728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Monday, 16 March 2015

Ingin Bicara, Tapi Takut Reaksi Pasangan?

Ilustrasi (foto net)
MUHARRIKDAKWAH - Setelah menikah, suasana interaksi suami dan istri akan menyenangkan apabilakeduanya bersedia bersikap saling terbuka. Komunikasi yang melegakan adalah kunci awal yang efektif untuk menghadapi tantangan dan memecahkan persoalan dalam kehidupan pernikahan. Hendaknya suami dan isteri saling terbuka dan bebas berbicara menyampaikan perasaan serta keinginan dirinya secara leluasa. Jangan ada hambatan komunikasi antara mereka berdua sejak dari awalnya. Biasakan diri berkomunikasi dengan penuh keterbukaan dan kelegaan hati.

Itulah cara saling mengenal yang amat efektif. Dengan komunikasi, anda bisa menyingkat masa pengenalan anda dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan apabila tidak bersikap terbuka. Tentu saja pengenalan yang diperlukan antara suami isteri tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat permukaan saja, diperlukan pengenalan yang mendalam dan tuntas. Mengenalkan segala hal yang diperlukan, meskipun tentu saja ada hal-hal tertentu yang berkaitan dengan ketidakbaikan masa lalu yang tak perlu diceritakan demi menjaga perasaan pasangan anda.

Apabila dari hari-hari pertama yang menyenangkan itu keterbukaan sudah bisa dilakukan, hendaklah suasana itu tetap dijaga dan dipertahankan untuk seterusnya. Keterbukaan adalah kunci utama menghadapi persoalan-persoalan kerumahtanggaan. Tanpa ini, yang terjadi adalah menumpuknya problem hingga tidak ada kejelasan penyelesaian. Keterbukaan adalah jalan penting menyelesaikan permasalahan.

Anda berdua perlu berbicara mengutarakan hal-hal yang anda sukai dan tidak sukai, keinginan dan harapan yang anda berikan kepada pasangan anda. Anda bisa terbuka tentang hal-hal yang berkaitan dengan kondisi diri anda sendiri untuk diketahui pasangan anda, dan anda perlu terbuka untuk menyampaikan cita-cita besar dalam kehidupan anda. Hingga menyangkut hal-hal teknis, anda bisa menyampaikan apa yang anda kehendaki atau tidak anda kehendaki. Cara seperti itu lebih mempercepat proses pengenalan anda kepada pasangan.

Takut Reaksi Pasangan

Dalam kehidupan keseharian, masing-masing bisa bicara serta mengungkapkan keinginan hati dan perasaan tanpa ada ketakutan dan sumbatan. Masing-masing menyampaikan kisah diri dan nasihat kepada pasangannya. Namun adakalanya muncul ketakutan atas reaksi yang akan diterima dari pasangan. Saat salah satu pihak dari suami atau istri ingin berbicara menyampaikan sesuatu kepada pasangan, namun muncul kekhawatiran “jangan-jangan ia bereaksi secara berlebihan”. Timbul reaksi dari pasangan yang tidak seperti harapan dirinya, ini yang menyebabkan enggan melakukan pembicaraan dengan pasangan.

Seorang isteri takut menyampaikan yang sesungguhnya tentang harapan atau masukan kepada suami lantaran takut respon suami akan mengecewakannya. Jangan-jangan suami akan menganggap remeh urusannya, jangan-jangan suami akan marah atau kekhawatiran lain. Demikian pula hal yang serupa dapat terjadi pada seorang suami. Ketika ia berbicara menyampaikan sesuatu ia memiliki kekhawatiran, jangan-jangan isterinya akan menangis berlebihan untuk suatu hal yang tidak begitu penting, atau jangan-jangan isteri akan mengomelinya.

Untuk mengurangi kekhawatiran tersebut dapat dilakukan beberapa cara sebagai berikut.

1. Buatlah kesepakatan tentang reaksi yang diharapkan dari pasangan

Hal yang akan membuat suasana nyaman adalah apabila reaksi pasangan sesuai dengan yang anda harapkan. Maka buatlah kesepakatan, tentang reaksi yang anda harapkan dari pasangan, dan reaksi yang diharapkan pasangan dari anda. Misalnya, sejak awal pasangan mengungkapkan bahwa ia ingin ketika curhat didengarkan dulu, bukannya langsung dikomentari. Bagaimanapun, antara laki-laki dan perempuan memiliki kecenderungan cara berkomunikasi yang berbeda.

Seorang perempuan seringkali merasa dengan menceritakan masalahnya, adalah bagian dari penyelesaian masalah, karena telah terkurangi beban psikologisnya. Pihak perempuan sering kali lebih verbal. Ia menginginkan suami berespon sebagaimana ia merespon masalah. Ia terutama hanya mengharap empati dari suami atas setiap masalah yang dihadapinya. Rasa empati itu sudah menjadi dukungan tersendiri bagi istri.

Sementara laki-laki, tidak terlalu suka jika menampakkan kegagalan dirinya. Ukuran berhasil atau gagal baginya adalah dari kemampuan menyelesaikan urusannya secara mandiri. Padahal rata-rata sikap perempuan suka memberikan pertolongan tanpa diminta. Ketika seorang laki-laki mengungkapkan sesuatu, perempuan akan membahasakan bahwa laki-laki tersebut membutuhkan banyak saran dan bantuan untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya ia akan memberikan intervensi yang berlebihan. Dan ini kadang-kadang mengecewakan pasangannya.

2. Komitmen tentang reaksi pasangan disampaikan di awal

Reaksi atau respon yang diharapkan dari pasangan hendaknya disampaikan sejak di awal pembicaraan. Jangan bersikap pasif dan membiarkan saja pasangan merespon dengan caranya sendiri, tanpa memperhatikan keinginan anda. Sebaliknya, anda juga tidak boleh bereaksi dengan cara anda sendiri, tanpa memperhatikan keinginan pasangan. Keduanya bisa menyampaikan harapan sejak di awal pembicaraan agar dimengerti oleh pasangan.

Komitmen yang dimaksud, misalnya dengan mengatakan, “Aku ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tolong engkau jangan tersinggung…” atau “Aku berharap, ini baru sekedar memberi tahu dulu, aku belum membutuhkan bantuan kongkritmu…” atau ungkapan lain yang anda harapkan. Ini akan sangat membantu sebagai referensi anda di masa selanjutnya tentang karakter dan harapan pasangan anda.

3. Jangan membuka aib masa lalu

Anda menikah dengan pasangan adalah untuk kehidupan di masa sekarang dan masa yang akan datang, bukan menikahi seseorang di masa lalunya. Maka segala bentuk aib anda dan pasangan di masa lalu, tidak boleh dibuka. Justru harus ditutup dengan taubat, bahkan taubat pun harus selalu diulang sepanjang masa, sampai dosa-dosa di masa lalu benar-benar bersih. Ciri seseorang yang sudah bertaubat dari kejelekan di masa lalunya adalah, ia tidak lagi mengingat kejadian-kejadian masa lalu tersebut. Ia sudah bersih dari ingatan dan pengaruh kejelekan di masa lalu. Kini dirinya menjadi seseorang baru, yang terlepas dari masa lalunya.

Misalnya seorang laki-laki yang di masa lalunya pernah memiliki banyak pacar dan melakukan perbuatan melanggar agama dengan para pacar itu. Perbuatan jelek dan salah itu tidak untuk diceritakan —apalagi dengan penuh kebanggaan— kepada pasangan, atau kepada siapapun juga. Perbuatan itu harus ditutup dengan mengulang-ulang taubat, agar dirinya bersih dari pengaruh kejehatan di masa lalu itu, untuk menyambut kehidupan di masa sekarang dan yang akan datang dengan lebih baik.

Demikian pula seorang perempuan yang pernah memiliki masa lalu kelam dengan banyak laki-laki yang menikmati tubuhnya, hendaknya menutup masa lalu tersebut dengan mengulang-ulang taubat sampai bersih dari pengaruh kejehatan di masa lalu itu. Jangan lagi diceritakan hal itu, karena kalau masih diceritakan berarti masih dikenang dan disimpan dalam memori. Itu berarti belum selesai taubatnya.

4. Jangan membuka lintasan perasaan tertarik terhadap pihak ketiga kepada pasangan

Keterbukaan tentu saja ada batasnya. Tidak semua hal bisa dibuka kepada pasangan. Selain tidak membuka aib di masa lalu, yang harus ditutup juga adalah lintasan perasaan ketertarikan terhadap pihak ketiga. Misalnya, seorang suami merasa tertarik dengan seorang perempuan teman kerjanya. Perasaan tertarik ini jika diungkapkan secara terbuka kepada pasangan akan potensial menimbulkan kecemburuan dan konflik yang bisa panjang urusannya. Jangan meneruskan perasaan tertarik tersebut, segera hentikan dan kembali kepada pasangan. Hapus saja memori ketertarikan itu.

Demikian pula seorang istri yang tertarik dengan laki-laki lain, jangan pernah menceritakan perasaan ketertarikan itu kepada suami. Jika istri menceritakan dengan berbunga-bunga kepada suami rasa ketertarikan kepada laki-laki lain tersebut, potensial membakar perasaan cemburu suami dan bisa berbuntut panjang dalam kehidupan mereka. Maka istri harus menutup lintasan perasaan tertarik tersebut, jangan diteruskan dan dikembangkan. Segera mendekat kepada suami agar tidak membuat jarak yang semakin jauh.

5. Membuka diri untuk mendapat masukan dari pasangan

Kesediaan diri untuk menerima masukan dan kritik konstruktif dari pasanganmerupakan unsur yang membentuk suasana interaksi suami istri yang menyenangkan. Hendaknya suami dan istri tidak menutup diri dari masukan yang ditujukan atas kelemahan dan kekurangan diri. Apabila suami dan isteri telah merasa benar sendiri, dan mereka menutup masukan-masukan dari pihak lain, itu adalah awal dari kerapuhan hidup berumah tangga.

Namun kritik dan masukan harus dilakukan dengan penuh kelembutan, bukan dengan emosi dan kemarahan. Gunakan metode positif untuk mengungkapkan kritikan, jangan menggunakan ungkapan negatif. Contoh ungkapan negatif adalah, “Aku tidak suka badanmu yang gembrot”. Gunakan ungkapan positif, “Aku bangga memiliki istri cantik seperti kamu. Namun akan lebih cantik jika engkau mengikuti program untuk sedikit menurunkan berat badanmu”.

Mulai Saja, Jangan Menunggu

Jika selama ini anda termasuk tipe orang tertutup, mungkin cukup sulit bagi anda untuk memulai keterbukaan tersebut. Diperlukan energi yang lebih untuk memulai bersikap terbuka, sebab kadang yang dijumpai bukanlah masalah keberanian, akan tetapi tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan keterbukaan tersebut. Bagaimana mengungkapkan keinginan, bagaimana menyampaikan harapan, bagaimana mengutarakan pendapat. Mungkin anda tidak tahu bagaimana anda harus mengawalinya.

Ingatlah bahwa segala sesuatu yang sulit biasanya adalah pada awalnya. Memulai sesuatu tidaklah gampang, diperlukan kesanggupan diri untuk mengiring langkah pertama. Sesuatu yang tidak biasa dilakukan, memang terasa risih ketika pertama kali melakukan.

Jika anda sulit untuk menyampaikannya secara lisan, mengapa anda tidak tuliskan saja? Bahasa tulisan seringkali lebih matang lantaran anda dapat memikirnya berulang-ulang. Ketika anda mengungkapkan sesuatu secara verbal, kadangkala terputus di tengah jalan lantaran respon pasangan anda tidak menyenangkan atau tidak sesuai yang anda harapkan. Pada kaum perempuan, kadang tidak bisa menguasai perasaannya sendiri saat ingin mengungkapkan sesuatu. Misalnya ia menjadi menangis tersedu dan kehilangan kata-kata sebelum tuntas maksudnya. Bahasa tulis, mungkin lebih baik. Anda dapat menyebutnya sebagai “surat cinta”.

Di zaman cyber yang serba canggih saat ini, kadang masih perlu ada surat kertas dan tertulis tangan. Tidak semuanya dengan smartphone. Sebagai surat cinta tentu saja anda harus mengakhirinya dengan cinta sekalipun mungkin anda mengawalinya dengan kemarahan. Awalnya mungkin sulit untuk membuat atau melakukan dengan cara ini, namun anda akan terbiasa dan merasakan manfaatnya. Sebaiknya juga anda membuat surat balasannya sendiri. Jangan anda membebani pasangan untuk meraba-raba apa keinginan kita sebenarnya dengan menulis surat itu.

Untuk memperoleh respon yang anda harapkan, lebih baik buatlah balasannya sendiri. Balasan yang anda kehendaki. Seorang teman pernah mencoba membuat surat “cinta” ini. Kemudian suaminya hanya membaca dan tertawa. Ia sakit hati dan bersumpah untuk tidak menulis surat lagi. Padahal kalau ia mau menulis balasan yang ia harapkan suaminya akan bisa memahami keinginannya, dan dia tidak akan kecewa.

Ada kalanya surat itu belum kita sampaikan pun sudah membuat kita lega dan tidak ingin menyampaikan lagi. Andapun dapat menyampaikan balasannya dulu, baru suratnya agar pasangan anda lebih memahami maksud anda. Atau anda dapat memberikan bersama-sama. Anda dapat menyampaikan surat itu diam-diam dengan menyelipkan pada sakunya. Andapun dapat membahas bersama-sama atau anda membacakan dengan ekspresi lucu sehingga menambah suasana kemesraan di antara anda berdua. Banyak seninya dan anda akan merasakan manfaatnya.

Keterbukaan mungkin tidak gampang, namun dengan pembiasaan diri, sesuatu akan menjadi lancar dan mudah. Yang berat memang mengawalinya. Tapi, bukankah anda memang ingin berubah menuju keadaan yang lebih baik ? Maka mulailah.
___________________
Oleh: Cahyadi Takariawan
Penulis Buku Serial "Wonderful Family"; Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konselor di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC)

Sumber: kompasiana.com/PakCah
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ingin Bicara, Tapi Takut Reaksi Pasangan? Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah