728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Monday, 3 November 2014

Gaza Dan Isolasi Geografis


MUHARRIKDAKWAH - Senyuman germbira menghiasa wajah-wajah warga Palestina di Gaza pasca tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara faksi perlawanan Palestina dan penjajah “Israel”, mereka berharap kondisi sulit selama 7 tahun akibat blokade “Israel” segera pergi dan semua perlintasan dibuka.

Namun penderitaan kemanusiaan yang dirasakan sekitar 1,9 juta warga Palestina justru mengalami peningkatan dan bertambah buruk dari hari kehari, tak ada kabar gembira dalam waktu dekat ini, seperti diprediksi para politisi dan ekonom, yang menyebutnya sebagai isolasi geografis.

Muin Rajab, dosen ekonomi universitas al Azhar di Gaza mengatakan, “Gaza saat ini mengalami apa yang disebut sebagai isolasi geografis.”

Kepada harian Anatoli, Muin menambahkan, garis pantai yang sempit di wilayah seluas 360 km2, menyebabkan Gaza mudah diisolasi secara politis, ekonomi dan geografis.

Menurutnya, Gaza secara geografis saat ini telah berubah menjadi penjara terbuka di dunia, dua perlintasan yang berada dalam kendali Israel ditutup, dan perlintasan darat Rafah yang menghubungkan Gaza dan Mesir juga ditutup, hal ini sangat cukup untuk mengisolasi penuh wilayah kecil Gaza.

Kemarin lusa, pemerintah penjajah Israel menutup perlintasan Karem Abu Salem dan Bet Hanun, tanpa ada batas waktu kapan dibuka, militer Israel menutup dua perlintasan tersebut dengan dalih keamanan.

Rajab menegaskan, Gaza yang diisolasi dan diblokade Israel sejak tahun 2007 lalu, menjadi jaminan perubahan politik yang dibatasi secara geografis.

Disebutkannya, wilayah Utara dan Timur Gaza berbatasan dengan Israel yang dengan seenaknya bisa menutup perlintasan sesuai dengan dalih keamanan dan politik. Sementara di Selatan berbatasan dengan Mesir, dan menjadi perlintasan satu-satunya yang berada dalam kedali politik dan keamanan Mesir, sehingga Gaza terblokade secara permanen.

Dahulu, Gaza memiliki 7 perlintasan, 6 di antaranya berada dalam kendali Israel dan satu (perlintasan Rafah) berada dalam kendali Mesir.

Sejak Hamas berkuasa pada musim panas tahun 2007, Israel menutup 4 perlintasan dan menyisakan dua saja; yaitu perlintasan Karem Abu Salem sebagai perlintasan dagang, dan perlintasan Bethanun sebagai perlintasan orang.

Mesir menutup perlintasna darat Rafah pasca serangan terhadap militer Mesir di propinsi Sinai Utara, pada 24 Oktober lalu, yang menewaskan 31 serdadu Mesir dan melukai beberapa lainnya.

Batas geografis dan perbatasan ini menurut Hani Basus, dosen ilmu politik di universitas Islaman di Gaza, menambah keras blokade Gaza.

Kepada harian Anatoli, Basus mengatakan, “Rentang 7 tahun lalu, batas geografis dan perbatasan sangat berperan besar dalam menambah penderitaan warga Palestina di Gaza, setiap kali terjadi peristiwa politis ataupun keamanan, pasti perlintasan ditutup.

Basus mengingatkan, dampak dari isolasi geografis ini akan mengguncang Gaza di bandingkan sebelumnya.

Warga Gaza hampir lebih dari 2 bulan gencatan senjata merasakan kegagalan dan kesempitan, karena tak ada perubahan sama sekali, hal ini bisa menjadi ledakan sosial yang bisa mengguncang geografis dan perbatasan.

Pihak Palestina dan Israel mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 26 Agustus lalu, dengan sponsor Mesir, point yang dicapai antara lain; penghentian perang, perlintasan dagang dibuka ke Gaza bersamaan dengan dialog hal-hal yang belum disepakati selama sebulan, termasuk pertukaran tawanan dan diaktifkannya pelabuhan dan bandara di Gaza.

Batas geografis ini memblokade Gaza dari segenap sisinya, dan menghambat proyek investasi dan pembangunan, seperti dinyatakan Adil Samara, kepala pusat peneliti kebudayaan di Ramallah, Tepi Barat.

Kepada harian Anatoli, Samara mengatakan, “Israel mengendalikan peta ekonomi, politik dan geografi di Gaza.

Ditambahkannya, penjajah Israsel membuka dan menutup perlintasan sesuka hatinya, yang membuat Gaza menjadi kawasan terisolasi yang tak mungkin berwacana tentang rekonstruksi.

Ia menegaskan, perbatasan dan batas geografis serta penutupan perlintasan dari waktu ke waktu memicu kesulitan menerapkan rencana ekonomi di lapangan.

Bagi masyarakat internasional, isolasi yang diberlakukan Israel terhadap Gaza harus dicabut, baik geografis maupun politis, seperti dinyatakan ketua asosiasi pengusaha Palestina, Ali al Hayik.

Kepada kantor berita Anatoli, al Hayik mengatakan, “Tak mungkin kita membiarkan Gaza menjadi jaminan pertikaian politik dan keamanan ataupun ketegangan di kawasan, Gaza harus dijauhkan dari semua bentuk blokade, perlintasan harus dibuka untuk alasan kemanusiaan.” ungkapnya.

Al Hayik menegaskan, membiarkan Gaza dalam kondisi seperti ini dan tak ada upaya menyelamatkannya, bisa memicu ledakan sosial dan mengembalikan kekerasan dan eskalasi secara permanen.

Semua perlintasan harus dibuka, untuk memulai rekonstruksi Gaza dan mengembalikan warga yang terusir ke rumah mereka, kita saat ini berada di hadapan bencana yang sulit untuk digambarkan, tegas al Hayik.

Data PBB menyebutkan, lebih dari 100 ribu warga Gaza saat ini masih terlantar, 50 ribu tinggal di gedung-gedung milik badan PBB urusan pengungsi Palestina UNRWA. [qm/infopalestina.com]


  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Gaza Dan Isolasi Geografis Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah