728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Monday, 8 December 2014

Dilema Da'i Muda

Ilustrasi (foto net)
MUHARRIKDAKWAH - Seorang pemuda, sebut namanya Ibrahim. suatu hari ia keluar menjelang asar. Hendak mengajar ditempat yang agak jauh, dia mengendarai motor di kota metropolitan itu. Jakarta. Di tengah jalan dia mendengar azan, tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan itu, seketika dia berbelok ketika menjumpai masjid di pinggir jalan. Pemuda itu pun menghadap Tuhannya dengan khusyuk. selepas shalat dia berzikir dan berdo'a. Hatinya pun bertambah tenang,

Selesai beribadah dia bergegas menyongsong motornya yang terparkir di halaman masjid, berencana melanjutkan perjalanan ke tempat mengajar. Tetapi baru beberapa saat dia keluar dari lingkungan masjid, dipinggir jalan dia melihat tiga orang wanita berjalan dengan pakaian yang membuka aurat dan ketat yang membuat dada pemuda tadi berdesir, seketika dia beristghfar dan memalingkan pandangan. Dia teringat akan shalatnya yang baru saja dia kerjakan, juga teringat akan sabda nabi kepada Ali untuk tidak mengikuti pandangan pertama dengan yang kedua. Alhamdulillah, kali ini dia bisa mengamalkan ilmu tersebut.

Dia terus berjalan mengendarai motornya. sekitar 100 meter dari masjid dia akan melintasi sebuah perempatan, tiba-tiba ssebuah mobil didepannya mogok dan menutupi badan jalan sehingga kendaraan yang dibelakangnya sulit untuk lewat. sementara ibrahim sudah berada di permpatan itu. Satu persatu kendaraan menyongsong dari arah timur dan barat menambah parah keadaan. Karena tabiat para pengemudi yang tergesa-gesa, akhirnya terjadilah kemacetan yang sangat rumit.Kendaraan saling bertumpuk tumpuk. Dalam pada itu seorang pengendara motor matic dari arah timur mengambil tempat persis didepan ibrahim, dalam posisi membelah jalan ibrahim. dia berhenti disitu sebab kendaraan di depannya tidak bisa berjalan. Seketika dada Ibrhim kembali berdesir, sebab pengemudi yang mengendarai matic itu adalah wanita yang jauh lebih seksi dari 3 wanita yang di temuinya beberapa waktu tadi. Pakaiannya sangat minim sehingga mengundang syahwat lelaki, Ibrahim tertegun agak lama sebelum dia sadar bahwa yang di lihatnya itu haram. segera ia menundukkan pandangan, Ibrahim menoleh kekiri kekanan untuk memperhatikan pengendara lain. Ternyata banyak sekali pengendara lelaki di sekitar wanita itu yang memandang tubuh wanita itu lekat-lekat. Dan anehnya si wanita merasa biasa saja. Seolah bangga dengan tubuhnya yang bisa menarik mata banyak pria. Ibrahim mengutuk dalam hati dengan fenomena yang dilihatnya itu. Dia menunduk sambil berharap agar kemacetan yang sudah seperti benang kusut itu segera terurai sehingga dia bisa melewati wanita seksi yang ada didepannya itu. Dia masih tetap menunduk. Tapi Ibrahim adalah seorang pemuda 20 tahunan dan setan di kiri-kanan selalu menggoda manusia. Syahwatnya yang bergejolak mendorongnya untuk mencuri-curi pandang ke arah wanita seksi di depannya itu. Sesekali dia hampir tergoda tapi ditahannya juga. Demi shalat yang baru 5 menit lalu dilaksanakannya. “Astaghfirullah!” ucapnya dalam hati.
Akhirnya kemacetan itu terurai juga. Dia pun segera melewati wanita itu dan melanjutkan perjalanan. Sesekali terbayang tubuh seksi yang sempat terlihat olehnya tadi. dia beristighfar lagi, tapi gambaran wanita seksi itu telah ada di memorinya, walaupun dia berusaha melupakannya dia akan tetap ada disitu.

Ibrahim berusaha berjalan dengan tenang . Dia mengontrol kecepatan diantara 40-50 km/jam.Dibacanya ayat-ayat Qur'an yang dihapalnya, dia bermaksud menenangakan hatinya dan mengembalikan kadar keimanannya yang tadi sempat goyah. Tempat mengajarnya masih sekitar 10 km lagi. Tidak berapa lama lagi dia melawati sebuah kawasan sekolah. Terdapat dua sekolah menengah atas, satu sekolah menengah pertama dan satu kampus yang kesemuanya berdekatan dan berhadap-hadapan. Sehingga jalan di kawasan itu di penuhi dengan polisi tidur. 

Sekitar radius 100 meter Ibrahim sudah melihat situasi di depan sekolah sangat ramai. Sepertinya mereka baru mengadakan suatu acara yang baru selesai sore ini dan sekarang mereka sudah keluar dari gerbang sekolah untuk beranjak pulang. Radius 50 meter Ibrahim sudah menurunkan laju kendaraannya.Dipingir jalan dilihatnya sebuah spanduk bertuliskan “Pekan Kreasi Seni Siswa SMA seJakarta Timur" dugaannya tepat bahwa di kawasan sekolah ini baru diadakan acara. 

Ketika dia memasuki jalanan di kawasan tersebut dia terpaksa mengendarai motornya dengan sangat pelan. Selain karena polisi tidur yang tidak sedikit. Jalan itu juga dibanjiri anak sekolah yang hampir menutup 1/2 badan jalan dikiri dan kanan. Banyak juga anak-anak sekolah yang menyeberang suka sembarangan. Sekelompok tim cheerleaders menyebrang dengan santainya di depan jalan yang akan dilewati Ibrahim. Dia terpaksa berhenti dan lagi-lagi, dadanya yang tadi belum lama surut, kembali berdesir lebih kencang lagi. Sebab tim cheerleaders yang lewat di depannya itu memakai pakaian yang tak kurang seksi. Membuka-buka aurat sekenanya saja, ketika itu ibrahim sudah tidak sadar lagi. Matanya tak bisa dipalingkan, setan telah menguasai nya dan dia menuruti pandangannya mengikuti anak -anak sekolah yang seksi-seksi itu, selepas dia melewati kelompok cheerleaders itu, dia masih melihat di pinggir-pinggir jalan yang di penuhi siswi- siswi yang juga tak sedikit yang berpakaian ketat, seolah dia ingin memuaskan pandangannya yang sejak tadi ditahan-tahan. 

Sampai akhirnya dia melewati kawasan sekolah itu, dia baru tersadar. sesuatu mengganjal dihatinya, perasaan tidak enak, perasaan bersalah. Dia sadar bahwa dia telah berdosa dengan mengikuti pandangannya yang dipenuhi syahwat itu. Ibrahim beristighfar sambil mengutuki dirinya. Kemudian tak berapa lama, dia menghentikan motornya. Tempat mengajarnya sebentar lagi akan sampai, tapi dia tidak mau melanjutkannya. Dia mengeluarkan telpon genggam dari tangannya dan segera mengirim pesan singkat ke sebuah nomor disitu, bunyi pesan itu : “bu, tolong gantiin saya mengajar dulu hari ini, saya tidak bisa datang”. Dia mengirim pesan itu ke nomor hp dengan inisial bu Musdah, orang yang punya rumah tempatnya mengajar mengaji anak-anak. Ibu itu bisa menggantikannya mengajar. sebab dia juga sudah banyak belajar kepada Ibrahim.

Ibrahim melanjutkan perjalanannya, tapi tidak ketempat mengaji itu melainkan ke sebuah masjid yang tidak jauh dari tempatnya berhenti. Dia sudah hapal masjid itu karena beberapa kali singgah disana. Dia kembali berwudhu. Walaupun wudhu asarnya belum batal, tapi baginya sudah batal, sebab dia merasa sudah tidak suci lagi. Matanya sudah bermaksiat. Dia ingin membersihkan matanya lagi dengan wudhu itu, dia berharap dosanya menetes keluar dari ujung-ujung matanya bersama air wudhu itu. Dia berharap Allah mengampuninya. 

Selesai wudhu dia masuk kedalam masjid dan langsung menegakkan shalat tahiyyatul masjid 2 rakaat. Dalam sujud dia berulang kali memohon ampun kepada Allah. Selesai salam dia langsung mengambil posisi duduk sila. Kepalanya tertunduk. Dia mencoba merenung atas perbuatannaya dan pertanyaan-pertanyaan timbul di kepalanya, “bagaimana mungkin? aku yang seorang guru ngaji, yang seharusnya jadi contoh teladan berbuat seperti itu, aku tidak pantas berdakwah!”. “tapi kalau aku tidak berdakwah siapa yang akan berdakwah? siapa yang mau? tapi kalau aku berdakwah aku seperti seorang munafik? malahaku yang berulang kali menjadi terdakwah. terdakwah oleh keburukan-keburukan seperti tadi? bagaimana ini? Allahh...!!” dia mendesah, kemudian diam sesaat, dia termenung lagi, dan kali ini dia berpikir lagi tentang apa yang barusan dia lewati. Tentang wanita yang tidak menjaga auratnya. Tentang bahaya fitnahnya, yang banyak disebut dalam hadits, dan sekarang dia sendiri yang merasakannya. Tentang dirinya yang bermaksiat padahal belum lama beribadah, seolah-olah ibadah itu tidak dapat membentenginya dari kemaksiatan. Tentang anak sekolah yang juga tergerus zaman dan adat kebarat-baratan. Tentang minimnya pelajaran agama bagi mereka, tentang sistem pendidikan yang hanya mengutamakan intelektualitas diatas moralitas. Tentang perang pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam melalui fashion dan media. Yang kini dia rasakan sendiri pengaruhnya. Bahkan terhadap orang yang belajar agama seperti dia? konon lagi dengan yang tidak belajar agama, pikirnya? Juga tentang usia ideal menikah yang diserukan pemerintah, seolah olah melarang orang untuk nikah muda, tetapi tidak serta-merta menindak orang yang"kawin" muda. Ahh.. konyol sekali. Padahal rasul jelas menyuruh orang untuk bersegera nikah untuk menjaga hati dan menundukkan pandangan. Sehingga tercipta masyarakat yang terjaga dari tindak asusila seperti pemerkosaan, mesum, pornografi, dll. Atau setidaknya menguranginya. Ahh.. ingin sekali ia berbuat sesuatu untuk memperbaikinya, tetapi dia juga ragu akan kekuatannya. Apalagi setelah dia ingat peristiwa yang seperti hari ini sudah berkali-kali dialaminya. Kalah dengan godaan-godaan. Semua pikiran-pikiran itu berkecamuk didalam kepala Ibrahim. Berputar-putar, menjalar, merangkai, sampai akhirnya menarik benang kesimpulan: inilah zaman yang disebut sebut rasul sebagai zaman huru hara. Fitnah dimana-mana, sehingga seorang yang beriman paginya, kafir pada sorenya. Zaman dimana wanita-wanita berpakaian tapi telanjang. Zaman dimana rasul menganjurkan padanya untuk uzlah ke lembah-lembah dengan membawa kambing kambing ternaknya, untuk menyelamatkan agamanya, dan semua kesimpulan ini cocok bagi pemuda seperti dia, sebab dia merasa hampir-hampir mati dalam pertarungan dihatinya. Ketika dia dengan semangat dakwahnya, berdakwah ditempat yang dipenuhi fitnah seperti yang diketahui dan dialaminya, lain halnya dengan orang orang yang sudah menikah. yang sudah mempunyai penawar atas fitnah terbesar itu, maka sebagaimana kesimpulan yang sudah menjadi pemikirannya, terbitlah keputusan untuk memaklumkan pemikiran itu pada dirinya. Dia pun pulang, mengambil jalan itu; uzlah sebelum menikah!

REZA
Mahasiswa elTahfidh
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Dilema Da'i Muda Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah