan diri karena tidak setuju dengan iklim koruptif di pemerintahan Foke, dengan kata lain kredibilitas Prijanto tidak perlu diragukan. Beberapa catatan Prijanto terhadap Jokowi antara lain:

(1) Jokowi membiarkan dan melindungi tindak korupsi seperti kasus bus transjakarta berkarat [Michael Bimo, anggota PDIP Solo terlibat];

(2) Jokowi memimpin DKI seperti tanpa arah termasuk mengatakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah tidak penting [karena Jokowi sudah yakin tahun 2014 akan jadi presiden];

(3) Jokowi tidak pernah memberikan keputusan, petunjuk dan arahan kerja sehingga kadis bingung harus melakukan apa, Jokowi malah selalu buru-buru keluar [blusukan pencitraan demi mengejar target nyapres]:

(4) Banyak staf bingung karena Jokowi dipuji di luar karena dianggap dekat dengan rakyat padahal dengan bawahan bersikap feodalistik [dekat bawahan tidak bisa kasih suara];

(5) Jokowi bukan tipe bertanggung jawab karena "Saya pernah bertanya, mengapa PT. MRT banyak dikendalikan oleh orang Ahok? Jokowi dengan santai menjawab, biarin. Kalau MRT gagal yang salah Wagub, tapi kalau MRT berhasil yang dikenang Gubernur."; dan

(6) Jokowi tidak paham persoalan administrasi, karena banyak berkas menumpuk belum ditanda tangan padahal kalau terkait pencitraan diri, Jokowi cepat sekali. Blusukan atau pendirian stadion di atas taman BMW yang masih bermasalah itu, ternyata Jokowi seperti tidak sabar ingin meletakan batu pertama agar dikenang sebagai Gubernur yang peduli pada rakyat.

Pernyataan Prijanto di atas pada kenyataannya konsisten dengan pernyataan Nanik S. Deyang, wartawan senior yang termasuk lingkar dalam Jokowi namun belakangan menjauhi, lagi-lagi karena melihat sosok Jokowi yang sesungguhnya, di mana Nanik mengatakan di akun facebooknya sebagai berikut:

"Sejak Desember 2012 atau hanya satu bulan setelah dilantik jadi Gubernur DKI, otaknya sudah nafsu mau jadi Presiden. Monorel dipaksakan supaya dalam setahun pemerintahan proyek itu ada dan lihatlah sekarang mangkrak karena ketidakmampuan investor yang ditunjuk. Lihat itu proyek Market Night, beritanya sampai mana-mana sampai ada satu media besar yang mengulas satu halaman apa hasilnya hanya berlangsung beberapa malam saja.

Mau dengar apa yang dia katakan soal MRT oleh Jokowi, 'sudahlah yang penting saya dukir-dukir tanahnya, yang penting kelihatan pembangunannya dimulai' (pembicaraan ada saksinya, jadi bukan fitnah, dan saksinya ada di wall saya). Dan seminggu berikutnya sudah tiga hasil survei di antar stafnya ke kantor saya. Dia mengatakan, 'Mbak gila ini, popularitas saya sudah melebihi SBY. SBY hanya sekitar 64 persen saya sudah 80 persen'.

Bahkan waktu Lebaran hari kedua, dia telpun saya, bahwa saat malam Lebaran sudah ditegur Bu Mega karena ketahuan diam-diam sudah membentuk tim Sukses. Nah, betulkah saya ditelpon Jokowi, kalau Anda mengenal Jokowi, ada ajudannya namanya Ivan, dialah yg menyambungkan ke saya,"

Nah, berdasarkan kesaksian mantan timses Jokowi di atas kita menemukan fakta tidak terbantahkan bahwa Jokowi sudah merencanakan keinginannya untuk menjadi Presiden hanya satu bulan setelah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta dan dia bahkan diam-diam membentuk tim sukses yang ketahuan Megawati dan kena tegur.

Dengan kata lain ketika pada bulan Desember 2012 Jokowi sedang berbohong ketika dia menyatakan tidak akan meninggalkan Jakarta untuk mencalonkan diri sebagai presiden; dan omong kosong juga bahwa Jokowi adalah "capres yang dicalonkan rakyat dan bukan mencalonkan diri." Dengan demikian terbukti juga pada banjir besar Jakarta bulanJanuari 2013 ketika Jokowi berada di Latuharhary menjadi "mandor" perbaikan tanggul yang jebol dan menyebut dirinya superman banjir sementara ada ribuan rakyat Jakarta Utara tenggelam tanpa pertolongan sebenarnya dia sedang pencitraan untuk persiapan nyapres. Kemana hati nurani orang ini? Timses Jokowi ada yang bisa membantah pernyataan saya? Silakan maju ke depan dan bantahlah kalau bisa!

Selanjutnya pernyataan Naniek bahwa pembangunan yang dilakukan Jokowi di Jakarta adalah berdasarkan "Yang penting kelihatan pembangunan dimulai" adalah konsisten dengan pernyataan Prijanto pada angka (5) dan (6) di atas bahwa Jokowi selalu cepat bila meletakan batu pertama demi "dilihat rakyat" namun sebenarnya tidak tidak peduli dengan kelanjutan proyek itu karena bila proyek itu gagal yang akan disalahkan adalah orang lain; sedangkan bila berhasil yang akan dikenang adalah dirinya. Apakah kasus Udar dan transjakarta dan kasus Jokowi melakukan groundbreaking monorel di bawah kilatan lampu media massa padahal sampai sekarang monorel mangkrak karena masih banyak masalah masih tidak meyakinkan kita bahwa pernyataan Prijanto dan Nanik adalah benar dan bukan fitnah?

Anda bayangkan bila orang seperti Jokowi ini menjadi presiden kita, tepat apa yang dikatakan Hasyim Muzadi: "akan jadi apa bangsa ini?" Dan yang dikatakan JK: "akan hancur negara ini dan banyak masalah bila dipimpin Jokowi." Catat, Hasyim adalah pendukung Jokowi dan JK adalah cawapres Jokowi yang membayar Rp. 10trilyun untuk kursi cawapres!

Baru-baru ini saya ngobrol dengan seorang pejabat di Pemprov DKI ketika ke sana untuk mengurus beberapa hal, dan saya mendapat informasi bahwa pembangkangan terhadap Jokowi juga terjadi di kalangan Pemprov DKI yang selama ini terancam dipecat Jokowi bila merusak citra Jokowi kendati mereka berkinerja baik. Jokowi sangat sering memberi perintah lisan yang melanggar hukum seperti mengeluarkan anggaran di luar peruntukan, ketika menerbitkan KJS/KJP misalnya, tapi ketika terjadi masalah maka Jokowi akan mengorbankan anak buahnya, seperti Udar Pristono, itulah sebabnya di kalangan Pemprov lahir istilah "diudarkan" atau menjadi tumbal kebijakan Jokowi padahal sangat jelas dan terang benderang bahwa calo pengadaan bus transjakarta adalah Michael Bimo Putranto, mantan timses Jokowi di Solo.

Fakta lain yang diungkap kalangan Pemprov DKI adalah bahwa lelang jabatan ala Jokowi telah merusak mekanisme jenjang karir, apalagi lelang tersebut dimenangkan orang yang direkomendasikan timses Jokowi yang bertindak sebagai calo lelang sebagaimana pernah diungkap oleh Bambang Muhadi di kompasiana melalui artikelnya "Saya Dizolimi Jokowi" yang langsung dihajar habis-habisan oleh fanboi Jokowi dan sekarang saya tidak menemukan artikelnya lagi di Kompasiana, entah dihapus yang bersangkutan karena trauma jadi korban cyber bully dari fanboi Jokowi yang tidak tahu etika dan tatakrama atau alasan lain, entah lah, tapi untuk saya pernah membaca artikel tersebut.

Bentuk pembangkangan tersebut adalah ada seorang walikota yang menolak perintah lisan menggusur sebuah lahan yang rencananya akan jadi perhotelan; Selain itu ada kepala SKPD yang menolak mengeluarkan anggaran untuk kampanye pilpres Jokowi dan komentarnya adalah: "Mending gw dipecat daripada jadi tumbal kayak si Udar." Pembangkangan lain adalah orang-orang Pemprov DKI sudah dipastikan tidak akan memilih Jokowi pada pilpres mendatang, satu dan lain hal karena tahu kinerja bobrok Jokowi dan mereka sering jadi keranjang sampah bagi kesalahan Jokowi.

Jadilah pemilih yang cerdas supaya tidak dibodoh-bodohi oleh orang yang gemar berdusta seperti Jokowi ini. Masa depan Indonesia ada di tangan anda. [muslimina]
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kesaksian Orang Dalam Tentang Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah