728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 21 March 2015

Menyadari Nikmat Teragung

MUHARRIKDAKWAH - Saudara, dalam posisi anda sebagai seorang muslim, pernahkah suatu ketika anda terbangun dipagi hari kemudain bertanya kepada diri anda, ”nikmat apakah yang paling besar yang Allah anugrahkan padaku hari ini?”

Suatu ungkapan menyebutkan, ‘besarnya kesyukuran akan sautu nikmat bergantung seberapa dalam kesadaran kita akan nikmat itu’. Artinya, semakin kita menyadari betapa besar nikmat itu, semakin kita mensyukurinya, sebaliknya semakin kita tidak mengetahui urgensi nikmat tersebut, semakin kecil tingkat kesyukuran kita. Lalu pertanyaannya apakah nikmat terbesar yang diberikan kepada kita sebagi seorang muslim?

Nikmat itu adalah, Iman. Bahwa pada hari ini Allah masih menjadikan kita sebagai orang yang beriman, orang orang islam. Wa man ahsanuu diiinammimman aslama wajhahu lillahi, Dan siapa yang lebih baik agamanya dari orang yang mengislamkan (memasrahkan) wajahnya kepada Allah,

Semua orang merugi, Innal insaana lafii khusrin. kaya, miskin, tua muda, sehat sakit, tampan, cantik, berkedudukan ataupun tidak, semuanya merugi, illalladziina aamanuu kecuali kalau dia memliki iman.

Sebab seorang yang mendapakan nikmat kekayaan didunia ini tanpa mendapatakn nikmat iman, hanya akan merasakan kenimatan itu didunia ini saja yang hitungannya hanya puluhan tahun. Sedang di akhirat nanti dia tidak akan mendapatkan kenikmatan sedikitpun. Padahal hitungan akhirat adalah ratusan, ribuan, jutaan, milayaran tahun bahkan tak terhingga. Khaalidiina fiihaa abadan, kekal didalamnya selama-lamanya.

Begitu pula dengan semua jenis nimat-nikmat yang lain yang tidak disertai dengan nikmat iman. Semuanya tidak berlangsung lama, terputus ketika ajal menjemput, dan setelah itu, yang tinggal hanya kesengsaraan.

Walladziina kafaruu wakadzabuu biaayaatinaa ulaa ika ashabunnari hum fihaa khooliduun, ‘orang orang yang kafir dan mendustakan ayat ayat kami mereka itulah penghuni neraka, kekal didalamnya’. Na’uudzubillahi mindzalik.

Adapun seorang yang beriman ketika didunia kemudian dia mati dalam keadaan beriman juga, maka dia akan merasakan lagi semua jenis kenikmatan yang pernah dia rasakan didunia ketika diakhirat nanti.

Jika dia seorang yang sehat maka diakhirat dia akan merasakan sehat lagi, jika dia seorang yang kaya maka diakhirat dia akan diberikan kekayaan lagi, jika didunia dia rupawan maka diakhirat dia akan mendapatkan nikmat rupawan lagi. Bahkan semua frekuensi dari nikmat nikmat itu akan ditambah berkali lipat dari yang pernah dirasakan sewaktu didunia. Itulah nikmat iman yang punya fungsi pengekalan dan pelipatgandaan bagi nikmat nikmat yang lain.

Selain itu, iman juga berfungsi sebagai penyelamat, sebagaimana yang pernah diungkapkan nabi dalam sabdanya :

Yakhrujuu minannari man qoola laa ilaahaillallah, wafii qolbohi waznu dzarrotin min khairin. Akan dikeluarkan dari api neraka, orang yang pernah mengatakan Laa ilaa ha illallah, walaupun dihatinya hanya ada kebaikan seberat biji zarrah,

Demikianlah wahai saudara, betapapun keadaan seorang muslim ketika dia didunia, barangkalali dia telah membunuh ratusan orang, mencuri ratusan kali, berzina dan berbuat banyak kemaksiatan lain yang kalau semua dosanya ditimbang mencapai beratnya langit dan bumi, tapi dia mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, maka dia masih berhak mendapatkan ampunan Allah dan syurganya kelak.

Sebaliknya, seorang yang tidak beriman akan ke Esaan Allah, sekalipun dia berinfak segunung emas setiap hari selama hidupnya. Atau dia berbuat baik tak tehingga banyaknya, sehingga jika amalnya itu ditimbang mencapai berat langit dan bumi, tapi dia mati dalam keadaan kafir seperti itu, dia tidak akan mencium bau surga sedikitpun selama-lamanya melainkan akan dibenamkan didalam neraka selama-lamanya pula.

Masya Alllah, inilah harga sebuah nikmat bernama iman, betapa agungnya nikmat ini, dan karena itu dia meduduki posisi tertinggi. Maka sudah selayaknya orang orang yang diberikan nikmat iman itu, bersuyukur dengan kesyukuran yang besar, yaitu dengan memanfaatkan masa-masa iman itu sesuai dengan yang dikehendaki Allah azza wajalla, yaa muqollibal quluub tsabbit quluubanaa ‘alaa diinik

Wallahu a’lam bishawab.

___________________________
Oleh: Fahru Reza Hakim
Mahasiswa el Tahfidh University
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Menyadari Nikmat Teragung Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah