728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 15 November 2014

Ahok dan Kaum Salibis Kuasai Panggung Politik

Ahok dan FPI (Foto:dakta.com)
MUHARRIKDAKWAH - Pro kontra soal pengangkatan dan Basuki Tjahaja Purnama yang yang akrab dipanggil Ahok, jadi gubernur DKI Jakarta, tak dapat dipisahkan dari upaya kaum salibis mengusai panggung politik.

Upaya untuk mengasai panggung politik telah mereka upayakan sejak pra kemerdakaan RI tahun 1945 dengan menggagalkan penegakan syariat Islam sebagaimana tercantum dalam ‘Piagam Jakarta.’

Untuk mengawal keberhasilan kaum salibis menggagalkan masuknya kalimat “Kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya” masuk dalam pembukaan UU Dasar 1945, mereka harus menguasai panggung politik yaitu dengan membentuk partai politik. Masuk menjadi anggota DPR. Karena hanya DPR yang dapat merubah UUD 45.

Pasca pemberontakan Gerakan 30 Septermber 1965, (G 30 S/PKI), kaum salibilis membentuk setidaknya dua partai politik yaitu Partai Kristen Indonesia dan Partai Katolik Indonesia (Parkindo). Kemudian kedua partai ini berfusi dengan PNI, menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI), tahun 1973.

Berfusinya Partai Kristen ke dalam PDI, memberi keuntungan besar bagi kaum salibis. Karena sejumlah kader mereka berhasil masuk menjadi anggota DPR, yang pemilihnya justru sebagian besar mengaku sebagai muslim. Mereka juga berhasil memasukkan aktivis Salibis lewat Partai Golkar.

Seperti tak kenal lelah, Kaum salibis terus bereaksi. Setelah mereka berhasil membaur di PDI, maka tahun 1998, kaum salibis kembali membentuk partai untuk memperbanyak pintu masuk Parlemen. Partai itu dikenal dengan Partai Damai Sejahtera (PDS).

Sejumlah aktivis gereja berhasil masuk ke DPR. Kekuatan mereka semakin kuat, karena jumlah kaum salibis di panggung politik semakin banyak. Mereka berasal dari partai berbasis nasional seperti Golkar, PDI dan PDS. Mereka sangat vokal mengeritik perda perda berbau Syariat Islam.

Ketika PDS terkena batasan kuota di parlemen, dan tak bisa ikut dalam Pemilu tahun 2004. Kaum salibis masuk ke panggung kekuasaan lewat jalur Pemilihan Kepala Daerah. Hasilnya di beberapa wilayah mereka menang.

Contoh teranyar adalah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Kalimantan Barat. Pasangan Cornelis Chiristiandy Sanjaya (beragama Kristen) berhasil menang sebagai Gubernur Kalimantan Barat untuk periode 2008-2013.

Saat itu Sekjen Forum Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah yang Terpadu Efektif dan Aktual (Arimatea), Pusat, Diki Chandra, mengatakan; “kekalahan yang diusung ormas dan Partai Islam akibat kelemahan kaum muslimin dalam berpoltik. Ini kejadian pertama yang memalukan.” (lihat Sabili edisi No. 12, tahun XV, 27 Desember 2007).

Sejak itu pemilihan kepala daerah di sejumlah provinsi dan kabupatan yang penduduknya mayoritas muslim berhasi di menangkan kaum salibis seperti; di Provinsi Kalimatan Tengah dengan terpilihnya Teras Narang.SEdang di daerah mayoritas Kristen seperti di Tapanu Utara, Tapanuli Tengah, Karo, Nias Sumatera Utara, dan di NTT, kepala daerah termasuk legislatif sudah lama mereka kuasai.

Untuk menguasai panggung politik kaum salibis menggunakan instrumen politik bahwa setiap warga negara berhak dipilih dan memilih. Berpijak dari pandangan politik tersebut, untuk menjadi kepala daerah adalah hak seluruh warga negara republik Indonesia, termasuk untuk menjadi Presiden.

Kaum salibispun mulai mulai memanfaatkan instrumen tersebut dengan mengincar jabatan-jabatan strategis tak hanya kepala daerah tapi juga jabatan di pemerintahan. Kaum salibis baik di parlemen maupun di eksekutif saling mendukung untuk mewujudkan penyabaran perkabaran injil di lingkungan pemerintahan.

Upaya penguasaan panggung politik dalam Pilkada dilakukan dengan mencalonkan pasangan Muslim-Kristen, Calon kepala Daerahnya Islam wakilnya Kristen. Jika Gubernur atau Bupati yang terpilih nantinya tak bisa menjalankan pemerintahan karena sesuatu hal maka yang angkat diangkat menjadi gubernur atau walikotan adalah wakilnya. Dengan demikian kaum salibis dapat merebut kepala daerah.

Itulah yang terjadi di Solo Jawa Tengah. Saat Joko Widodo dicalonkan PDIP untuk walikota Solo, untuk ke dua kalinya, wakilnya adalah berasal dari kaum salibis. “Ditenah jalan, Joko Widodo yang kini sudah jadi Presiden dicalonkan untuk menjadi Gubernur DKI dengan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang juga berasal daru kaum Salibis.

Saat Jokowi dan Ahok memenangkan pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi akhirnya harus berhenti dari Walikota Solo dan digantikaan wakilnya dari kaum salibis, yang akhirnya dilantik jadi Walikota Kota Solo.

Peristiwa yang hampir mirip dengan Solo, akhirnya terjadi juga di DKI Jakarta. Joko Widodo terpilih jadi Presiden. Maka yang berhak menggantikan Gubernur DKI Jakarta adalah wakil Guber yaitu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Jika berdasarkan konstitusi, Basuki Tjahaja Purnama dipastikan akan dilantik karena itu adalah haknya.

Bedanya, jika di Solo pergantian kepemimpinan itu berjalan mulus tanpa gejolak, tapi di DKI Jakarta pengangkatan dan pengambilaan sumpah Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, mendapat perlawanan dari masyarakat termasuk umat Islam yang menyadari bahwa mereka tak pantas dipimpin oleh seorang yang Kristen.

Sejumlah upaya dilakukan umat Islam untuk menggagalkan penetapan dan pengambilan sumpah Ahok jadi gubernur DKI Jakarta, seperti demo, besar besar yang berlangsung 10 November lalu. Melakukan dialog dengan pimpinan DPRD DKI Jakarta, serta menggalang mosi tak percaya kepada Ahok.

Tapi semua upaya itu kelihatannya akan gagal. Ahok kemungkinan besar akan tetap dilantik jadi gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo yang telah dilantik jadi Presiden RI.

Target kaum Salibis tentu tak akan berhenti dengan terpilihnya Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta. Tapi bagaimana agar mereka juga bisa jadi presiden meski harus diawali dari wakil presiden.

Sebab dalam pandangan kaum salibis selama instrumen politik yang digunakan untuk memilih kepala daerah maupun presiden, adalah konstitusi produk DPR, maka peluang untuk menguasai Indonesia oleh kaum salibis masih tetap terbuka, meski penduduknya mayoritas muslim.

Kecuali umat Islam menyadari bahwa memilih pemipin harus sesuai dengan aturan Al-Qur’an, yaitu tak memilih pemimpin dari kaum kafir, karena dilarang Allah. Jika itu yang terjadi tentu masalahnya akan jadi lain. Persoalannya kapan umat Islam menyadari kekeliruannya yang sudah berlangsung dari pemilu ke pemilu.

Jangan berharap kaum salibis akan berbaik-baik dengan umat Islam. Mereka tak akan senang dengan umat Islam kecuali umat Islam mengikuti millah (ajaran atau agama) mereka sebagai mana firman Allah:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sebelum engkau mengikuti agama mereka”(QS.Al Baqarah:129).

Itu sebabnya Allah meralang umat Islam untuk memilih orang kafir jadi pemimpin sebagaimana firman Allah berikut ini:

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan orang-orag Yahudi dan Nasrani sebagai teman dan pemimpin setia mu, mereka satu sama lain saling melindungi ( QS. Alaidah: 51).

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan. (QS. Al Maidah : 57).

“Janganlah orang-orang yang beriman menjadikaan orang-orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 28)

Lihat juga surat Ali Imran ayat 118 dan surat At Taubah ayat 22). Mudah-mudah hal ini dapat menyadarkan umat Islam untuk tak memilih pemimpin di luar kalangan umat Islam.*** [dakta.com]

  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ahok dan Kaum Salibis Kuasai Panggung Politik Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah