728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Friday, 14 November 2014

Mengupayakan Tetapnya Kemantapan Hati

Foto Ilustrasi
MUHARRIKDAKWAH - “IMAN itu naik dan turun bertambah dan berkurang.” Demikian ungkapan yang sering kita dengar dalam hidup keseharian yang kadangkala digunakan bukan sebagai landasan kesadaran untuk menjaga diri agar iman senantiasa berada dalam posisi kokoh, melainkan digunakan sebagai justifikasi perilaku salah yang dilakukan orang beragama.

Ungkapan itu senada dengan ungkapan”tidak ada manusia yang tidak berdosa” yang tidak ditempatkan sebagai nasehat untuk senantiasa bertaubat dan istighfar, melainkan untuk membenarkan perilaku dosa atau maksiat.

Mereka yang hatinya gelisah ketika berbuat dosa, menurut Syekh Hasan Basri, masih termasuk orang yang beruntung karena di hatinya masih tersisa cahaya iman. Sama halnya dengan orang yang masih memiliki optimisme tentang masa depannya di tengah musibah dan ujian yang mendera tanpa henti, mereka juga termasuk orang yang dalam hatinya tersisa cahaya iman. Hilangnya cahaya iman ditandai dengan berbangga ketika berbuat dosa dan tidak pernah menyesal ketika berbuat kedzaliman, pesimis ketika ditimpa musibah dan putus harapan ketika diberi ujian.

Segala perbuatan dosa adalah pemadam cahaya kehidupan. Ketika cahaya kehidupan mulai meredup ada sinyal-sinyal yang Allah kirimkan berupa ketidaktenangan dan ketidaknyamanan hidup. Tidak tertangani redupnya kehidupan dengan baik bukan mustahil akan menjadi pengantar tercepat menuju kematian hati yang ditandai dengan tertutupnya semua pintu bahagia kemanapun pergi ia tak akan menemukan senyuman, yang ada adalah air mata kesedihan.

Mereka yang masih memiliki bibit keimanan dalam lubuk hatinya yang paling dalam selalu memiliki pengharapan masa depannya menjadi lebih baik. Lalu lahirlah pertanyaan yang radikal (mendasar) tentang bagaimana caranya agar keyakinan tetap kokoh dan keimanan tetap mapan. Pertanyaan ini sungguh sangat sederhana sekali, namun jawabannya tidak bisa dicari di sembarang kertas atau tulisan. Jawaban yang paling tepat dan kuat adalah yang disampaikan secara tersurat dan tersirat oleh Sang Pengatur Hati dan utusanNya.

Ada empat hal yang perlu untuk dilakukan untuk kembali mengkokohkan keyakinan dan menguatkan keimanan yang dengannya hati kembali menormalkan rasa dan akal pun mengoptimalkan pikir, kehidupan kembali bergairah dan menjanjikan harapan-harapan indah yang selama ini terkubur dalam perut keputusasaan.Empat hal ini secara eksplisit dan juga implisit dinyatakan oleh Allah dan Rasulullah Saw.

Pertama adalah membaca, merenungkan dan mengamalkan al-Qur’an. Keyakinan dan iman adalah perkara hati. Kalimat-kalimat Tuhan, Dzat Yang menggerakkan dan mengatur hati pasti memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menghancurkan kelalaian diri dan bahkan segala bentuk kelemahan serta penyakit diri. QS 25: 32 menyatakan:“... Demikianlah (Kami turunkan al-Qur’an tidak sekaligus) supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannyasecara tartil (teratur dan benar).”

Rasulullah dan para sahabatnya menjaga kekuatan iman dengan cara, salah satunya membaca al-Qur’an dan merenungkan pesan-pesan yang dibawa ayat-ayatnya. Ditengah kehidupan yang penuh dengan kekurangan atau dalam kondisi masalah kehidupan datang bertubi-tubi, mereka tetap menikmati jalannya taqdir dengan keyakinan akan janji-janji Allah yang tidak akan pernah keliru.

Al-Qur’an benar-benar memberikan sesuatu yang tidak disediakan oleh sumber bacaan lain. Merugilah mereka yang rajin membaca Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya tetapi tidak pernah membaca dan merenungkan al-Qur’an sebagai media spiritual tercanggih.

Kedua adalah bahwa keyakinan dan keimanan bisa dijaga dan diperkuat kembali dengan membaca sejarah hidup (biografi) dan kisah-kisah para rasul utusan Allah sebagai cermin perenungan dan bukti nyata pertolongan Allah pada mereka yang menjadi kekasihNya.

Allah berfirman dalam QS 11: 120: “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yag beriman.”

Kisah para nabi adalah kisah inspiratif. Tidak satupun di antara para rasul yang tidak mengalami musibah dan penderitaan hidup. Ada yang diusir, dibakar, dibuang ke sumur, dipenjara, ditimpakan penyakit parah, dihina dan dicaci serta ujian ekstrem lainnya. Tidak satupun di antara mereka yang melepaskan imannya dan membuang pengabdiannya pada Allah sehingga tidak satupun di antara mereka yang tidak tetap mulia.

Pertolongan Allah kepada rasul-rasulNya seringkali diluar alur nalar wajar manusia. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa mukjizat adalah keajaiban yang sulit ditebak dan dipertimbangkan secara logika, namun hal itu terjadi sebagai fakta sejarah.

Semua ini menjadi “pesan” abadi Allah kepada semua yang beriman bahwa ada banyak cara Allah untuk membebaskan mereka dari bermacam-macam masalah atau mewujudkan setiap apa yang menjadi harapan dan doa mereka. Semua urusan dan masalah manusia yang begitu banyak di dunia ini adalah hal yang terlalu sedikit jika dibandingkan pengetahuan dan kasih sayang (rahmat) Allah.

Upaya ketiga penguatan iman dan pemantapan keyakinan diri adalah dengan mengamalkan apa yang diketahui (ilmuyang dipelajari). Akal adalah salah satu mutiara diri yang Allah titipkan kepada manusia. Ilmu pengetahuan adalah anugerah besar yang Allah berikan pada manusia. Menyia-nyiakan mutiara dan tidak menggunakan anugerah di jalan yang diridlaiNya adalah salah satu bentuk pengingkaran yang akan mewariskan kegalauan dan penderitaan.

Mutiara lain berupa keimanan (agama) sangat bisa jadi menipis dan menghilang bersama dengan hilangnya fungsi mutiara akal. Dua mutiara ini dan bahkan empat mutiara yang telah kami tuliskan di kolom pencerah hati edisi hari Jum’at yang lalu adalah saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

Allah berfirman dalam QS 4: 66: “...Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka tetulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).”

Upaya yang terakhir adalah berdoa sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah Saw. Salah satu doa yang sering dipanjatkannya setelah peristiwa Isra’ adalah: “Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, kuatkanlah hatiku untuk senantiasa berada di atas agamaMu.”

Doa adalah ikatan hamba dengan Tuhannya. Doa bukanlah suatu bentuk kecengengan. Doa adalah bentuk pengabdian terindah; saat dimana peminta akan mendapatkan yang dipinta dengan penuh kemuliaan dan jauh dari kehinaan.

Ketika empat hal tersebut di atas menjadi kebiasaan kita, maka tiada lagi kata putus asa, gelisah berkepanjangan dan tersiksa sepanjang masa. Kekuatan iman akan menjadi penyebab turunnya pertolongan Allah setelah memantapkan hati bahwa semua yang terjadi adalah berwaktu dan berukur. Semua memiliki ruang dan waktu, dan yang pasti adalah bahwa akhir yang baik hanya milik mereka yang beriman dan bertakwa. [*inilahcom]

  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Mengupayakan Tetapnya Kemantapan Hati Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah