728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Sunday, 24 May 2015

Kematian pun Surga yang Begitu Dekat

MUHARRIKDAKWAH - Seberkas kabar datang menantang. Telekung Projek, sebuah lembaga nonpemerintah di Kelantan, Malaysia‎, ingin membantu pencari suaka Rohingya-Bangladesh yang ada di Aceh. "Boleh, kami siap," kataku begitu percaya diri. Tentu aku jadi berani mengiyakan, ada ACT yang sedang berkiprah di Aceh. Benar saja, ACT siap memfasilitasi 'humanity journey' bersama Telekung Projek.

Norazila Aziz, ditemani dua personalnya: Saodah Atan dan Zaidi Abd Rahman, tiba di Jakarta 19 Mei lalu, seharian anjangsana bahkan mengikuti deklarasi Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya di kantor pusat ACT. Esok dinihari, kami: tiga personal Telekung Projek, aku, Kak Meyda Sefira dari Komunitas Hujan Safir dan Pak Rudi Purnomo dari Global Philanthropy Network-ACT menuju Langsa. Kami mendarat di Medan, melanjutkan perjalanan darat yang seru menuju Langsa.

Sungguh tak seberapa beratnya perjalanan darat, kalau mengingat perjuangan pencari suaka melintasi lautan sampai ke Aceh. Maut mengintai mereka setiap saat: bersebab lapar dan dehidrasi, dihalau kembali ke laut oleh negara-negara tetangga Myanmar yang menolak menerima mereka, karena perkelahian sepanjang perjalanan, atau serangan penyakit karena buruknya sanitasi sekitar mereka selama perjalanan.

Kami tiba di Langsa. Debar hati ini tak bisa disembunyikan. Bukan takut bukan pula letih. Kuatkah diriku menyaksikan saudara-saudaraku yang malang Rohingya dan Bangladesh ini? Baru tiba saja, kudengar kabar, seorang bocah Rohingya meninggal karena tetanus.‎ Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Sedikit hal menghiburku. Kubaca dari pemberitaan di Malaysia, Indonesia pun sepakat menolong para pencari suaka‎. Alhamdulillah. Mudah-mudahan Pemerintahku, Allah berkahi karena kebaikannya hari ini, juga negeri ini bercurah keberkahan-Nya. Lalu sebuah kejutan lagi, disodorkan padaku. ACT memintaku menjadi moderator Deklarasi Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR), di daerah ini. Sejumlah tokoh lokal menghadirinya. Termasuk unsur birokrasi, antara lain Dinas Sosial Aceh Timur dan Dinas Sosial Aceh Tamiang. Semua yang hadir sepakat, Aceh siap menjadi penolong para pencari suaka yang masuk wilayah Aceh. Aceh adalah kawasan yang warganya keturunan orang-orang yang berkepedulian sosial tinggi.

"Kami memang belum mendapatkan dana khusus untuk urusan ini, tapi itu bukan alasan untuk tidak menolong. Minimal ada fasilitas untuk menampung mereka," kata salah seorang pejabat setempat. Tak kalah menarik, sikap warganya menghadapi ratusan pencari suaka ini. ‎Aku sampai takjub, warga Langsa dan desa-desa sekitarnya sini banyak yang tidak punya gadget, tapi mereka seperti terkomando untuk ‎datang berbondong-bondong mengulurkan bantuan. Hampir tak ada yang datang dengan tangan hampa. Menilik lokasinya, untuk bisa mencapai area penampungan pencari suaka ini, tidak semua pengunjung bisa langsung masuk. Ada semacam pintu utama dan itu satu-satunya, yang dijaga petugas Polisi Perairan Kota Langsa. Ratusan orang yang datang, dipergilirkan. Warga Aceh maupun relawan dari berbagai tempat, sabar menunggu giliran masuk meski harus sampai dua-tiga jam lamanya. Itu demi bisa menyampaikan bantuan.

Di sini, aku bersama Kak Azila dari Telekung Projek, ‎sempat melakukan kegiatan menggambar bersama dengan anak-anak Rohingya. Wah, kami jadi "tontonan", maklum, yang pengen ikut jadi banyak. Kak Azila menyiapkan hadiah balon-balon lucu buat anak-anak yang mau menggambar. Kami minta anak-anak menulis nama pada kert‎as gambarnya. Hampir semuanya tak bisa menulis. Kak Azila punya skill sebagai konselor, jadi meski dengan bahasa tubuh, tak kehabisan akal untuk memicu keceriaan. Anak-anak itu ‎pun bisa mengikuti instruksi menggambar dengan baik.

Setelah diberi hadiah balon, gambar-gambar mereka dikumpulkan. Sesampainya di Malaysia, Telekung Projek akan menjualnya sebagai postcard dengan foto masing-masing. Gambar dengan foto anak Rohingya ini, menjadi fundraising tools Telekung Projek, untuk program lanjutan menolong anak-anak pencari suaka ini.

Di sela aktivitas di Langsa, naluri kemuslimahan kami terusik menyaksikan kondisi penampungan kaum Hawa. Privacy mereka kurang terjaga maksimal sehingga spontan kami membuat penyekat sekaligus ruang ganti khusus muslimah. Kami bangum pembatas secara dadakan saja, dengan memanfaatkan beberapa pipa sebagai rangkanya. Lumayan, hasilnya memberi ketenangan.

Satu hal lagi, membuatku tak kuasa menahan airmata. Dalam rangkaian deklarasi, bapak Mohamad Adenan, nelayan Kuala Langsa yang ikut menolong menyelamatkan pencari suaka di laut, memberi kesaksian. Ia sedih, harus menghadapi ratusan orang lainnya yang tak sanggup ditolong dengan perahunya. "Mereka pasti menemui kematian. Saya hanya bisa menyelamatkan 45 orang," ujarnya, sedih.

Duh, Bapak Adenan, sosok bersahaja dengan perahu nelayan kecilnya, masih dilibas kesedihan menyayat karena gagal menolong yang lainnya. Tentu bapak-bapak penyandang amanah menjaga kelautan kita, dengan kapal-kapal besi yang lebih besar, pasti lebih mampu menolong lebih banyak lagi orang-orang malang itu.

‎Menjadi moderator Deklarasi KNSR di Langsa, menambah bekal spiritual lantaran forum itu juga diwarnai tangis kepedulian, tangis sesal lantaran keterbatasan berbuat, pun, tangis syukur Allah masih memberi kelapangan hati yang hadir menjadi penolong-penolong sesama. Hari-hari di Langsa, ‎betapa kematian begitu dekat. Pun, surga menjadi begitu dekat bagi siapa pun yang meyakini Allah Maha Pengasih. Bagi orang-orang Rohingya, surga mereka sedekat kematiannya, karena mereka orang teraniaya. Bagi penolong-penolong mereka, surga juga dekat karena Allah dan Rasulullah ada bersama mereka yang teraniaya.[]


Oleh: Lutfiah Hayati
Relawan ACT, Komunitas Hujan Safir Bandung
Sumber : act.id
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kematian pun Surga yang Begitu Dekat Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah