728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Friday, 19 June 2015

Islam Nusantara, Islam Jakarta, Islam Depok…

MUHARRIKDAKWAH - Ilmuwan Yahudi yang terkenal dalam ilmu politik, Prof Leonard Binder tahun 90-an menulis buku ‘Islamic Liberalism’. Dalam bukunya ini –hasil penelitian di beberapa negara, bekerjasama dengan ilmuwan-ilmuwan politik Islam- Binder mengungkapkan bahwa sekulerisme telah gagal di dunia Islam, maka perlu diluncurkan Liberalisme Islam. Yang bermakna bahwa Islam dengan politik harus dipisahkan. Islam atau agama adalah rasa. Sedangkan politik adalah rasio.

Binder ini adalah dosen politik Amien Rais di Universitas Chicago Amerika. Menurut kawan Amien Rais, sewaktu kuliah Amien Rais sering mendebat Binder dalam banyak hal. Makanya tidak heran Amien Rais berseberangan dengan Nurcholish yang meluncurkan gagasan sekulerisme dan pluralisme di tahun 90-an itu.

Kini beberapa tokoh NU meluncurkan istilah Islam Nusantara. Belum jelas memang maksud Islam Nusantara. Azyumardi Azra mencoba menjelaskan istilah ini :

“Ortodoksi Islam Nusantara sederhananya memiliki tiga unsur utama, pertama, kalam (teologi) Asy’ariyah; kedua, fiqh Syafi’i–meski juga menerima tiga mazhab fiqh Sunni lain; ketiga, tasawuf al-Ghazali, baik dipraktikkan secara individual atau komunal maupun melalui tarekat Sufi yang lebih terorganisasi lengkap dengan mursyid, khalifah dan murid, dan tata cara zikir terentu.

Sebagai perbandingan, ortodoksi Islam Nusantara ini berbeda dengan ortodoksi Islam Arab Saudi. Dalam dua konferensi dengan kalangan ulama dan intelektual Arab Saudi di Riyadh dan wadi sekitar 300 kilometer dari Riyadh (3-7/1), penulis “Resonansi” ini menyatakan, ortodoksi Islam Arab Saudi mengandung hanya dua unsur, yaitu pertama, kalam (teologi) Salafi-Wahabi dengan pemahaman Islam literal dan penekanan pada Islam yang ‘murni’.

Dengan pandangan kalam seperti itu, dalam perspektif doktrin ortodoksi Islam Arab Saudi, tidak heran jika banyak Muslimin lain dianggap sebagai pelaku bid’ah dhalalah (ritual tambahan sesat) yang bakal membawa mereka masuk neraka.

Termasuk ke dalam bid’ah dhalalah itu adalah merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW yang ramai dirayakan kaum Muslimin Indonesia. Unsur ortodoksi Islam Arab Saudi kedua adalah fiqh Hanbali yang merupakan mazhab paling ketat dalam yurisprudensi Islam.

Ortodoksi Islam Arab Saudi tidak mencakup tasawuf, justru tasawuf ditolak karena dianggap mengandung banyak bid’ah dhalalah.

Dalam kedua konferensi ini selalu muncul pertanyaan dari peserta Arab Saudi yang ditujukan kepada penulis “Resonansi” ini. “Kenapa Muslim Indonesia gemar mempraktikkan tasawuf yang menurut mereka mengandung banyak bid’ah dhalalah.”

Pertanyaan ini bisa dipahami berangkat dari bias dan prasangka terhadap tasawuf yang sebenarnya secara historis memainkan peran penting dalam peningkatan maqamat spiritualitas Muslim dan sekaligus pemeliharan integritas kaum Muslimin menghadapi berbagai tantangan dan realitas historis.

Ortodoksi Islam Salafi-Wahabi Arab Saudi terlalu kering dan sederhana bagi kaum Muslimin Nusantara. Umat Muslimin Nusantara telah dan terus menjalani warisan tradisi untuk mengamalkan Islam yang kaya dan penuh nuansa.

Penulis “Resonansi” ini menyebutnya sebagai ‘Islam berbunga-bunga’ (flowery Islam) dengan ‘ritual’ sejak tahlilan, nyekar atau ziarah kubur, walimatus-safar (walimatul haj/umrah), walimatul khitan, tasyakuran, sampai empat bulanan atau tujuh bulanan kehamilan.”


Tentu kalau yang dimaksudkan Islam Nusantara berbeda dengan Arab Saudi, banyak kaum Muslim setuju. Tapi kalau yang dimaksudkan Islam Nusantara adalah Islam yang mendukung Jokowi, Islam yang tunduk pada pemerintahan yang zalim, Islam yang membiarkan kaum Muslim didominasi kaum non Muslim di negeri ini dan Islam yang apolitik, maka kaum Muslim Nusantara tidak terima.

Karena dalam sejarah yang panjang, sebelum Indonesia merdeka, kaum Muslim lah yang berkuasa di negeri ini. Negeri Nusantara-Indonesia ini ada karena bergabungnya kerajaan-kerajaan Islam di Banten, Samudera Pasai, Demak, Tidore, Ternate dan lain-lain.

Muslim di Timur Tengah pun macam-macam. Ada model Muslim di Mesir, Arab Saudi, Qatar, Dubai dan lain-lain.Kaum Muslim di dunia dipersatukan oleh Al Quran, Sunnah Rasulullah dan teladan para sahabat dan ulama yang saleh.

Imam Ghazali misalnya, terkenal dan dihormati baik oleh Muslim Nusantara maupun Muslim Timur Tengah. Memang ada ulama-ulama Saudi yang menolak mentah-mentah Imam Ghazali, seperti mereka yang sering disebut dengan pengikut Mohammad bin Abdul Wahab. Seperti Nashiruddin al Albani dan lain-lain.

Mohammad bin Abdul Wahab memang merupakan tokoh kontroversi. Sebagian sejarawan menyatakan sebagai tokoh dakwah yang hebat, sejarawan lain menyatakan bahwa ia tokoh yang membuat Saudi pemikirannya tidak maju sekarang ini(berangkulan politik dan militer dengan Amerika). Sejarawan ini menganggap Abdul Wahab antek Inggris yang memisahkan dari Khilafah Utsmaniyah (Turki). Pengikut tokoh-tokoh ini ‘mengharamkan buku Imam Ghazali’.

Buya Hamka memang pro Wahabi. Tetapi Hamka tidak sama Wahabinya dengan Wahabi Saudi. Hamka setuju dengan Imam Ghazali dan membuat buku Tasawuf Modern yang banyak mengutip buku Imam Ghazali (ulama terkemuka yang memimpin Universitas an Nizamiyah di Irak saat itu). Hamka bersama tokoh-tokoh NU bergabung diri dalam Masyumi (1945).

Jadi nampaknya istilah Islam Nusantara ini adalah istilah sosiologis yang kosong, tergantung mana mau dibawa. Ia bisa dibawa menghantam tokoh-tokoh Islam yang keturunan Arab, seperti Abu Bakar Baasyir, Habib Rizieq, Abdurrahman al Baghdadi dan lain-lain. Bisa dibawa pula ia merupakan Islam yang menjadi model untuk memimpin dunia Islam.

Yang gawat bila kemudian dikembangkan Islam Turki, Islam Mesir, Islam Jakarta, Islam Depok, Islam Banten dan seterusnya, sehingga umat Islam menjadi bingung Islam kok banyak banget. Dan ini mungkin yang tidak disadari oleh penggagas Islam Nusantara ini.

Jadi lebih baik gunakan istilah Muslim Nusantara daripada Islam Nusantara. Karena Muslim Nusantara ini adalah saudara Muslim di Arab Saudi, Turki, Mesir, Myanmar dan seluruh dunia Islam.

Penulis: *Nuim


Sumber : sharia.co.id
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Islam Nusantara, Islam Jakarta, Islam Depok… Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah