728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 21 February 2015

Cemburu Buta Virus yang Merusak Rumah Tangga Harmonis?

MUHARRIKDAKWAH - Punya rasa cemburu adalah fitrah manusia. Menambah rasa cinta dan membuat hubungan pernikahan menjadi semakin mesra. Tetapi atas dasar alasan cemburu pula, banyak orang berkelahi, bercerai atau saling menyakiti. Makanya, cemburu boleh, asal jangan buta.

Fitrah cemburu dalam satu hubungan

Bicara soal cemburu, tentunya akan berbicara soal hubungan dekat, sebab, cemburu menurut psikolog klinis Ayala Malach Pines merupakan satu kompleks reaksi atas munculnya ancaman pada satu hubungan yang tengah berlangsung.

Akar dari reaksi cemburu adalah tumbuhnya rasa khawatir akan hilang atau berkurangnya kualitas hubungan yang selama ini sudah terjalin. Tak heran isteri bisa cemburu pada suami, adik pada kakak, teman dekat pada teman lain, suami pada anak dan banyak lagi. Sebab, orang-orang yang sedang dilanda cemburu ini sesungguhnya tengah merasa khawatir akan kehilangan perhatian, kasih sayang, waktu bersama atau bahkan ‘benar-benar’ kehilangan orang yang dicintainya ini karena memilih beralih hubungan pada pihak lain.

Wujud kekhawatiran dalam cemburu bisa muncul dalam banyak rupa. Bisa dalam bentuk rasa tak nyaman, tak suka, penolakan bahkan ‘serangan’ pada objek cemburunya. Dalam tingkat berlebih, orang bahkan rela berbuat kejahatan dengan alasan cemburu. Cemburu buta namanya, dimana emosi telah menyulut bara cemburu hingga menutupi ketenangan berpikir dan kejernihan hati.

Namun, dari sisi lain, cemburu justru menunjukkan adanya ‘pengakuan’ sekaligus penghargaan pada sebuah hubungan. Karena begitu bernilainya hubungan yang terjalin bagi dirinya, karena rasa cinta, kasih dan sayangnya, dan karena teguhnya seseorang menjaga komitmen yang dibangunnya bersama pasangan hidupnya, membuat seseorang secara fitrati akan mencegah semaksimal mungkin segala peluang yang bisa membawa perubahan negatif terhadap hubungan yang mereka miliki.

Berangkat dari prasangka maupun logika

Namun, karena bermain dalam tataran emosi dan rasa, cemburu kadang sulit diduga kehadirannya. Yang jelas, psikolog Rienny Hassan mengindikasikan, kebanyakan cemburu justru berasal dari prasangka negatif yang tidak didukung oleh data-data akurat namun diyakini kebenarannya. Hal ini biasanya didorong oleh rasa memiliki-posesif berlebihan atau sebaliknya sikap inadequate-ketidakberdayaan berlebih.

Lulusan psikologi UI ini lantas mencontohkan bagaimana seorang suami posesif bisa saja cemburu pada tukang sayur yang jadi langganan isterinya belanja. Sementara seorang isteri inadequate sampai tidak mau punya pembantu perempuan karena cemburu bila nanti si pembantu melayani suaminya.

Cemburu model pertama ini jelas tidak sehat karena berfokus kepada perasaan sendiri, menyempitkan pintu saling percaya dan menghambat pasangan untuk mengembangkan diri.

“Bagaimana hidup akan menjadi tenang dan menyenangkan bila pasangan begitu memperturutkan prasangka negatif, yang tidak berdasar, bahkan yang tidak masuk akal. Sedikit-sedikit cemburu. Mau aktif tak bisa karena dicemburui. Akhirnya tentu tidak ada kebahagiaan lagi dalam pernikahan itu,” Rieny mengingatkan.

Tetapi, Rieny lantas menambahkan, sebagian asal kecemburuan lain justru muncul secara logis. Misalnya saja, ketika mendapati, melihat, mendengar atau merasakan sesuatu yang lain atau tidak pada tempatnya.

“Kok tiba-tiba saya tidak boleh pegang HP-nya lagi, kok sekarang kalau terima telepon sembunyi-sembunyi, atau kok sekarang penampilannya berubah, sehingga kita jadi bertanya-tanya, ‘ada apa ya?’ lantas menduga-duga dan merasakan kecemburuan.”

Cemburu model ini menurut Direktur People Skill & Development Center Jakarta tergolong dalam cemburu sehat karena didasari pada suatu alasan logis dan merupakan wujud early warning system, sebuah peringatan akan adanya ‘ancaman’ dalam hubungan.

“Cemburu ini bukan mengada-ada tetapi muncul karena sayangnya kita pada pasangan, karena ada cinta, dan karena teguh pada komitmen yang ingin dijaga,”

Tanggung jawab dan kontrol sosial

Bila menelisik pada berbagai hadits dan kajian shiroh nabi, Islam pun punya perhatian besar pada soal cemburu. Ustadzah Mumun Maemunah Al Hafizhah memaparkan bagaimana Islam melihat terjaganya rasa cemburu dalam rumah tangga justru sebagai sebuah wujud tanggung jawab dan kontrol sosial yang positif.

“Karena cemburu yang sehat tentu yang didasari pada keinginan agar pasangan hidup kita, keluarga kita selalu berada dalam bingkai ridho Allah, maka, berpijak dari surat At-tahrim ayat 6 yang berbicara soal perintah menjaga diri dan keluarga dari apa-apa yang bisa membawa ke neraka, maka cemburu bisa menjadi sebuah kontrol sosial pada kehidupan keluarga.”

Tengoklah satu hadits dari Ibnu Mas’ud, kata ibu empat anak ini pula, yang menunjukkan bagaimana Islam mengakomodir perasaan cemburu sepanjang dilandasi pada alasan-alasan syar’i.

“Ibnu Mas’ud r.a meriwayatkan, Sa’ad bin Ubadah suatu kali berkata: Kalau ketahuan seorang lelaki tengah bersama isteri saya, akan saya potong lehernya dengan pedang sebagai sangsinya. Kemudian Rasulullah Saw berkata kepada para sahabat: Herankah kalian dengan cemburunya Sa’ad itu? Ketahuilah bahwa saya lebih cemburu dari pada dia. Dan demi Allah saya cemburu berdasarkan kecemburuan Allah terhadap perbuatan keji, baik yang dilakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.” (HR Bukhari)

Logikanya, jelas pengajar tahfidz di berbagai lembaga tahfidz ini, kalau cemburu sudah dipagari alasan syar’i dan merupakan bentuk tanggungjawab dan kontrol sosial kita pada diri sendiri dan keluarga, ketiadaan rasa cemburu justru akan memicu kehancuran hubungan keluarga atau rusaknya pernikahan, karena menunjukkan tidak ada lagi kepedulian.

Ibaratnya, pasangan mau berlaku bagaimana pun, mau berbuat apa saja, mau menyerempet bahaya, atau mau terjebak dalam peluang-peluang bermaksiat, pasangannya cuek, masa bodoh.

Maka, kalau seorang suami tak peduli isterinya pergi dengan penampilan yang tak mengindahkan syariat, tak peduli perilakunya yang begitu bebas bergaul dengan rekan atau tetangga pria, atau seorang isteri tak peduli suaminya berdekat-dekat, penuh perhatian dan mesra dengan perempuan lain yang bukan mahromnya, hal itu sama sekali bukan menunjukkan besarnya kepercayaan dalam rumah tangga.

“Itu justru merupakan kesalahan besar karena membiarkan peluang menuju naar terbuka luas, padahal alasan untuk cemburunya kuat, berlandaskan syariat,” tegas istri Ustadz Sunardin Al Hafidz ini lagi.

Tak heran bila kemudian orang-orang yang tak punya kecemburuan model ini ditempatkan Allah kelak di hari akhir justru di neraka, karena di dunia justru membiarkan “neraka” menghampiri diri dan keluarganya.

“Tiga golongan yang tidak bakal masuk surga adalah mereka yang durhaka kepada orangtuanya, orang yang tidak memiliki rasa cemburu (duyuts) dan perempuan yang meniru-niru (ingin menyerupai) laki-laki.” (HR Nasa’i dan Hakim)

Cemburu sehat tidak buta

Lantas bagaimana membatasi agar cemburu kita benar-benar sehat dan tidak termasuk cemburu buta?

Pertama lihat landasan atau alasannya, syar’i atau sekedar mengada-ada, jawab Maemunah. Kedua, ukurlah, proporsional atau berlebihankah cemburu kita terutama dalam hal tindakan lanjutannya.

Misalnya, contoh ustadzah kelahiran Bogor ini, jangan sampai terjadi karena cemburu pada murid-murid pengajian suami, lantas tidak membolehkan suami mengisi pengajian lagi. Atau cemburu pada ibu mertua yang nampak lebih diperhatikan, lantas sang suami dicegah ke rumah mertua atau dicegah dari memberikan sesuatu pada mertua.

“Padahal, kalau kita paham, dalam Islam ibu mertua kan memang berhak mendapat perhatian lebih, sehingga cemburu macam itu tentu jadi salah kaprah,” sambungnya.

Tentu yang terbaik, sebelum cemburu terbelit menjadi buta, sejak awal menikah-meski tidak pula ada kata terlambat-komunikasi dialogis sudah dibangun diantara pasangan suami isteri. Sehingga, kalaupun suatu ketika ada cemburu muncul di tengah kehidupan pernikahan, ungkapan rasa cemburu dan alasan cemburu hingga solusi mengatasi cemburunya bisa dibicarakan secara terbuka tanpa ragu-ragu.

Cemburu yang wajar dan terbuka tentu membuat hubungan tambah mesra, karena yang satu meluapkan cemburu atas dasar cinta, sementara yang lain berbunga-bunga karena yakin semakin dicinta. Betapa indahnya… [Zirlyfera Jamil, wawancara: Ami dan Iyos]

Sumber: ummi-online
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Cemburu Buta Virus yang Merusak Rumah Tangga Harmonis? Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah