728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Wednesday, 8 April 2015

Perkataan Empat Imam dalam Menentang Taklid

MUHARRIKDAKWAH

Imam Abu Hanifah

Imam yang pertama adalah Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit. Para muridnya telah mengutip beraneka pernyataan dan ungkapan yang bermacam-macam darinya yang keseluruhannya mengacu kepada satu inti: keharusan untuk berpegang teguh dengan hadits, meninggalkan taklid kepada pendapat-pendapat para imam yang bertentangan dengan hadits. Di antara perkataannya adalah:

1. “Jika suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.”

2. “Tidak halal bagi seseorang untuk memegangi pendapat kami selama ia tidak mengetahui dari mana kami menggalinya.”

Dalam riwayat lain dinyatakan, “Haram hukumnya atas orang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan pendapatku.”

Imam Abu Hanifah menambahkan dalam riwayat lain, “Kami itu adalah manusia, hari ini mengatakan sebuah pendapat, dan esok kami menariknya.”

Dalam riwayat lain juga dinyatakan, “Celaka engkau wahai Ya’qub (yaitu Abu Yusuf), janganlah engkau mencatat segala yang engkau dengar dariku. Kadang-kadang aku berpendapat dengan suatu pendapat sekarang ini, dan aku meninggalkannya esok hari. Kadang aku berpendapat dengan suatu pendapat keesokan hari, dan aku meninggalkannya lusa.”

3. “Apabila aku mengeluarkan suatu pendapat yang tidak bertentangan dengan Kitabullah (Al-Qur`an) dan hadits Rasul, maka tinggalkanlah pendapatku.”

Imam Malik bin Anas

Adapun Imam Malik bin Anas, ia berkata,

1. “Aku hanyalah seorang manusia, bisa keliru dan benar. Lihatlah pendapatku. Setiap yang bertepatan dengan Al-Qur`an dan hadits maka ambillah. Dan setiap yang tidak sejalan dengan Al-Qur`an dan hadits, tinggalkanlah.”

2. “Tidak ada seorang pun sepeninggal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kecuali pendapatnya bisa diambil atau ditinggalkan, kecuali Nabi itu sendiri.”

3. Ibnu Wahb berkata, “Aku pernah mendengar Malik ditanya tentang menyela jemari dua kaki dalam berwudhu. Dia menjawab, “Itu tidak wajib dilakukan orang-orang.” Aku membiarkannya sampai orang-orang tinggal sedikit. Aku berkata kepadanya, “Kami memiliki hadits dalam masalah itu.”

Dia berkata, “Mana?”

Aku berkata, “Al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah, dan Amr bin Al-Harits telah menceritakan kepada kami dari Yazid bin Amr Al-Mu’arifi dari Abu Abdirrahman Al-Habli dari Al-Mustaurid bin Syaddad Al-Qurasyi, ia berkata, “Aku menyaksikan Rasulullah menggosok sela-sela jemari dua kakinya dengan jari manis.”

Dia mengatakan, “Sesungguhnya hadits ini hasan. Aku belum pernah mendengarnya kecuali saat ini.” Kemudian aku mendengar, dia ditanya tentang hal itu dan memerintahkan untuk menyela jari-jari.

Imam Asy-Syafi’i

Kutipan-kutipan pernyataan Imam Asy-Syafi’i tentang ini lebih banyak dan lebih bagus. Para pengikutnya mempunyai perhatian yang tinggi untuk melaksanakannya dan paling bahagia dengan kebenaran.

1. Tidak ada seorang pun kecuali sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jauh dan pergi darinya. Pendapat apa pun yang aku sampaikan atau kaidah apapun yang aku bakukan, sementara terdapat riwayat dari Rasulullah yang berbeda dengan pendapatku, maka pendapat yang benar adalah apa yang disampaikan Rasululullah, dan itu adalah pendapatku.”

2. “Kaum muslimin telah bersepakat siapa saja yang telah jelas baginya sunnah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena mengikuti pendapat seseorang.”

3. Jika kalian menjumpai di dalam kitabku sesuatu bertentangan dengan Sunnah Rasulullah, maka berpendapatlah dengan Sunnah Rasulullah, dan tinggalkanlah pendapatku.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ikutilah, jangan kalian menoleh pada perkataan siapa pun.”

4. “Apabila haditsnya shahih, maka itu adalah madzhabku.”

5. “Kalian lebih menguasai ilmu hadits dan para perawinya daripada aku. Apabila haditsnya shahih, maka beritahulah diriku, apapun ia, baik dari orang Kufah, Bashrah, atau Syam sehingga aku bisa mendatanginya bila hadits itu shahih.”

6. “Setiap persoalan yang haditsnya shahih padanya dari Rasulullah menurut ahli hadits berbeda dengan pendapatku, maka aku akan berpaling darinya selama aku hidup dan setelah aku meninggal.”

7. “Jika kalian menyaksikanku mengeluarkan sebuah pendapat, sementara telah terbukti ada hadits shahih dari Nabi yang bertentangan dengannya, maka ketahuilah bahwa akalku telah hilang.”

8. “Jika aku mengemukakan pendapat lalu ternyata ada hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang shahih yang berbeda dengan perkataanku, maka hadits Nabi lebih utama dibandingkan perkataanku. Ketika itu, janganlah kalian taklid kepadaku.”

9. “Setiap hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah pendapatku, meskipun kalian belum pernah mendengarnya dariku secara langsung.”

Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad merupakan tokoh yang paling banyak dalam menghimpun hadits dan paling teguh dalam memegangnya. Sampai-sampai membenci penulisan bab-bab yang memuat pembeberan persoalan sampai detail dan ra`yu (pendapat murni orang). Oleh karena itu, dia berkata sebagai berikut:

1. “Janganlah engkau bertaklid kepadaku, janganlah engkau bertaklid kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, atau pun Ats-Tsauri. Ambillah dari sumber yang mereka ambil.”

Dalam riwayat lain dinyatakan, “Janganlah engkau bertaklid kepada salah satu dari mereka dalam beragama. Apa yang datang dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat beliau, maka ambillah. Kemudian ambillah pendapat generasi Tabi’in. Setelah generasi mereka, seseorang terserah mau memilih siapa.”

Suatu kali Imam Ahmad pernah menyatakan, “Maksud ittiba’, seseorang mengikuti apa-apa yang datang dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat. Kemudian, ia boleh memilih setelah generasi Tabi’in.”

2. “Pendapat Al-Auza’i, pendapat Malik, pendapat Abu Hanifah, semuanya merupakan bentuk logika. Menurutku semuanya sama saja, hujjah hanya terdapat pada atsar-atsar (hadits).”

3. “Barangsiapa menolak hadits Rasulullah, maka ia berada di tepi jurang kebinasaan.”

Itulah pernyataan para ulama tentang keharusan untuk berpegang teguh dengan hadits serta larangan untuk bertaklid kepada mereka tanpa latar belakang ilmu. Keterangan-keterangan itu sudah begitu jelas lagi gamblang sehingga tidak menerima lagi perdebatan atau penafsiran.

Sumber: fimadani
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Perkataan Empat Imam dalam Menentang Taklid Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah