728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 15 November 2014

Yang Miskin, Yang Tidak Mampu Bersuara

Ilustrasi (foto net)
MUHARRIKDAKWAH - "Siapa bilang indonesia miskin? beli mobil sanggup! beli motor sanggup! masa beli bensin 9500 seliter tidak sanggup!"

Yah, inilah argumen mencla-mencle pendukung kebijakan naiknya BBM. mereka rata-rata adalah yang Allah anugrahi selama ini penghasilan tinggi, pendidikan bagus, pekerjaan mentereng, dan segala macam kenikmatan lainnya.

Jujur, argumen itu cocok diberikan jika sekali lagi jika asumsinya penduduk indonesia adalah penduduk dengan penghasilan perkapitanya adalah diatas setidaknya 5000 dollar/ perjiwa/ setahun.

Namun adakah pantas bila asumsi ini dipakai pada negara yang penduduknya sebanyak 116 juta jiwa berpenghasilan kurang dari 2 dollar sehari?

standar kemiskinan 2 dollar sehari adalah standar kemiskinan yang dipakai oleh World Bank. dengan standar 20 ribu sehari. maka penghasilan bulanan yang didapatkan hanyalah 600 ribu sebulan untuk satu orang. percayakah anda di indonesia terdapat 116 juta penduduknya yang berpenghasilan kurang dari 600 ribu sebulan?

Anda tidak akan mempercayainya!
Karena rata-rata pemakai media sosial adalah para pemilik gadget mahal, pemilik kendaraan pribadi, akses pendidikan tinggi, serta penghasilan setidaknya 1,5juta hingga 10 juta sebulan.

tapi yakinlah mereka yang berpenghasilan kurang dari 600 ribu sebulan itu ada. bahkan versi BPS lebih mencengangkan lagi. kriteria masyarakat miskin adalah yang berpenghasilan 6000 sehari! Mungkin dalam kehidupan anda, 6000 rupiah hanyalah uang yang anda habiskan untuk membeli satu minuman kaleng saja. namun sejatinya, lebih 20 persen penduduk indonesia bertahan hidup sehari dengan uang senilai minuman kaleng yang anda konsumsi 2-5 botol sehari.

Lalu apa hubungannya dengan naiknya BBM?

Berhubungan sekali.

mari berasumsi andalah yang hidup dengan penghasilan 6000 sehari. atau baiklah, 20 ribu sehari. anda tidak memiliki mobil dan motor, tentunya anda tidak mengkhawatirkan kenaikan BBM. keseharian anda dilewati dengan berjalan kaki dan tidak mengkhawatirkan masalah perkotaan.

Namun bagaimana reaksi anda ketika mengetahui harga minyak makan naik 30 persen? selanjutnya harga ikan menukik 50 persen? dibarengi dengan kebutuhan pokok lainnya? dan penghasilan anda tetap 600 ribu rupiah.

Silahkan bayangkanlah sendiri. dengan 20 ribu rupiah tanpa kenaikan bbm saja, uji nyali anda belanja ke pasar tradisional dengan harapan membawa pulang beras, ikan, minyak makan, dan bumbu seadanya. saya yakin, anda akan meringis mengetahui betapa tidak bernilainya uang 20 ribu tersebut.

Konon lagi dengan kenaikan BBM hingga melebihi 50 persen tersebut. maka nilai uang yang 20 ribu saat ini akan tergerus hingga senilai 10 ribu atau bahkan kurang.

Sayangnya, mereka, yang miskin ini, yang berpenghasilan kurang dari 20 ribu sehari ini tidak akan mengerti bahasa protes. demo! pasang status, atau bersuara. kenyataannya yang bersuara adalah media yang sudah dibungkam oleh pemerintah, dibeli oleh politisi dan para cukong bisnis migas agar mengaung2kan kenaikan BBM akan memakmurkan rakyat. padahal semua itu adalah non sense!

Era SBY, menteri keuangan pernah berkata: "Kenaikan BBM akan mendongkrak rupiah ke angka dibawah 10 ribu." kenyataannya, bbm naik, harga melambung. dollar berada diangka 12ribu rupiah. oh mudahnya kaum pintar berbohong dan kaum miskin di tipu.

Kali ini, para politisi, ekonom pro liberal, tukang ngomong bayaran, media-media peliharaan pemerintah sekali lagi memainkan lidah ularnya. mereka berkata:
"Kenaikan BBM akan membuat indonesia makmur, dapat menyelenggarakan piala dunia, meningkatkan kesejahteraan penduduk, dan banyak kedustaan lainnya." dan perkataan mereka langsung disambut oleh para pro pemerintah yang memang selama ini hidup dengan standar kehidupan cukup.

Mereka memang sudah siap dengan kenaikan BBM karena aset kepemilikannya bernilai ratusan rupiah bahkan lebih. tabungannya saja sedikitnya bernilai puluhan juta bahkan mencapai milyaran.

Namun siapkah mereka menghadapi naiknya BBM bila tabungan mereka adalah nol rupiah, aset kurang dari 1 juta berupa baju bekas dan peralatan hidup sehari-hari penghasilan harian 20 ribu yang didapatkan dengan menjadi buruh pikul di pasar-pasar tradisional?

Ah, ini hanya akal-akalan saja agar anda penikmat subsidi BBM tetap mendapatkan subsidi dengan mengatas namakan masyarakat?

ya..asumsikanlah ini akal-akalan penulis saja. namun jangan khawatir, bagi saya dan anda, yang membaca status ini, kenaikan BBM tidak akan berdampak besar. kita masih bisa melakukan penghematan dengan standar hidup yang nyaman. beralih dari mobil kesepeda motor, dari membeli paket quota internet berbayar menuju wifi gratisan di pustaka atapun fasilitas publik lainnya. dari makan nasi padang di siang hari menjadi makan roti cabin celup teh sehari tiga kali. tentunya tidak akan ada dampak besar sama sekali.

tapi sekali lagi, apakah yang bisa anda lakukan dengan uang 20 ribu sehari ketika BBM naik lalu melambungkan harga hingga 50 persen? konon lagi tanggungan anda bukanlah seorang saja. namun juga termasuk anak istri anda.


Terakhir sekali, bila anda meragukan pendapat diatas, saya melampirkan tabel pendapatan perkapita rata-rata penduduk indonesia. ingat, pendapatan perkapita adalah perkiraan penghasilan secara umum selama setahun dibagi seluruh penduduk daerah tertentu. jelas ada ketimpangan penghasilan antara yang kaya dan yang miskin. namun dengan asumsi semua penghasilan dibagi ratapun, kita masih harus mengurut dada kita dengan penghasilan perkapita tahunan kita.

Jadi, bagi anda yang merasa indonesia sudah kaya, sudah mampu hidup dengan harga BBM tinggi, tolong, silahkan mampirlah dan lihatlah masyarakat miskin di sekitar anda. atau bila anda tidak menemukan fenomena ini, jangan-jangan kepedulian kita yang sudah tergerus dengan egoisme kita selama ini.

Wallahu'alam.

By: Rahmat Idris
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Yang Miskin, Yang Tidak Mampu Bersuara Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah