728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Wednesday, 18 March 2015

Ibu-ibu Tawanan Palestina, Kisah Derita Tanpa Akhir

MUHARRIKDAKWAH, Gaza - Kesedihan hatinya sulit diungkapkan dalam kata-kata. Ibu tawanan Palestina Majid Abu Qamiz hanya bisa mengatakan, “Saya rindu Majid, ingin sekali melihatnya”.

Derita ibu Majid bertambah saat anak perempuannya, Aisyah meninggal dunia. Ia pun menangis namun tidak tahu apakah karena kehilangan anak perempuannya atau karena tak bisa melihat Majid yang ditahan di penjara Israel. Perempuan Palestina yang senasib dengan ibu Majid sangat banyak namun disatukan dengan satu kata “derita”.

Ummu Majid, begitu ia disapa. Ia berusaha menyembunyikan air matanya. Namun perasaan dan deritanya tidak bisa disembunyikan karena perpisahan dengan anaknya yang sejak 8 tahun silam.

Setelah menghela nafas panjang, Ummu Majid mengatakan, “Saya takut mati sebelum melihat anak saya bebas.” Ia khawatir seperti saudara perempuan Majid yang akhirnya meninggal dunia sebelum melihat kakaknya bebas yang ditahan sejak 2006.

Ia sempat berharap Majid yang divonis 19 tahun oleh Zionis dalam daftar tawanan yang dibebaskan dalam pertukaranan tawanan sebelumnya dengan Hamas. Namun agaknya Ummu Majid harus lebih lama menunggu beberapa tahun untuk pembebasan anaknya dalam sejumlah kesepakatan pertukaran tawanan.

Kunjungan Menyakitkan

Tiga atau dua bulan lalu, Ummu Majid diperkenankan Israel mengunjungi anaknya, pada saat sering penjajah menghalangi kunjungan tawanan Palestina di penjara mereka dengan alasan dibuat-buat. Ummu Majid melihat anaknya kurus, turun berat badannya hingga 20 kg setelah sering mogok makan. Namun Majid menunjukkan spiritnya yang kuat. Bahkan ia meminta ibunya bersabar.

Majid memiliki dua anak; Zainab (10) dan Yusuf (9) yang sering mengobati rindu mereka kepada ayahnya dengan memeluki fotonya. Setiap hari mereka memanggil-manggil “ayah-ayah”. Kemudian disusul dengan linangan air matanya. “Hanya Allah sebaik-baik penolong”. Kata mereka.

Ummu Majid hanya bisa meminta kepada dunia agar masalah tawanan Palestina di penjara Israel menjadi prioritas. “Kami hidup di Gaza dalam penjara besar dan hidup sulit. Saya bisa bayangkan bagaimana nasib tawanan di penjara Israel yang kehilangan hak-haknya yang paling mendasar”.

Kisah derita yang sama dirasakan oleh ibu tawanan Muhammad Jabir yang divonis 18 tahun penjara oleh Israel, 13 sudah dia habiskan.

Ummu Jabir, begitu akrab disapa, mengisahkan setiap enam bulan atau lebih, Israel mengizinkannya menengok anaknya ke penjara. Namun itupun kadang tidak tahu dimana posisinya, sebab Israel sering memindah-mindahkannya.

Ia merasa sangat sedih karena pada kunjungan terakhir melihat Jabir sakit dan belum diobati.

Yang dharapkan oleh Ummu Jabir hanya bersabar ada kesepakatan pertukaran tawanan lagi antara Israel dengan kelompok pejuang Hamas dengan izin Allah. “Saya ingin melihatnya bebas dan saya ingin menikahkannya dengan izin Allah.” Tegas Ummu Jabir. [at/infopalestina.com]
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ibu-ibu Tawanan Palestina, Kisah Derita Tanpa Akhir Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah