728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 9 May 2015

Pemulas Bibir Bernama : ‘Kemerdekaan Palestina(?)’

MUHARRIKDAKWAH - Baru saja perhelatan konferensi Asia Afrika (KAA) usai dilaksanakan. Isu kemerdekaan Palestina menjadi salah satu isu hangat yang diangkat dalam forum ini. Dalam pidatonya, presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa Negara-negara Asia Afrika dan dunia berhutang kepada Palestina karena setelah enam dekade pelaksanaan KAA, Palestina belum juga merdeka. Secara jelas dan lugas dalam pidatonya, Jokowi menyatakan dukungan bagi kemerdekaan Palestina. Jokowi juga berencana akan mengambil langkah konkrit terkait kemerdekaan Palestina melalui pembukaan konsulat Indonesia di Ramalah. Untuk memperlihatkan keseriusan pemerintahan Indonesia terhadap permasalahan ini, Jokowi berencana akan kembali bertemu dengan perdana menteri Palestina Rami Hamdallah.

Meski demikian, ada satu pertanyaan yang berkecamuk di pikiran penulis mengenai isu kemerdekaan Palestina yang digaungkan di KAA. Pertanyaan ini membuat penulis berfikir apakah isu Palestina di KAA hanya sebagai pemulas bibir semata? Kemanakah suara-suara Negara-negara Arab terkait perihal ini? Apa bentuk komitmen konkrit mereka terhadap permasalahan ini? Atau minimal, bagaimana komitmen Mesir terkait isu kemerdekaan Palestina? Jika menilik sejarah, Mesir memegang kunci upaya pencapaian kemerdekaan Palestina, terlebih karena negaranya berbatasan langsung dengan Gaza, Palestina.

Mesir : Kunci Penting Menuju Kemerdekaan Palestina

Indonesia boleh berbangga, sebab KAA yang digagas oleh Indonesia pertama kalinya di tahun 1955 memberikan efek domino yang dahsyat terhadap perpolitikan Asia Afrika. Terhitung sebanyak 40 negara merdeka karena terpicu oleh KAA yang berlangsung tahun 1955 lalu. Gerakan GNB yang lahir di tahun 1961 juga dilatarbelakangi oleh KAA 1955 atau yang lebih dikenal sebagai konferensi Bandung. Mesir juga tidak ketinggalan, nasionalisasi perusahaan-perusahaan yang dilakukan oleh Gamal Abd Nasser juga terpengaruh oleh konferensi Bandung tersebut.

KAA juga berperan dalam mempengaruhi Mesir berperan lebih aktif dalam upaya membebaskan Paletina dari penjajahan yang dilakukan di Israel. Melalui tangan Naser, Mesir mampu mempersatukan negara-negara Arab untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Namun Israel tidak membiarkan solidaritas bangsa Arab berlangsung lama, pada bulan Juni tahun 1967 Israel menyerang Mesir dan sejumlah Negara arab lainnya sehingga menyebabkan lepasnya sejumlah wilayah dari negara-negara tersebut. Keadaan ini kemudian mengakibatkan guncangan ekonomi terhadap sejumlah negara Arab. Terlebih Mesir, perang Juni ini juga menjadikan ekonomi Mesir morat-marit dan terpaksa menerima subsidi dari Arab Saudi dan Kuwait. [1]

Benar saja, solidaritas yang berlangsung antara negara-negara Arab tidak berlangsung lama. Pengganti Mesir, Anwar Sadat pada akhirnya menggadaikan Mesir dan perjuangan kemerdekaan Palestina tentunya ke tangan Israel. Demi mendapatkan bantuan ekonomi dari Amerika, Mesir menjalin relasi dengan Israel. Di tahun 1977 Mesir membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tidak sampai disitu, pada tahun 1978 Mesir mengadakan perjanjian dengan Israel. Perjanjian yang diberi nama Camp David ini merupakan perjanjian perdamaian antara Mesir dan Israel. Menurut sejarawan Cleveland, perjanjian ini merupakan kemenangan bagi Israel dan kekalahan bagi ide kemerdekaan Palestina. [2]

Naiknya Mubarak untuk menggantikan Sadat semakin memantapkan posisi Mesir sebagai ‘boneka Amerika.’ Sejak tahun 1980, Mesir memperoleh bantuan ekonomi kedua terbesar dari Amerika Serika setelah Israel. Tidak hanya mengorbankan kepentingan Palestina, bahkan Mesir mengorbankan kepentingannya demi mendahulukan kepentingan Amerika. Di dalam kepemimpinannya, Mesir dikenal sebagai “America’s Egypt.” Makin tak terdengar janji Mesir di masa lalu untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang merupakan negeri tetangganya. [3]

Ketika ‘Arab Spring’ berhembus dan menerpa wilayah Mesir sehingga menaikkan Muhammad Mursi sebagai presiden, perjuangan Mesir untuk kemerdekaan Palestina kembali digaungkan. Mursi berjanji bahwa kemerdekaan Palestina akan menjadi prioritas utamanya. [4] Perbatasan Rafah yang membatasi antara Mesir dan Palestina selama 30 tahun terakhir jarang dibuka, di bawah pemerintahan Mursi dibuka selebar-lebarnya untuk bantuan kemanusiaan. Sehingga pada masa itu, bantuan kemanusiaan dapat dengan mudah untuk masuk ke Mesir.

Tetapi sejarah kembali berulang, bulan madu antara Mesir dan Palestina hanya seumur jagung. Setelah Mursi dikudeta, Al Sisi yang menggantikannya kembali menggadaikan Palestina ke tangan Israel. Ia kembali menutup perbatasan Rafah dan bahkan menghancurkan terowongan-terowongan bawah tanah yang biasa digunakan rakyat Palestina untuk mendapatkan kebutuhan pokok. Meski sesekali membuka perbatasan Rafah, namun hanya barang-barang tertentu yang dapat melintasi kebutuhan tersebut.

Di bawah pemerintah Sisi, bantuan kemanusiaan dari berbagai organisasi dunia juga sangat sulit untuk masuk. Adara Relief International misalnya, sebuah organisasi asal Indonesia yang peduli terhadap nasib anak dan perempuan di Palestina, juga mengalami kesulitan yang serupa. Untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Palestina (Gaza), Adara harus menitipkan kepada warga negara Mesir yang diperbolehkan memasuki Palestina. Itupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Beberapa hari lalu ketika KAA dilakukan, Adara kembali menyalurkan dana kemanusiaan. Namun akibat blokade Israel terhadap Gaza dan ditutupnya perbatasan Rafah, Adara harus menitipkan bantuan melalui NGO Palestina yang berada di Turki. Hampir dikatakan tidak mungkin untuk membawa bantuan ke Gaza secara langsung dan terang-terangan.

Padahal pada saat yang sama, warga di Gaza sangat membutuhkan bantuan tersebut. Mengingat serangan Israel di tahun 2014 lalu terhadap wilayah Gaza telah meluluhlantakkan sarana dan prasarana di sana. Selain ribuan jiwa yang menjadi korban, serangan brutal Israel di tahun lalu telah menghancurkan rumah-rumah penduduk, sehingga banyak penduduk tinggal dengan ala kadarnya. Listrik pun terbatas, jika tidak ingin dikatakan padam. Jika blokade ini dibiarkan, maka Gaza akan menjadi kamp kosentrasi alami. Israel mungkin tidak membunuh rakyat Palestina di Gaza secara langsung, namun melalui blokade yang dilakukan Israel dan ditambah suhu ekstrim yang berlangsung di Gaza, maka rakyat Palestina akan meninggal dengan sendirinya dengan keadaaan tersebut.

Ironi KAA

Sehingga menjadi ironi, ketika KAA mengusung isu kemerdekaan Palestina, Adara Relief International dan organisasi kemanusiaan lainnya harus bermain petak umpat dengan pemerintah Mesir untuk menyampaikan bantuan ke Gaza melalui Rafah. Sehingga akhirnya penulis bertanya-tanya, apakah isu kemerdekaan yang diusung hanya sekedar pemulas bibi belaka? Semacam nyanyian pengantar tidur bagi aktivis-aktivis kemanusian yang menginginkan adanya kemerdekaan Palestina. Sehingga mungkin dengan diangkatnya isu ini, kami tak lagi berteriak-teriak tentang pelanggaran HAM mahaberat yang terjadi di Palestina oleh Israel. Menjadi Ironi sekali ketika dalam penyelenggaraan KAA tak ada pernyataan dari pemerintah Mesir untuk membuka perbatasan Rafah sebagai salah satu komitmen konkrit menuju kemerdekaan Palestina.

Meski demikian, penulis masih melihat adanya secercah harapan bagi upaya perjuangan kemerdekaan Palestina melalui pemerintah Indonesia. Sebagaimana Soekarno di masa lalu yang mampu menggaungkan spirit Bandung hingga ke seluruh penjuru Afrika. Jokowi masih memiliki kesempatan untuk menggaungkan kembali isu kemerdekaan Palestina ini di seluruh penjuru dunia. Indonesia harus mampu menjadi leader bagi perjuangan kemerdekaan Palestina, di saat negara-negara Arab berada di bawah ketiak Amerika. Sebab bagaimana mungkin mengharapkan Mesir yang kini menjadi penerima donor terbesar dari Amerika yang merupakan sekutu abadi Israel? Atau Saudi yang merupakan partner in crime Amerika? Indonesia juga harus mampu menekan Mesir untuk membiarkan perbatasan Rafah terbuka agar bantuan kemanusiaan dapat dialirkan ke Palestina.

Jika Indonesia mampu menjadi leader bagi dunia untuk mengusung kemerdekaan Palestina, maka saya yakin bahwa isu kemerdekaan Palestina yang digaungkan di KAA bukan sekedar pemulas bibir. Sebab jika boleh mengutip pidato Jokowi, “kita dan dunia berhutang kepada Palestina.” Tetapi kembali kemudian penulis bertanya-tanya, ‘mungkinkah?’ Ya, semoga saja.

Ditulis Oleh: Fitriyah Nur Fadilah, M.I.P.
Aktivis Kemanusiaan Adara Relief International
Sekretaris Center for Islamic Political Studies Universitas Indonesia (CIPS – UI)


Sumber : Bersama Dakwah

Catatan:
[1] William Cleveland, A History of the Modern Middle East (3rd ed), (Colorado: Westview Press, 2004), hlm. 304-307.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Lihat lebih lengkap dalam “Election Program : The Freedom and Justice Party,” Parliamentary Election 2011, Freedom and Justice Party, diakses pada http://www.fjponline.com/uploads/FJPprogram.pdf.
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Pemulas Bibir Bernama : ‘Kemerdekaan Palestina(?)’ Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah