728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Monday, 13 April 2015

Awas! Para Diktator Kerap Berangus Lawan Politiknya Dengan Menggunakan Jihadis

MUHARRIKDAKWAH - Rezim Arab kerap mengklaim sistem pemerintahannya berjalan dengan satu partai, tapi dalam realitasnya ada sekelompok kecil komplotan rahasia yang terdiri dari para perwira militer dan dinas intelijen membagi-bagikan kue kekuasaan selama beberapa dekade.

Lalu, perlawanan demokratis meletus. Masyarakat turun ke jalan-jalan. Pertama, mereka menuntut reformasi. Kemudian, jika rezim meresponnya dengan memberikan reformasi semu dan juga kekerasan yang meminta korban, masyarakat lalu menuntut diturunkannya pemerintah dari kekuasaan. Akhirnya, rakyat membalas menyerang dan angkatan bersenjata berusaha menghentikannya.

Penguasa membangun strategi dengan beragam cara di antaranya provokasi, penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang pro-liberal dan demokrasi, melakukan infiltrasi ke dalam kelompok pemberontak serta merekayasa serangan teroris terhadap kelompok moderat, mendorong kelompok-kelompok yang telah diinfiltrasi untuk melakukan tindakan sadis dan kejam.

Kemudian, mereka akan dijadikan alat untuk mendiskreditkan seluruh elemen pemberontakan. Misalnya, memanfaatkan jaringan teroris internasional (Syiah) Iran untuk memancing perhatian kelompok salafi jihadis supaya terlibat ke dalam negara tersebut yang diharapkan bisa membantu mendiskreditkan gerakan oposisi di mata internasional, serta berusaha mendapatkan paling tidak dukungan diam-diam, jika intervensi langsung Barat untuk mengalahkan para pemberontak dianggap tidak memungkinkan.

Ini bukan tentang Suriah, tapi Aljazair.

Antara tahun 1990 hingga 1996, Mohamed Samrawi merupakan seorang perwira senior di DRS (Le Département du Renseignement et de la Sécurité) atau Departemen Intelijen dan Keamanan, yaitu dinas rahasia Aljazair yang sangat berkuasa yang dibentuk dan dilatih oleh KGB.

DRS mengurusi dunia intelijen baik domestik maupun luar negeri dan juga kontra-intelijen. Dengan kata lain, misi DRS adalah menjaga despotisme kekuasaan atau rezim yang sewenang-wenang dari rongrongan musuh-musuhnya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. (Lihat juga Another echo of Assad’s Mukhabarat)

Setelah meninggalkan DRS pada tahun 1996, Samrawi menulis sebuah buku pada tahun 2003 berjudul Chronique des Années de Sang (Chronicles of the Years of Blood), yaitu catatan rentetan kejadian berdarah selama bertahun-tahun. Di buku tersebut ia menulis argumentasi pada paragraf pertama bahwa peristiwa yang orang-orang menganggap diri mereka tahu tentang Aljazair – di mana rezim tiran sekuler memukul balik pemberontakan jihadis – adalah salah dan hampir pasti salah.

Tidak pernah ada yang namanya pemberontakan jihadis, itu adalah tindakan rezim sekuler.
Seorang penulis, Kyle Orton menyatakan bahwa sebelumnya ia pernah menulis tentang apa yang sebenarnya terjadi di Aljazair pada tahun 1990-an, dan beberapa di antaranya diambil dari pekerjaan Samrawi, seperti melakukan interview, op-eds (opposite-editorial, opini penulis yang berlawanan dengan editorial media), dan terjemahan beberapa bagian buku tersebut.

“Saya sekarang sudah bisa membaca secara penuh bagian kunci, yaitu bab keenam yang berjudul “The Creation of the GIA by the [Intelligence] Services” atau rekayasa GIA oleh dinas intelijen. GIA singkatan dari Groupe Islamique Armé atau Armed Islamic Group adalah satu kelompok salafi jihadi yang muncul entah dari mana di Aljazair pada tahun 1993 yang melakukan pemberontakan selama kurang lebih delapan belas bulan,” tulis Orton.

Pada mulanya, GIA ini didukung oleh Al-Qaidah, kemudian GIA berubah menjadi takfiri dengan membunuh bukan hanya terhadap kelompok lain yang juga anti-rezim tetapi bahkan membunuh satu desa yang dihuni orang-orang sipil yang mereka nyatakan sebagai orang-orang kafir-zindiq. Melihat hal tersebut, akhirnya mereka ditinggalkan dan tidak diakui oleh Al-Qaidah dan afiliasinya seperti LIFG (Libyan Islamic Fighting Group), dan ideolog Al-Qaidah, Abu Mushab as-Suri dan Abu Qatadah al-Filistini.

Siapa di balik kudeta?

Tekanan untuk menuntut pemerintahan yang lebih representatif mulai dibangun di Aljazair sekurang-kurangnya pada tahun 1988. Pada bulan Desember 1990, rezim penguasa membuat keputusan menerapkan “strategi tekanan” untuk menekan oposisi melakukan kekerasan dan ekstrimisme sehingga rakyat bisa diarahkan kepada pilihan bahwa status quo sebagai taruhan yang lebih baik.

Pada bulan Februari 1992, satu bulan setelah militer melakukan kudeta yang membatalkan pemilu yang hampir dimenangkan oleh FIS (Front Islamique du Salut), DRS menyusun rencana untuk mengalahkan pemberontakan dengan cara mendiskreditkan serta menghancurkannya.

Samrawi menyebutkan tiga nama yang paling bertanggung jawab atas strategi provokatif tersebut. Pertama, Smain Lamari salah satu pemimpin kudeta tahun 1992 yang menyulut peperangan. Lamari menjadi Kepala DSI, yaitu Departemen Kontra-Spionase dan Dinas Keamanan Dalam Negeri selama masa perang. Dalam satu pertemuan pada bulan Mei 1992, Jend. Lamari mengatakan, “Saya siap menghabisi tiga juta nyawa orang Aljazair jika diperlukan untuk menjaga ketertiban dari ancaman kelompok Islamis.”

Kedua, Jenderal Mohamed Mediene (alias Toufik) yang mengepalai DRS pada tahun 1990 hingga sekarang. Sejak Aljazair menjadi sebuah negara yang dikuasai oleh militer dan intelijen dan bukan sebaliknya, ini membuat Mediene menjadi orang terkuat di negaranya. Dan ketiga, Kamel Abderrehmane yang menjadi kepala DCSA (Central Directorate for Army Security) atau intelijen militer.

Samrawi juga menyebut dua nama lain, yaitu Khaled Nezzar dan Larbi Belkheir yang keduanya berperan dalam kudeta, dan selanjutnya berperan penting dalam kehidupan perpolitikan Aljazair. Nezzar merupakan bagian dari junta militer (Dewan Tinggi Negara) dan Belkheir berperan seolah-olah sebagai politisi sipil. Mereka semua terkait secara historis dengan apa yang dinamakan sebagai faksi “eksterminasionis” atau ‘faksi pemusnah’ dari unsur kekuasaan. Faksi ini bertujuan untuk menghabisi atau memerangi hingga ke akar-akarnya terhadap para “teroris” – istilah yang digunakan penguasa Aljazair untuk menyebut semua musuh-musuhnya – daripada melakukan kompromi demi mengakhiri kekerasan.

Samrawi berargumentasi bahwa pada saat keputusan awal untuk menggunakan provokasi untuk mengalahkan pemberontakan secara luas disetujui pada bulan April dan Mei 1992, para komplotan perwira itu secara diam-diam berhasil melaksanakan rencana mereka dengan baik di luar apa yang terbayangkan sebelumnya. Samrawi berkata bahwa ia mempercayai rencana-rencana tersebut dibuat untuk menciptakan “kekerasan yang terkontrol dan terkendali”, dan membuat para jihadis bisa sekadar melakukan tindakan teroris untuk mendiskreditkan mereka, yang pada akhirnya akan bisa meminimalisir jumlah korban. Faksi Pemusnah dan para perwira pengikutnya sangat kuatir jika Aljazair menjadi surganya para jihadis seperti Afghanistan kedua.

Tapi, Lamari punya rencana lain bahwa menurutnya hal tersebut sangat berisiko. Jumlah korban barangkali tidak sampai tiga juta nyawa dihabisi, tetapi Lamari lebih dari sekedar berharap negara terjerumus ke dalam konflik berdarah untuk memastikan tujuannya bahwa kekuasaan diktator nan korup yang ia pimpin sebagai pilihan terbaik yang bisa diharapkan oleh rakyat Aljazair.

Di antara taktik yang digunakan adalah:
1. Menginfiltrasi kelompok-kelompok bersenjata yang betul-betul mandiri baik dengan cara mengembalikan para tahanan yang sebelumnya tertangkap dan disiksa atau difitnah selama di dalam penjara, ataupun dengan cara menginfiltrasi secara langsung dengan menanam agen-agen DRS yang “desersi”.

2. Memanfaatkan kelompok-kelompok yang sudah terbentuk, terutama yang beranggotakan orang-orang Arab-Afghan untuk menarik anggota baru.

3. Mendorong kelompok-kelompok pecahan bersenjata untuk mandiri dalam rangka mencegah kelompok oposisi bersatu.

4. Menciptakan dari awal suatu kelompok bersenjata yang dipimpin oleh “Amir” yang sebetulnya ia adalah perwira anggota DRS.

“Semua teknik di atas telah digunakan, dan kadang-kadang digunakan secara bersama-sama,” ujar Samraoui ketika memberi contoh gerakan MEI (Movement for an Islamic State) yang dipimpin oleh mantan tentara dan juga seorang veteran Afghan saat melawan Soviet sebagai contoh kelompok yang sejak awal di bawah kendali intelijen.

Sisi yang menarik adalah apa yang disampaikan oleh Abdelkrim Gherzouli (alias Kari Saïd), sang menantu Syaikh Usamah bin Ladin yang pernah mendorong orang-orang Arab-Afghan asal Aljazair di Peshawar pada tahun 1990 untuk berjihad melawan Le Pouvoir (penguasa).

Samrawi mengatakan bahwa Gharzouli merupakan elemen yang aktif dalam upaya pembentukan kelompok-kelompok Islamis di Aljazair. “Ia (Gahrzouli) ikut terlibat dalam banyak pertemuan rahasia yang telah kami sampaikan dengan baik di awal. Namun kami tidak pernah menerima tugas menginfiltrasi… (Ini) tentu dimaksudkan bahwa di antara anggota yang hadir di pertemuan-pertemuan tersebut adalah termasuk tokoh penting,” katanya.

Daripada menangkap atau membunuh orang-orang tersebut, akan lebih bermanfaat bagi rezim untuk membiarkan mereka terdeteksi bersama para Islamis dalam setiap gerakan mereka. Masifnya gerakan jihadis ini akan dibebankan kepada rakyat Aljazair, yang mana tidak relevan dengan taktik ini. Inilah maksud utamanya.

Taktik rezim Assad

Kejadian-kejadian yang telah terjadi di Aljazair saat ini menjadi penting terutama ketika perang di Suriah masih terus berlangsung. Dan juga rezim Assad dengan para aparat intelijen dan militernya yang dilatih oleh KGB – dengan bantuan Iran dan Rusia – telah meminjam buku pedoman tersebut.

Pada saat rezim tiran Assad belum terlalu mengandalkan taktik infiltrasi sebagaimana yang dilakukan rezim Aljazair terhadap para jihadis dengan tujuan untuk mengendalikan pemberontakan, rezim Assad telah membuat suatu ‘pengkondisian’ bagi terbentuknya suatu kelompok seperti Islamic State (ISIS). Yaitu dengan cara sengaja memicu perang sektarian dan menyatakan perang total terhadap elemen-elemen nasionalis dan moderat sementara membiarkan kelompok takfiri itu sendirian. Melalui transaksi minyak dan berbagai cara lainnya, rezim Assad menyediakan dana berlimpah untuk mendorong para jihadis itu memerangi para pejuang lainnya.

Sebelumnya, penguasa Aljazair telah mengusahakan supaya Perancis terlibat paling tidak secara diplomatis dengan berpihak pada rezim, dan mereka berhasil. Perancis berhasil mengalihkan perhatian mata dunia dari horor kekejaman yang dilakukan oleh rezim Bashar Assad dengan kekhawatiran bahwa jika rezim jatuh maka hal yang lebih buruk akan terjadi.

Damaskus yang dikendalikan oleh Iran ingin tetap menjaga supaya Amerika mendukung usaha-usaha untuk memadamkan pemberontakan, hal ini juga berarti bahwa rezim Assad bisa dikatakan berhasil. Amerika telah mengesampingkan kemungkinan serangan terhadap Assad, dan Obama telah memberitahu Iran terkait posisi Amerika saat ini.

Demikian juga angkatan udara AS bukan hanya tidak menyelamatkan para pejuang revolusi yang konon menurut Amerika mendapatkan dukungan Al-Qaidah. Pasalnya, Suriah merupakan negara di bawah pengaruh Iran, tetapi kenyataannya sekarang Amerika juga membombardir pejuang Salafi-nasionalis dan bukan hanya mengebom kelompok Salafi-jihadis internasional.

Argumentasi bahwa rezim diktator Assad merupakan opsi yang lebih baik di Suriah, bahkan menurut sudut pandang kepentingan nasional dan juga terminologi kontra-terorisme, terlihat sangat buruk untuk ditindaklanjuti.

Penggunaan taktik pembunuhan masal sektarian oleh rezim Assad dan juga dukungan puluhan ribu milisi Syiah yang melebur ke dalam jaringan teroris global Iran merupakan faktor pendorong terbesar bagi Salafi-jihadis di seluruh dunia untuk pergi ke Suriah. Namun argumentasi tersebut menjadi runtuh jika Assad mempertaruhkan kelangsungan-hidupnya dengan membuat masalah atau isu terorisme Salafi-jihadis ini menjadi lebih buruk, sebagaimana ia berupaya menjadikan dirinya kelihatan sebagai opsi yang lebih baik. Menciptakan masalah dan membuat konsesi penyelesaiannya merupakan taktik usang dinasti Assad. Jangan biarkan diri kita jatuh untuk kedua kalinya.

Sumber: dakta.com
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Awas! Para Diktator Kerap Berangus Lawan Politiknya Dengan Menggunakan Jihadis Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah