728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 15 November 2014

Merenungi Ciptaan Allah

(Foto Ilustrasi)
MUHARRIKDAKWAH - “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” demikian bunyi salah satu ayat dalam al-Quran.

Di antara ciri-ciri orang yang berakal adalah bisa ingat kepada Allah ketika berdiri, duduk, berbaring. Semakin banyak mengingat Allah, makin efektif akalnya. Sebalikya semakin sedikit ingat kepada Allah, meski sehebat apapun dia kepandaiannya, setinggi apapun gelar, pangkat, jabatannya, pada hakekatnya belum begitu jalan akal pikirannya, karena yang terlihat di alam ini seharusnya membuat kita ingat kepada Allah.

Perumpamaannya adalah orang yang melihat lukisan kucing, lalu dipujinya pelukis dari lukisan tadi, karena kemiripan dengan kucing yang ada di alam nyata. Namun ketika kita melihat kucing yang sesunguhnya, yang berbulu indah, bersuara nyaring, dan mempunyai bulu-bulu yang halus adakah kita memuji sang Pencipta yang Maha Agung?

Atau kita melihat bayi mungil sedang bermain-main dengan boneka lucu yang bisa menangis; kita terperangah oleh boneka itu dan memuji siapa pembuatnya. Namun ketika kita melihat bayi yang benar-benar bisa bicara, bisa menangis dan mengeluarkan air mata, adakah hal tersebut mengingatkan kita akan siapa penciptanya? Allah-lah yang Maha Agung yang menciptakan itu semua. Maka kalau kita ingin mengetahui tingkat kesehatan akal kita, bisa dilihat sejauh mana kita ingat kepada Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta yang Maha Luas ilmunya.

Ada orang yang cintanya sama dunia. Kalau orang sudah mencintai harta, maka cenderung yang dicari dan dipikirkan hanyalah uang, sehingga ia tidak sadar telah diperbudak oleh uang. Begitupun kalau orang sudah mencintai kedudukan, ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu jabatan atau kedudukan tertentu. Kalaupun ia telah mencapai suatu kedudukan, maka ia mati-matian mempertahankan kedudukannya itu dengan cara yang ia sukai.

Sebaliknya bila orang melihat dunia ini dengan cara biasa-biasa aja, maka baginya, ada dan tiadanya tidak mempengaruhi perilaku kehidupan-nya. Baginya yang penting adalah proses mencari yang sesuai dengan tuntutan agama.

Jujur dan sabar bila mendapat musibah dan syukur bila mendapat suatu keuntungan. Itulah sebagian tanda-tanda orang yang berakal, ke manapun ia, maka yang dilihatnya hanyalah kebesaran Allah. Semakin ia yakin akan pertolongan Allah, semakin ia yakin bahwa Allah-lah baginya yang mengkaruniakan kepadanya segala sesuatu.

Kemudian ciri orang yang berakal lain adalah senang menuntut ilmu, gemar membaca al-Qur’an. Di tengah malam yang dingin ia bermunajat sambil menitikkan air mata kerinduan akan pertemuannya dengan sang Khalik; penyesalan dan ketiadaan dirinya di hadapan Allah. Oleh karenanya, dia akan merasa ringan untuk berkorban apapun yang disuruh oleh Allah Swt.

“Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (Q.S al-Kahfi [18]:110).

Tidak ada keraguan, bahwa Allah Azza wa Jalla senantiasa pasti melakukan perhitungan yang sangat cermat dan sempurna. Perbuatan Allah Swt, pasti tidak akan pernah ada yang jelek. Yang jelek itu, kita belum bisa memahami kesempurnaan ilmu-Nya. Kecewa terhadap sesuatu yang terjadi itu, semata-mata, karena kita merasa lebih tahu. Barang siapa yang mengenal Allah Swt, tidak mungkin kecewa oleh apapun perbuatan-Nya. Kalau kecewa, maka kecewa terhadap diri sendiri yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan keinginan-Nya.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya agar kita kenal dan akrab dengan Allah? Bagaimana caranya agar jikalau telinga kita mendengar sesuatu, maka yang terdengar adalah keagungan Allah Swt? bagaimana caranya agar kalau tahu kulit kita merasakan sesuatu, maka yang terasa adalah perbuatan Allah Swt?

Kalau kita sudah sangup merasakan hal seperti itu, maka kemana saja mata memandang kita merasa menatap Allah Swt dan merasakan kehadiran-Nya. Tentu saja yang dimaksud bukan Allah DzatNya, melainkan kekuasaan-Nya.

Ali bin Abi Thalib karamallaahu wajhahu tatkala ditanya tentang apakah dia menyembah sesuatu yang tidak dilihatnya, ia menjawab, “Bagaimana mungkin aku menyembah sesuatu yang tidak aku lihat? Aku melihat Allah Swt, tetapi bukan dengan mata ini. Mata ini yang mudah tertipu. Aku melihat-Nya dengan mata hati!” [*inilahcom]

Oleh: KH Abdullah Gymnastiar
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Merenungi Ciptaan Allah Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah