728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 18 April 2015

Kesatuan Gerakan

MUHARRIKDAKWAH - Tsun Zi mengatakan, salah satu syarat kemenangan dalam pertempuran itu adalah membangun aliansi. Ketika kita akan menyerang wilayah target, kita juga harus memperhatikan dengan siapa wilayah tersebut bersekutu. Pun juga dengan kita, dengan siapa beraliansi, sekuat apa aliansi itu terbangun.

Prinsip aliansi dalam konteks gerakan dapat diartikan sebagai koalisi gerakan. Membangun persekutuan untuk visi yang sama merupakan strategi kemenangan yang mutlak mesti dilakukan. Namun, dalam realitasnya, perbedaan pandangan, visi serta cara tata laksana kerap menjadi penghalang dalam membangun aliansi tersebut. Sekalipun aliansi itu terbentuk, tetap saja ada intrik-intrik yang merusak tatanan kerja sama tersebut. Pada akhirnya aliansi hanyalah sebuah retorika yang tak pernah berujung pada aksi. Ia ada, tapi hanya sebatas “kumpul-kumpul” yang sarat senyum kepalsuan.

Sangat disadari, Keragaman itu adalah keniscayaan. Keseragaman itu kemustahilan. Memaksakannya ialah kenaifan. Begitulah kata para ideolog. Keragaman gerakan ini jika dikelola dengan baik, maka akan menjadi kekuatan yang optimal dalam mengawal jalannya pergerakan, namun ketika tidak terkelola dengan bijak, justru akan menjadi perusak tatanan persatuan kebangsaan. Bahkan menjadi medium persaingan yang kontraproduktif.

Keragaman ideologi misalnya, salah satu penyebab perpecahan antar gerakan mahasiswa. Perbenturan gerakan masih berkutat pada usaha-usaha memperebutkan pengaruh dilingkungan kampus dan meraih eksistensi gerakan di ruang publik. Gerakan masih sibuk dalam memperebutkan superioritas diantara kelompok lainnya. Pada akhirnya menodai orientasi gerakan yang murni.

Fanatisme kelompok serta ekskusifitas yang berangkat dari bedanya ideologi dan “cara kerja” ini mesti dihilangkan dengan membangun kedewasaan berpikir oleh setiap faksi-faksi. Kelompok-kelompok islamis, moderat, atau nasionalis sejatinya memiliki benang merah kesamaan, dan kesamaan inilah yang kerap terhijabkan oleh ke-maniak-an kelompok.

Persatuan gerakan

Ketika membaca kembali sejarah perjuangan bangsa Indonesia, perbedaan pandangan menjadi bumbu tersendiri dalam perjalanannya. Pertikaian, usaha kudeta, hingga perpecahan pemerintahan pernah terjadi di masa itu. Namun, berkat kedewasaan para founding fathers pada saat itu, pada akhirnya membuka konsensus yang kesemuanya bermula atas kesadaran bahwa apa yang di pertaruhkan selama ini mempunyai inti tujuan yang sama: Kemerdekaan dan Kemakmoeran Rakjat.

Sikap para pendiri bangsa ini semestinya dapat kita teladani dalam membangun eksistensi gerakan secara bersama-sama. Bukan justru menanamkan benih-benih kebencian di dalam tubuh organisasi.

Era demokrasi kita saat ini, ruang-ruang perdebatan semakin terbuka, setiap elemen bisa secara bebas menyuarakan manifestonya, secara bebas pula melakukan agitasi kepada objeknya. Sehingga atmosfer persaingan dan persikutan kian menjadi-jadi.

Era ini juga membuka ruang yang begitu luas menjamurnya gerakan-gerakan baik itu yang berbasis ideologis maupun basis massa. Jika kita amati, meskipun “kekentalan” mahasiswa dan pemuda dalam bergerak kian menurun – sebagai efek dari demokratisasi, namun dari segi keragaman prinsip dan ideologi semakin bertambah. Saat ini, gerakan-gerakan berbasis nasionalis telah menyebar menjadi beragam nama dan baju, misalnya GMNI, SMI, FMN, HMI, serikat buruh, LMND dan sebagainya. Pun dengan gerakan yang berbasis Islam (nasionalis-religius) misalnya KAMMI, HMI-MPO, PMII, IMM, dan lainnya.

Selain menyebar dalam varian gerakan berbasis mahasiswa dan pemuda, saat ini persebaran itu juga menyangkut basis kultural masyarakat. Gerakan lokal semisal Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Persatuan Oemat Islam (POI) dan lainnya semakin ramai dengan hadirnya gerakan berbasis Timur tengah seperti Ikhwanul Muslimin, Jamaat al-islami, Salafi, Hizbut Tahrir Indonesia dan lain sebagainya. Gerakan-gerakan ini mampu berkembang berkat situasi sosial-politik yang demokratis dan terbuka.

Persatuan Gerakan Islam

Amin Sudarsono dalam bukunya Ijtihad membangun basis gerakan, pernah menggagas konsepsi persatuan gerakan islam bertajuk Ukhuwah Harokiyah. Ide ini berangkat dari keragaman gerakan islam dan misi menjadi pemimpin dunia. Kesatuan gerakan ini berlandaskan aqidah dan ukhuwah islamiyah, dengan demikian perdebatan yang bersifat cabang dan bukan pokok mesti segara dihindari.

Melihat realitas tersebut, Anis matta dalam kongres umat islam VI beberapa waktu lalu menggagas majelis syuro antar partai dan gerakan Islam dalam upaya membangun pendekatan yang lebih konsolidatif. Hal ini berangkat dari 3 level yang telah dilewati oleh partai dan gerakan Islam, yaitu level identitas, level kepentingan, dan level kepemimpinan.

Dalam konteks gerakan mahasiswa Islam, ide ini dapat dijalankan dalam lingkaran yang lebih kecil, tapi urgen. Gerakan pemuda dan mahasiswa berbasis Islam pada level identitas tentu berperan penting dalam mengawal dan mengadvokasi isu-isu yang berkaitan dengan identitas Islam. Pada level kepentingan, gerakan Islam tentu memiliki kesamaan kepentingan yang khas dan tujuan yang berasaskan Islam, dengan membentuk agenda-agenda yang bersifat kolektif dan kerjasama yang terpola. Selanjutnya pada tataran yang lebih tinggi, yaitu level kepemimpinan, gerakan Islam memiliki visi yang sama dalam mengawal isu-isu kempemimpinan baik dalam lingkup kampus hingga lingkup yang lebih besar, negara.

Untuk mewujudkan pendekatan konsolidatif tersebut, gerakan mahasiswa Islam sudah seharusnya merekonsiliasi diri, agar tidak lagi terjebak pada khilafiyah yang sebetulnya tidak prinsip. Dengan begitu cita-cita kesatuan gerakan, khususnya gerakan islam akan terwujud. Insya Allah.

Oleh: Ahmad Risani

Gubernur Mahasiswa FKIP Unila 2013-2014, Kepala Kebijakan Publik PD KAMMI BandarLampung

Sumber: dakwatuna
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kesatuan Gerakan Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah