728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Wednesday, 17 September 2014

Muhasabah Kehidupan (4): Proses Hidupnya Hati


Oleh: Ust. Idrus Abidin
***********


MUHARRIKDAKWAH - Kudapatkan bahwa proses hidupnya hati bermula dari bacaanku tentang diri-Nya dalam kitab tauhid dan akidah serta fikih dan ahlak. Kulihat bahwa itu semua dan seluruh hakikat kehidupan; dunia maupun akhirat ada dalam kitab pusaka bernama al-Qur’an dan manual pendukung utama disebut Sunnah Nabi. Kutelusuri setiap saat karena kusadar, apa yang kucari dan kubutuhkan semuanya ada pada-Nya. Bahkan kebutuhanku pada-Nya melebihi kebutuhanku kepada makan dan minum, bahkan menikah dan memasayarakat. Karena makanku, sekali pun hanya sebatas 3x sehari, namun jika lebih dari itu bisa jadi aku tertidur atau bahkan makin tersungkur (lalai). Di saat shalatku, yang wajib saja minimal 5x dalam sehari dan semalam. Apalagi kalau kutambahkan dengan, sunnah muakkadah, seperti dhuhaa dan tahajjud. Godaan setan untuk makan dan minum masih bisa kutahan, dibanding godaannya agar aku bermakasiat kepada Tuhanku. 


Kusadar, kalau makanan rohaniku tidak sekencang godaan setan, kuyakin dialah yang akan menggodaku, sedang aku tak mampu menggodanya masuk Islam; terutama setan manusia. Kebutuhanku kepada-Nya melebihi kebutuhanku kepada diriku sendiri sekali pun. Karena Dialah aku ada dan sebab Dia aku mengerti siapa dan apa diriku sesungguhnya, termasuk segala jenis kebutuhanku untuk kembali kepada-Nya. Kucari dan kupinta semua itu dari-Nya. Bahkan Dia telah memberiku sebelum aku meminta, memberiku lebih baik dari yang kuharap, memberiku lebih cepat dari yang kukira. Dia menerima dariku kebaikan kecil lalu memberiku kenikmatan besar. Sedang aku terkadang mengingkari dan melupakan kebaikan besar-Nya dan besarnya keburukanku senantiasa kutunjukkan pada-Nya, setiap saat di banyak tempat. 

Makin kukenal diri-Nya makin kerdil aku rasanya. Makin kutahu tentang-Nya makin malu daku pada-Nya. Sungguh kurasakan betapa tak tahudirinya aku dan betapa lancangnya aku pada-Nya selama ini. Dunia kadang lebih besar di mataku dibanding kebesaran-Nya dalam hatiku. Padahal dunia ini diamanahkan kepadaku agar aku memakmurkannya dengan cahaya keimanan dan semangat kehidupan; dari hatiku yang bercahaya oleh terang-Nya dan jiwaku yang hidup dari kehidupan-Nya. Tapi yang kulakukan malah memenuhi fisik dan rumahku dengan kenikmatan fisik dengan beragam merek dan bermcam-macam model terkini. Sedang hatiku kulapa mengisinya dengan beragam ilmu akidah dan tauhid serta fikih dan ahlak, dengan bermacam-macam model buku terkini. Akhirnya, isi hatiku adalah perabot rumahku dan istri dan anak-anakku. Sehingga hatiku dipenuhi oleh berhala duniawi yang kubikin sendiri dengan segenap jiwa, seluruh usaha dan semua hidupku. Nadzubillah. Bahkan, terkadang aku sendiri menjadi berhalanya; denga meminta orang lain tunduk padaku padahal milikku hanya sebatas fisikku semata. Mereka suka kekayaan fisikku, sedang mereka lupa kalau akulah orang termiskin hatinya di kolong dunia ini. Pantas saja mereka begitu cepat melupakanku saat aku bangkrut. Karena hakikat harapannya ada pada milikku, bukan pada diriku. 

Akhirnya, kucemburu kepada ulama dan orang-orang shaleh. Mereka minim harta terkadang, tetapi orang-orang senantiasa mengejarnya dan patuh kepadanya. Dia tidak mengenal bangkrut seperti diriku karena ilmunya ada dalam jiwanya dan kebahagiaannya bukan pada hartanya. Wajah mereka bercahaya padahal mereka tidak pakai pemutih seperti aku. Mereka bahagia padahal tidak sekaya diriku. Ketika sakit, betapa banyak yang mengunjunginya dan betapa banyak orang yang ikut sakit karenanya. Dia dicintai karena Allah dan dia mencintai mereka karena-Nya. Dalam cinta Allah lah mereka bergemah. Ketika meninggal, orang-orang menangis hatinya seperti tangisan matanya. Lidah mereka seolah tak pernah keluh medoakan ampunan dan keselamatan untuknya. Padahal, dia sendiri ketika hidupnya, habis-habisan dalam da’a mengharap ampunan dan keselamatan dari-Nya. Padahal modalnya menghadap Allah dengan iman dan amal shalehnya; jelas terpampang di mataku. Sedang aku, tak didoakan ampunan dan keselamatan oleh banyak temanku karena diriku saja malas meminta ampunan dan kesalamatan kepada-Nya. Padahal, modalku menghadapi kematian baru berupa rumah, mobil, istri dan anak-anak yang terkesan mewah. Amalku? Tak begitu jumawa. Itulah salah satu kerugianku. Anehnya, terkadang aku belum bisa menyesali apalagi bertaubat sebelum mati.
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Muhasabah Kehidupan (4): Proses Hidupnya Hati Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah