728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Tuesday, 31 March 2015

Menjadi Suami Penuh Cinta, Mengapa Tidak?

Ilustrasi (foto net)
MUHARRIKDAKWAH - Suami dan istri adalah dua orang yang saling mencinta, untuk itulah mereka hidup berumah tangga. Walaupun sering kita dengar orang yang mengatakan sudah tidak cinta kepada pasangannya, namun tentu saja hal itu adalah sebuah ’kesalahan’. Karena sebagai pasangan, semestinya mereka selalu menjaga rasa cinta dalam jiwa mereka, dan tidak membiarkan cinta itu sirna begitu saja. Seperti ungkapan ’habis menis sepah dibuang’.

Rasa cinta antara suami dan istri memang bersifat fluktuatif. Kadang terasa begitu kuat menggelora, namun ada saat mengalami pelemahan hingga titik dimana tidak bisa lagi dirasakan kehadirannya. Maka cinta tidak hanya untuk dirasakan oleh masing-masing pihak, tetapi harus dihadirkan, dijaga bahkan ditumbuhkembangkan senantiasa. Menghadirkan dan menjaga rasa cinta adalah bagian yang utuh dan bukti dari kesungguhan hidup berumah tangga. Untuk itu, para suami hendaknya selalu menyediakan cinta dalam jiwa untuk istri dan anak-anaknya.

Ini adalah ’tugas’ ketiga para suami, yaitu menjadi suami yang penuh cinta kepada istrinya. Dua postingan sebelumnya sudah saya sampaikan tugas pertama adalah menjadi suami yang penuh pengertian kepada istri, tugas kedua adalah menjadi suami yang penuh perhatian kepada istri, dan sekarang saya sampaikan tugas ketiga dari Sepuluh Tugas Suami.

Ada beberapa cara untuk menghadirkan, menjaga dan menumbuhkan rasa cinta dalam diri suami kepada istri, di antaranya adalah:

1. Hadirkan Cinta dengan Ungkapan Verbal

”Perlukah cinta diungkapkan secara verbal?” Laki-laki memang makhluk yang irit bicara, namun perempuan makhluk yang sangat verbal. Suami kurang suka ungkapan verbal, sementara istri sangat menyukai ungkapan verbal. Untuk itu, keduanya harus mendekatkan perbedaan itu pada satu titik yang membuat keduanya bahagia. Mengungkapkan cinta dengan verbal, apa memang demikian sulitnya?

Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa verbal dalam berkomunikasi amat diperlukan untuk menjaga keharmonisan. Kendatipun masing-masing anggota keluarga telah saling mencintai, akan tetapi mengungkapkan dalam bentuk bahasa verbal akan lebih bisa memberikan kekuatan atas makna kecintaan tersebut. Ungkapan verbal amat disukai para istri, kendatipun kebanyakan laki-laki kurang menyukainya. Bagi istri, ungkapan verbal dari suami amat disukai, bahkan ditunggu-tunggu.

“I love you Dek….”

“Dek, aku amat menyukai kamu….”

“Waw, engkau cantik sekali…. Senang sekali aku melihatnya…”

“Terima kasih tehnya, Dek….”

Perhatikan bagaimana Nabi Saw mengungkapkan perasaan cinta dengan bahasa verbal kepada Aisyah, “Aku bermimpi melihatmu di dalam tidur. Engkau dibawa oleh malaikat dengan sepotong kain sutra yang sangat bagus. Lalu malaikat itu berkata kepadaku, ‘Ini (calon) istrimu. Setelah aku buka kain itu, tampaklah wajahnya, dan ternyata adalah engkau.’ Maka aku berkata, ‘Kalau hal ini dari sisi Allah pasti akan terlaksana’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ungkapan verbal Nabi Saw dalam hadits di atas menunjukkan unsur pujian dan sanjungan kepada istri beliau, Aisyah r.a., “Engkau dibawa oleh malaikat dengan sepotong kain sutra yang sangat bagus.” Kalimat indah seperti ini membuat istri bahagia karena merasa dicintai oleh suami.

2. Hadirkan Cinta dengan Ungkapan Nonverbal

Senyuman, belaian sayang, kemesraan hubungan, wajah ceria, intonasi kalimat yang lembut, dan mimik muka ceria adalah contoh ungkapan nonverbal. Semestinya tidak boleh ada pertentangan antara ungkapan verbal dengan bahasa nonverbal yang dimunculkan. Suami yang senantiasa bersikap lembut dengan istri, banyak belaian dan senyuman, akan senantiasa menenteramkan hati istri.

Suami yang mengatakan ”I love you” namun sambil menampar wajah istrinya adalah sikap paradoks. Yang akan lebih terasakan oleh istri adalah sakitnya ditampar wajah, bukan kemesraan ucapan ’I love you’. Maka suami hendaknya berusaha menghadirkan cinta dengan tindakan nyata, tidak hanya dengan kata-kata. Bentakan, pukulan, tamparan, tendangan suami kepada istri jelas buklan tindakan yang bisa dirasakan sebagai cinta.

Nabi Saw mengajarkan kepada kita agar berlaku romantis kepada istri, dengan tindakan sederhana seperti menyuapi istri. ”Dan sesungguhnya jika engkau memberikan nafkah maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Contoh lainnya adalah memberikan hadiah yang menyenangkan istri. Hadiah, sekecil dan sesederhana apa pun nilainya, tetap menyenangkan, apalagi ketika diberikan pada momen yang istimewa. Berikan hadiah dengan sesuatu yang bermanfaat dan disenangi oleh istri, seperti pakaian, peralatan rumah tangga, bunga, buku, atau bahkan sekedar jalan-jalan berdua dan makan ke luar rumah.

Demikian pula penampilan suami di hadapan istri, seperti pakaian yang rapi, rambut yang teratur, bau badan yang wangi, bau mulut yang segar, adalah bagian penting dalam menghadirkan cinta. Istri akan menangkap pesan cinta di balik penampilan segar suaminya. Cinta juga bisa dihadirkan dalam bentuk melakukan kegiatan bersama, hingga aktivitas yang sangat privasi seperti mandi.

Nabi Saw menampakkan kecintaan kepada Aisyah r.a. dengan mandi berdua dalam satu bejana. “Adalah Rasulullah Saw. Apabila mandi, beliau memulai dengan tangan kanan, lalu dituangi air, lalu dicucinya…. Dan aku pernah mandi bersama Rasulullah Saw. dalam satu bejana, padahal kami sedang junub,” ungkap A’isyah ra. “Dari satu bejana antara aku dan beliau, lalu beliau mendahuluiku mengambil air, sehingga aku berkata, ‘Biarkan untukku, biarkan untukku!’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Aisyah r.a. berkata, “Pada hari raya, orang-orang kulit hitam bermain perisai dari kulit dan sangkur maka kadang-kadang aku bertanya kepada Nabi Saw. dan kadang-kadang beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau suka melihatnya?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau lalu menempatkanku di belakang beliau dan pipiku menempel di pipi beliau” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mandi berdua dalam satu bejana, adalah ungkapan kecintaan Nabi Saw. terhadap istri beliau. Demikian juga ungkapan Aisyah ketika melihat pertunjukan, “… pipiku menempel di pipi beliau…” adalah sebentuk ungkapan cinta dan kasih sayang yang nyata.

Para suami hendaknya tidak kehabisan cara untuk menghadirkan cinta dalam keluarga. Jika mampu menjadi suami yang penuh cinta, akan membuat istri selalu merasa bahagia dan nyaman bersamanya.

_____________________________
Oleh: Cahyadi Takariawan
Penulis Buku Serial "Wonderful Family"; Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konselor di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC)

Sumber: kompasiana.com/PakCah
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Menjadi Suami Penuh Cinta, Mengapa Tidak? Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah