728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Saturday, 22 August 2015

Kenapa Tidak Kuliah di Kampus Berlabel Islam?

MUHARRIKDAKWAH - Setelah lulus dari MAN 3 Malang, saya memantapkan diri untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Akhirnya saya diterima di kampus yang berslogan “The Learning university”. Syukurlah saya diterima di program studi yang saya sukai dan sesuai dengan passion saya.

Seiring berjalannya waktu, tak jarang ada yang bertanya kepada saya, "Kenapa tidak kuliah di kampus yang berlabel Islam?", "Kenapa lebih memilih kuliah di tempat dengan lingkungan heterogen seperti ini?" Kenapa memilih jurusan ini? dan Apa jurusan itu menjamin masa depan?

Kampus yang dianggap berlabel islam adalah IAIN atau UIN. Saya mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa bisa hidup di lingkungan yang Islami itu memang anugerah yang patut disyukuri. Dikelilingi teman atau sahabat yang seiman dan sepaham, ilmu agama yang dengan mudahnya bisa kita teguk sehari-hari, terlindungi dari pergaulan yang tidak baik.

Namun dalam pandangan saya, Pertama, IAIN atau UIN memang berlabel islam. Di sana disediakan pula Asrama (mahad), ada taklim kitab turats dan kegiatan hafalan al-Quran. Hanya saja selama 10 tahun belakangan IAIN/UIN dilanda gelombang pemikiran liberal. Inilah yang membuat saya ragu untuk mencari ilmu di sana. Pemikiran-pemikiran liberal tersebut disebarkan oleh oknum-oknum dosen baik lulusan dalam negeri maupun lulusan Barat. Penyebarannya melalui perkuliahan di kelas, seminar, bedah buku dan kuliah tamu.

Contohnya di UIN diajarkan Hermenutika, sebuah tafsir yang seharusnya untuk bible tetapi dipaksakan untuk al-Quran juga. Kemudian ada oknum oknum dosen yang mengkampanyekan bolehnya kawin beda agama, Syiah bagian dari Islam, al-Quran produk budaya, hingga semua agama dianggap sama dan menuju jalan keselamatan yang sama. Bagi saya hanya Islamlah yang benar dan memberi jalan keselamatan melalui syafaat Rasulullah saw.

Kedua, tidak mungkin kita akan selamanya terus menerus hidup di lingkungan yang Islami. Kita harus bisa bertahan, bertahan dalam kondisi apapun. Berusaha untuk bisa terus mempertahankan keimanan dan diri kita dalam kondisi apapun. Ditambah lagi kenyatannya bangsa Indonesia belumlah kaffah dalam menerapkan syariah Islam.

Apa saya pilih bisa dikatakan keluar dari "zona aman" dan melatih diri. Lingkungan yang akan dihadapi seusai kuliah bahkan ketika hidup berumah tangga pasti akan lebih keras. Seorang kawan di facebook menyatakan:” Ujian Hidup yg sesungguhnya dimulai dari berumah tangga. Lembaga yang mendewasakan seseorang bukanlah sekolah atau kampus tapi Rumah tangga”

Kembali kepada inti artikel ini, seharusnya kita perlu melatih diri untuk bisa menghidupkan dan menerapkan aspek-aspek Islami dalam segala aktivitas, walaupun kita hidup di lingkungan yang memiliki berbagai macam perbedaan dengan jati diri kita sebagai seorang Muslim. Pertahankan dan terapkan ilmu yang sudah didapatkan, serta jangan lupa aktif di lembaga dakwah kampus atau yang lazim dikenal dengan rohis.

Di kampus-kampus umum. rohis mulai bersemi sejak tahun awal 1990-an. Menurut referensi yang saya baca, di kota Malang muncul pertama kali di Masjid al-Hikmah, Universitas negeri Malang. Di sana terdapat berbagai kegiatan positif yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Semuanya kembali pada diri masing-masing, apakah hanya sekedar kuliah llau pulang ke rumah ataukah aktif di kegiatan yang bermanfaat tadi. Wallahu’allam.


Oleh: Faradisa Aldina Rahma
(Mahasiswi Program studi Akuntansi, Universitas Negeri Malang)
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kenapa Tidak Kuliah di Kampus Berlabel Islam? Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah