728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Sunday, 15 February 2015

Jangan Biarkan Perempuan Lain Menjadi Sahabat Istimewa Suami Anda

Ilustrasi (foto net)
Oleh: Cahyadi Takariawan

MUHARRIKDAKWAH - Di antara karakter istri salihah adalah mampu menjadi sahabat setia bagi suami dalam suka dan duka. Pada posting-an sebelumnya saya sampaikan makna persahabatan, dengan meminjam kisah yang dibacakan Torey Hayden kepada Sheila, dalam buku Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil. Intinya saya ingin mengingatkan bahwa suami-istri itu hendaknya memiliki kualitas persahabatan yang baik dan langgeng.

Untuk itu, istri salihah harus pandai menjaga dan merawat persahabatan, karena dengan itulah mereka akan bisa mendapatkan hubungan yang harmonis dan nyaman hingga akhir usia. Hendaknya istri pandai membersamai suami dalam segala keadaan kehidupan yang dihadapi oleh suami. Jangan sampai istri mengabaikan suami yang berdampak suami merasa tidak lagi diperlukan oleh istri, kecuali hanya dalam urusan bayar-membayar, atau hanya dalam urusan nafkah biologis semata.

Istri salihah harus pandai memberikan perhatian yang istimewa kepada suami, agar ia merasa diperlukan, dipercaya, diterima, dicintai, dan disayangi oleh istri. Suami akan merasa nyaman berada bersama istri sehingga tidak memerlukan pelarian atau pelampiasan akibat ketidaknyamanan berada di rumah bersama istri.

Waspadai Perhatian Istimewa Orang Ketiga

Awalnya suami merasa tidak mendapat perhatian dari istri. Hubungan terasa hambar dan tidak memiliki kedalaman arti. Dari sinilah ada semacam upaya mencari kekosongan hati, dengan sesuatu yang mampu mengisi. Suami berinteraksi dengan teman-teman kerja satu instansi, setiap hari bertemu, setiap hari berkomunikasi. Atau berinteraksi dengan teman-teman lama yang pernah memasuki hidupnya di masa lalu. Atau berinteraksi dengan perempuan yang pernah bersama dalam suatu kegiatan. Mulai ada benih-benih kecocokan hubungan dengan seorang perempuan lain. Bukan istrinya.

Hubungan berlanjut lebih jauh. Mereka mulai mengobrolkan hal-hal pribadi, bukan lagi urusan kantor atau pekerjaan. Bersambung dengan kencan, jalan bareng, makan siang berdua, belanja, dan komunikasi intens melalui SMS, telepon, BBM, WhatsApp dan aneka fitur komunikasi di smartphone yang sangat memudahkan mereka menjalin hubungan khusus. Saling bertukar foto, saling bertukar informasi, saling bertukar cerita, disertai canda tawa.

Smartphone mulai di-lock dan diberi password. Ada sesuatu di smartphone itu yang tidak ingin diketahui sang istri. Ke mana pun pergi, smartphone selalu menyertai. Ke kamar mandi pun smartphone dibawa serta. Saat tidur, ia memilih memeluksmartphone yang keras, dibanding memeluk istri yang empuk. Malam-malam bisa terbangun karena ada notifikasi pesan masuk, dan ia ingin segera membacanya. Begitu bangun tidur di pagi hari, yang pertama dicari dan dilihat adalah smartphone. Ia tidak ingin sedetik pun berpisah dengan smartphone.

Suami merasa nyaman, karena mendapatkan sahabat. Seseorang yang bisa diajak mengobrol, diskusi, dan berkegiatan bersama. Ia merasa istimewa, ada hal-hal yang menjadi kebutuhannya yang terpenuhi dari sahabat yang satu ini. Ia lupa, bahwa kondisi itu tercipta karena keduanya sedang berada dalam suasana penjajagan, pendekatan, dan akhirnya merasa menemukan kecocokan. Hal serupa pernah ia temukan dari istrinya dulu saat awal berjumpa.

Hubungan bisa berlanjut lebih dari itu. Semakin lama perasaan suami menjadi semakin berbunga-bunga. Hal yang sangat diharapkan ia dapatkan dari istri, ternyata justru diberikan oleh perempuan lain. Mengobrol dengan istri terasa begitu menyebalkan dan menyiksa, namun mengobrol dengan si dia terasa demikian bahagia. Ada chemistry yang tercipta, membuat sang suami terlena bersama perempuan yang tidak halal baginya. Pada titik ini, istri sudah merasa curiga, namun sering kali suasananya sudah terlambat. Ibarat kanker, hubungan khusus suami dengan perempuan lain itu sudah berada dalam stadium empat.

Jika perasaan seperti itu terus dibiarkan bahkan sengaja dikembangkan, pasti akan semakin jauh pula hubungan di antara mereka, sampai ke tingkat yang menghancurkan keutuhan keluarga. Suami lebih memilih keasyikan dengan perempuan lain. Keluarga mereka sungguh di ujung bahaya. Kehancuran rumah tangga bisa menjadi akibat yang harus mereka tanggung akibat dari perbuatan yang mereka lakukan.

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Suami

Hindari situasi “keterlambatan” tersebut. Hendaknya istri selalu berusaha menjadi sahabat istimewa bagi suami. Jika sebagai istri Anda telah lupa bagaimana cara menghormati suami, lupa memperhatikan suami, lupa mendengarkan suami, lupa melayani suami, lupa cara membahagiakan suami, maka berhati-hatilah akan hadirnya perempuan lain yang akan mampu menghormati, memperhatikan, mendengarkan, melayani, dan membahagiakan suami Anda.

Jika sebagai istri, Anda tidak mampu mengisi hati suami, tidak bisa menjadi sahabat bagi suami, tidak bisa nyaman berbincang dengan suami, tidak mengerti cara membahagiakan suami, tidak berusaha untuk menyenangkan hati suami, maka berhati-hatilah akan hadirnya perempuan lain yang bisa mengisi hati suami, menjadi sahabat suami, nyaman berbincang dengan suami, bahkan mampu menyenangkan hati suami.

Untuk itu, jadilah sahabat istimewa bagi suami Anda. Para istri, jangan biarkan ada perempuan lain yang lebih istimewa di hati suami Anda. Jadikan diri Anda sahabat yang paling istimewa di hati suami. Bukan dengan jalan melabrak dan mencakar semua perempuan yang memperhatikan suami Anda, namun dengan memperbaiki kualitas hubungan dan pelayanan kepada suami. Bukan dengan jalan mengamuk dan meneror perempuan yang mengganggu suami Anda, namun dengan jalan memperbaiki penampilan untuk suami. Bukan dengan jalan membawa polisi untuk menangkap perempuan yang mencuri hati suami Anda, namun dengan menjadi sahabat terbaik bagi suami.

Menjadi Sahabat Suami dalam Suka dan Duka

Menemani suami yang kaya raya, pejabat tinggi, atau pengusaha sukses, baik hati, setia, macho dan berwajah ganteng, tentu mudah dilakukan istri. Menjadi sahabat dalam keadaan suka sangat mudah dilakukan, dibandingkan dengan menjadi sahabat di kala duka. Saat suami jatuh miskin, banyak hutang, usahanya terpuruk, rumah dan mobil harus dijual, tidak memiliki uang untuk makan, tentu lebih berat untuk menemani dan menjadi sahabat setianya.

Ada kisah inspiratif di buku “Jendela Keluarga Wanita Pendamba Cinta” karya Sri Lestari. Seorang istri yang harus menghadapi berbagai ujian berat dalam kehidupannya. Baru kali ini ia merasakan betapa beratnya menghadapi cobaan yang datangnya silih berganti. Anak sulungnya baru saja keluar dari rumah sakit karena sakit demam berdarah. Tak lama kemudian si sulung harus ke rumah sakit lagi karena kecelakaan. Padahal di rumah bayinya belum genap dua bulan dan dua balita adik si sulung perlu juga mendapat perhatian.

Dalam situasi yang berat itu, ia mencoba tegar. Ia mengetahui bahwa banyak orang lain yang cobaannya lebih berat dari dirinya. Ia juga selalu terinspirasi dari ketegaran istri seorang ustadz yang menghadapi peristiwa gempa Yogyakarta, 27 Mei 2006. Rumah sang ustadz hancur karena gempa, suami dan bayinya yang berumur 8 bulan tidak sadarkan diri, dalam keadaan kritis karena terkena reruntuhan bangunan. Tentu istri sang ustadz menjadi panik dengan kejadian itu. Namun luar biasa ketegarannya. Ia mampu menghadapi situasi berat itu dengan tenang, dan bahkan mampu menenangkan suaminya yang tengah kritis.

Ketika sang suami sadar dari pingsan, sedangkan anak bayinya masih dalam masa kritis setelah menjalani operasi kepala karena tulang tengkorak si bayi terkena reruntuhan bangunan, ia segera menghampiri sang suami dan membisikkan kepadanya, “Si kecil sudah ada yang menangani. Abi* tenang saja, Abi harus banyak istirahat tidak boleh banyak pikiran supaya kesehatannya cepat pulih!”

Luar biasa ketegaran sang istri. Dalam situasi kritis itu sang istri masih memberikan motivasi kepada suami yang tengah lemah akibat musibah gempa. Inilah istri salihah yang menenangkan suami, pandai memotivasi suami, dan menjadi sahabat di kala suka dan duka. Ia tidak meninggalkan suami di saat situasi kritis, justru menemani dan menguatkan jiwanya. Ia sendiri berada dalam situasi yang sulit karena harus mengurus suami dan bayi yang keduanya dirawat intensif di rumah sakit. Namun di saat yang sama, ia tidak boleh tampak bingung dan stres, karena harus menenangkan dan membesarkan hati suami agar cepat sembuh dan pulih kesehatannya.

Hendaknya istri selalu menjadi sahabat setia bagi suami, dalam semua kondisinya. Dalam suka dan duka. Dalam bahagia dan derita. Dalam tawa dan air mata. Dalam kesulitan dan kemudahan. Dalam kejayaan dan keterpurukan. Dalam kekayaan dan kemiskinan. Dalam pujian dan celaan. Semua dihadapi bersama, istri menjadi sahabat yang setia menemani suami dalam melewati semua kondisi kehidupannya.

*) Abi : ayah, dalam bahasa Arab. Sama dengan istilah Dady, Papa, Papi, dan sebutan lain untuk seorang suami yang sudah memiliki anak.

Bahan Bacaan :

John M. Gottman dan Nan Silver, Disayang Suami Sampai Mati, Penerbit : Kaifa, 2001

Sri Lestari, Jendela Keluarga Wanita Pendamba Cinta, Penerbit : Pro U Media, Yogyakarta, 2014

  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Jangan Biarkan Perempuan Lain Menjadi Sahabat Istimewa Suami Anda Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah