728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Tuesday, 19 May 2015

Kekuasaan adalah Amanah, Bukan Sekedar sok Kuasa

MUHARRIKDAKWAH - Seperti yang tercatat dalam sejarah, Rasulullah saw tidak memiliki anak lelaki yang berusia panjang --mereka wafat saat masih kecil. Khalifah Abu Bakar dan Umar memiliki anak lelaki, tapi mereka tidak pernah menunjuk anak mereka untuk menggantikan posisi mereka sebagai khalifah. Tradisi itu diubah oleh Khalifah Muawiyah, yang menjadikan anaknya, Yazid, sebagai putra mahkota (waliyul 'ahdi). Maka berakhirlah era khilafah, berganti dengan dinasti. Sejarah Politik Islam kemudian meninggalkan cerita perebutan kekuasaan dalam internal kerajaan ataupun perpindahan dari satu dinasti ke dinasti berikutnya.

Demokrasi kemudian hadir menyediakan tata cara pergantian kekuasaan yang berbeda: kekuasaan bukan milik keluarga tertentu yang diperlakukan seolah sebagai harta warisan, tapi kekuasaan adalah milik rakyat. Rakyatlah yang berhak mengangkat dan sekaligus mengganti pemimpinnya. Semua dipandang sama: berhak dipilih dan memilih, maka suara seorang guru besar sama nilainya dengan suara tukang ojek. Lamanya kekuasaan juga dibatasi antara 2-3 periode. Tidak ada pemimpin seumur hidup.

Namun sistem kerajaan dengan putra mahkota tidak semuanya hilang. Di Inggris, Ratu berkuasa seumur hidup, dan Pangeran Charles sang putra mahkota harus menunggu haknya. Tapi Inggris juga menganut demokrasi, dimana Perdana Menteri yang dipilih secara demokratis, akan menjalankan kekuasaan pemerintahan sehari-hari. Ratu menjadi kepala negara secara simbolis belaka. Ini cara mereka memegang tradisi lama dalam kerajaan, tapi juga mengambil tradisi baru demokrasi yang lebih relevan.

Di dunia Arab sistem kerajaan masih berlangsung. Raja Salman dari Saudi Arabia baru saja mengganti putra mahkota. Turun temurun kerajaan Saudi diwarisi oleh Bani Saud. Jangan tanya dalilnya mana, karena tidak akan ketemu dan hanya akan dijawab dengan berbagai dalih. Mereka bukan mengikuti tradisi khulafa al-rasyidin, tapi tradisi Muawiyah.

Bagaimana dengan di tanah air? Di sejumlah daerah politik dinasti masih terjadi. Satu keluarga bisa menguasai roda pemerintahan dari Gubernur sampai Bupati atau Walikota. Misalnya yang terjadi di Provinsi Banten. Ada pula kejadian dimana isteri, adik atau anak penguasa yang terpilih menggantikannya. Ada pula tukar guling, anak jadi bupati, dan bapaknya yang mantan bupati jadi ketua DPRD seperti di Bangkalan, Madura. Tapi gimana mau protes? Semuanya terpilih secara demokratis bukan lewat penunjukkan. Kita boleh bertanya: kenapa rakyat mau memilih seperti itu?

Di Yogyakarta sekarang sedang heboh, Sang Sultan konon sedang berusaha menjadikan anak perempuannya sebagai calon penggantinya. Diangkatlah sang anak menjadi Putri Mahkota. Karena melalui sistem penunjukkan, dan dianggap keluar dari tradisi, maka adik-adik Sang Sultan protes keras, meski Sang sultan berdalih ini dawuh dari para leluhur. Mungkin kita harus kembali kepada konsep Syura yang ditawarkan al-Qur'an: bermusyawarahlah sebelum mengambil keputusan.

Dan yang harus diingat ialah Kekuasaan itu sebuah amanah. Bukan sekedar sok kuasa. Siapa yang melanggar amanah akan berhadapan kelak dengan Allah swt di Hari Pembalasan.



Oleh: Gus Nadirsyah Hosen
(Ra’is Syuriah, Pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru)
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kekuasaan adalah Amanah, Bukan Sekedar sok Kuasa Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah