728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Friday, 1 August 2014

Menjadi Manusia Surga


Oleh: Ahmad Imam Mawardi
MUHARRIKDAKWAH -Yang paling menyedihkan adalah diciptakannya surga seluas langit dan bumi, sementara kita tidak menemukan tempat di dalamnya.”

Demikian ungkapan puitis yang banyak menyebar di jejaring sosial pasca-Ramadhan sebagai sindiran pada mereka yang tidak menggunakan momen Ramadhan sebagai bulan berbenah diri untuk menjadi lebih baik bagai ulat yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu setelah berpuasa selama dalam kepompong.

Semenjak seminggu sebelum Ramadhan berakhir, pejabat dalam berbagai lapisan, institusi dan organisasi dengan berbagai macamnya marak mengucapkan “Selamat Hari Raya ‘Idul Fithri Mohon Maaf Lahir dan Batin Minal Aidin wal Faidzin” melalui berbagai media. Ucapan itu disampaikan dengan penuh senyum seakan negeri ini memang sudah terbebas dari amarah, kebencian, dan dendam.

Setelah tiba hari raya, para pejabat rata-rata menggelar acara open house untuk menyambut rakyat yang berkehendak silaturrahmi. Masyarakat umum, terutama para karyawan atau pekerja di kota, tetap patuh pada tradisi mudik untuk meminta maaf pada sanak kerabat yang yang ada di kampung halamannya. Masyarakat desa terbiasa keliling dari rumah ke rumah untuk saling memaafkan dan menyambung kembali tali kasih sayang yang mungkin saja semakin melemah karena berbagai sebab.

Indonesia seakan kembali menjadi potongan tanah surga yang dihuni oleh manusia-manusia surga yang terbebas dari karakter antagonis yang diperankan oleh para iblis dan setan. Salam, sapa dan senyum menjadi motto bersama. Jujur, terbuka dan apa adanya menjadi perilaku kesehariannya. Saling perhatian, saling membantu dan membahagiakan menjadi semangat kesemuanya. Bisakah potret sosial seperti ini bertahan lama sampai hari raya yang akan datang?

Potret sosial yang berkarakterkan keteraturan dan kebahagiaan hidup hanya bisa dicapai manakala hati orang-orang yang mengisi kehidupan itu adalah hati yang bersih dan baik. Al-Qur’an surat Al-Fath ayat 18-19 menjaminkan tiga hal utama yang akan diberikan oleh Allah pada orang-orang yang beriman: ketenangan, kemenangan dan kecukupan. Tiga hal ini adalah pilar-pilar bahagia dalam makna yang sesungguhnya.

Tidak salah pengamatan ilmuan sosial yang penelitian empiriknya menyatakan bahwa kehancuran kehidupan adalah karena salah satu dari empat sebab, sebagaimana dielaborasi oleh Francis Fukuyama dalam bukunya Great Disruption: kemiskinan yang meningkat dan kesenjangan penghasilan yang melebar, kekayaan atau kesejahteraan yang tidak diimbangi oleh nilai-nilai, produk dari negara kesejahteraan modern (modern welfare state), dan ingsutan kultural yang luas dalam bentuk meningkatnya individualisme dan lemahnya kontrol komunal. Namun hakikat di balik musibah sosial terkaji di atas adalah karena rusaknya hati dan keringnya batin dari sifat-sifat surgawi.

Karakter manusia-manusia surga, yang dijamin Allah memasuki surga bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari orangtua-orangtuanya, istri-istrinya dan anak keturunannya di antaranya bisa dibaca dalam al-Qur’an surat al-Ra’d ayat 20-22: memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, mengadakan hubungan silaturrahim atau menyambung tali persaudaraan, takut pada Tuhan dan takut pada hisab yang buruk, sabar, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rizki, dan menolak kejahatan dengan kebaikan.

Komitmen diri untuk melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan dan integritas diri yang terjaga berupa kejujuran dan keengganan merusak janji yang telah terucap dalam hubungannya dengan orang lain adalah etika utama manusia-manusia surga. Tidak ada yang bisa diharapkan dari para pembohong kecuali kehancuran dan penderitaan. Pengingkaran akan janji hanya akan melahirkan derita dan sakit hati pada diri sendiri dan orang lain.

Menjaga hubungan sosial untuk senantiasa terajut atas dasar cinta dan kasih sayang juga merupakan etika utama manusia-manusia surga. Sekat-sekat sosial, pengkotak-kotakan masyarakat, serta penciptaan kelompok eksklusif tidaklah mencerminkan nuansa surga. Kehidupan masyarakat negara Madinah di zaman Rasulullah Saw adalah gambaran sempurna pola hubungan masyarakat yang cair, inklusif dan harmonis yang layak diteladani.

Kesadaran ukhrawi bahwa setiap manusia akan kembali kepada Tuhannya untuk dimintai pertanggungjawaban dab bahwa setiap apa yang dilakukannya akan mendapatkan kalkulasi akhir yang adil seadil-adilnya juga merupakan nilai hidup yang dimiliki manusia-manusia surga. Kesadaran semacam ini akan menjadi kontrol diri yang sangat kuat yang mampu menghindarkan diri dari perilaku yang menghancurkan. Keberagamaan dengan kesadaran seperti inilah yang menurut Karl Menheim menjadi “pemberi makna dan penjelas dalam hidup bermasyarakat.”

Kesabaran menjalani takdir hidup dan ketaatan akan perintah ibadah juga merupakan karakter utama manusia-manusia surga yang perlu untuk ditanamkan dalam hati anak-anak bangsa. Melawan takdir hanya akan membuat hati semakin kecewa sebagaimana menghindari ibadah hanya akan menyebabkan batin semakin menderita. Hati yang kecewa dan batin yang menderita tidak bisa diharapkan mampu membangun kehidupan yang bahagia.

Kesadaran sosial yang berwujud kepedulian untuk bebagi bahagia dengan orang-orang yang tidak seberuntung dirinya adalah akhlak manusia-manusia surga lainnya. Salah satu nilai ekonomi Islam yang yang sangat prinsip adalah tidak dibiarkannya harta kekaaan hanya berputar di kalangan orang-orang kaya.

Ketika sang penerima bantuan merasa bahagia, maka Allah pun menanamkan bahagia yang lebih besar lagi di hati sang pemberi bantuan. Interaksi yang saling membahagiakan seperti ini adalah jaring-jaring sosial yang sangat kuat secara lahir dan penuh keberkahan secara batin.

Karakter manusia surgawi berikutnya adalah respon positif atas segala hal negatif yang tertuju pada dirinya. Andaikan celaan tidak dibalas hinaan, cibiran tidak dibalas hujatan, dan keburukan tidak dibalas kejahatan, melainkan dibalas dengan yang lebih baik, lebih bernilai dan lebih beradab maka tatanan sosial yang terbangun pastilah tatanan sosial yang ramah dan bermartabat.

Nilai-nilai surgawi seperti tersebut di atas sangatlah penting untuk senantiasa disosialisasikan dan diiklankan secara serius melalui semua media yang bisa dinikmati semua anak bangsa. Sosialisasi dan iklan yang dimaksud bukanlah hanya melalui ucapan dan tulisan, melainkan yang lebih penting lagi adalah melalui contoh teladan dari para tokoh agama, tokoh masyarakat, para pejabat, para guru dan orang tua.

Sosialisasi dan iklan nilai-nilai kebaikan tanpa keteladanan hanya akan menjadi sepertii nasehat yang ada dalam setiap iklan rokok bahwa rokok itu membunuh dan menyebabkan penyakit jantung, paru-paru serta merusak janin, sementara gambar yang ditampilkan adalah pemuda-pemuda ganteng yang sehat wal-afiyat. Rokokpun tetap menjadi “makanan pokok” banyak orang.

Nasehat dalam ucapan dan tulisan kalah efektif dari gambar yang ditampilkan. Akan berbeda hasilnya jika iklan rokok tersebut disertai gambar atau video orang kurus kering sakit-sakitan dan mati mengenaskan sambil menghirup asap rokok.

Ketika semuanya sepakat untuk membangun negeri ini untuk menjadi negeri gemah ripaj loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo yang menjadi potongan surga di negeri garis khatulistiwa maka semua harus sepakat untuk membumikan nilai-nilai manusia surgawi yang disebut di atas. Anak-anak bangsa harus menjadi anak-anak bangsa yang memiliki hati yang bersih, hati yang menjadi modal untuk memasuki surganya Allah di akhirat nanti, seperti disebutkan dalam al-Qur’an QS 26: 88-89. [*]

Sumber: inilah.com
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Menjadi Manusia Surga Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah