728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Thursday, 13 August 2015

PKS Memang Beda

MUHARRIKDAKWAH - Kader-kader PKS sejak awal dididik, dibina, dilatih hidup berjamaah sebelum berpartai. Sehingga nuansa ukhuwwah, kebersamaan, saling percaya (tsiqah) dan kepatuhan kepada pimpinan lebih terasa dibanding suasana berorganisasi, yang sering identik dengan kepentingan, intrik, penguatan pengaruh dan pengokohan kekuasaan. Sehingga dalam masa-masa pergantian kepemimpinan partai di semua level kepemimpinan, yang sering terjadi di PKS adalah susahnya mencari calon atau kandidat ketua, karena kebanyakan menghindar dan lari dari jabatan.

Bila munas atau muswil berlangsung, tidak ada tim sukses kandidat, tidak ada kasak-kusuk mengumpulkan dukungan, apalagi sampai penggalangan massa dan jaringan yang biasanya diiringi dengan "pemberian", atau "hadiah" atau sekedar pengganti tiket pesawat dan hotel.

Karena setiap pekan semua kader PKS, dari seluruh level keanggotaan, secara rutin membina diri, duduk bersama melingkar mengeja ayat-ayat cinta dari Allah dan hadits kasih sayang dari RasulNya. Berlatih bersama untuk saling menghargai, dan juga menguatkan. Bila ada satu kader yang sakit, hari itu juga puluhan bahkan ratusan kader lain bisa langsung tahu. Sebagian datang langsung menjenguk, sebagian lain mengirimkan "sedikit" obatnya, minimal doa ikhlasnya kepada Yang Maha Pemberi kesembuhan. Apalagi kalau ada kader atau orang tua kader yang meninggal. Seluruh kader PKS dikota atau kadang propinsi tersebut, bak satu keluarga besar. Berta'ziyah, menghibur dan meringankan yang berduka.

Tiap bulan, mayoritas kader sudah dilatih dan terbiasa menyisihkan sebagian rezkinya untuk kepentingan seluruh keluarga besar PKS seindonesia. Dananya bisa untuk agenda-agenda dakwah, bakti sosial, beasiswa pendidikan dan operasional partai lainnya.

Tidaklah aneh kalau ada kader PKS yang ekononinya agak lemah, tapi anaknya bisa kuliah di universitas favorit, baik di dalam maupun di luar negeri. Karena biaya anak itu ditanggung oleh kader-kader lain secara patungan.

Wajar saja kemudian, karena ikatan cinta kasih dan tali silaturrahim antara sesama kader, sikap saling membela atau tidak rela dihina dalam kader PKS sangat terasa. Padahal tidak ada mobilasasi. Bila ada salah satu kader disakiti dan dihina, spontan saja yang lain membela. Karena itu manusiawi.

Buah besarnya kemudian terlihat dalam proses pergantian kepemimpinan ditubuh PKS. Tidak ada yang berlangsung ricuh, saling jegal, banting kursi atau gebrak meja, atau menimbulkan dualisme kepemimpinan, apalagi sampai melahirkan partai baru atau sempalan.

Majelis syuro PKS yang terdiri dari 69 orang, setiap 5 tahun diamanahkan untuk menggodok pergantian kepemimpinan partai. 69 orang ini merupakan kader-kader pilihan yang dipilih oleh seluruh kader PKS seIndonesia. Berasal dari seluruh propinsi. Dengan kriteria dan syarat-syarat yang sangat ketat, proses penjaringan dan penyaringan yang cukup panjang, pemantauan kondisi keluarga, wawasan dan akhlaknya, sebelum mereka semua menjadi anggota majelis syura. Ada yang bergelar Doktor alumni Madinah, Riyadh, al azhar Mesir dan negara Islam lainnya. Juga Doktor alumni jepang, amerika, eropa dan negara maju lainnya. Ada yang Hafiz Quran, mantan menteri, mantan duta besar, walikota, bupati, ulama, dosen, ilmuwan, pengusaha dan lain sebagainya.

Tentulah tidak heran bila kemudian, pemilihan ketua majelis syuro dan juga presiden partai, berlangsung dengan hangat, khimad, khusyuk, penuh ketawadhu'an, saling menghargai dan pemilihan kata yang baik saat bicara dan berargumen. Lalu kemudian berakhir dengan uraian air mata, pengakuan kelemahan diri bila sendirian, dan penghargaan yang tinggi kepada yang sudah berbuat sebelumnya.

Tangis dan isak Dr Salim Segaf Aljufri lebih dekat kepada meraung saat diamanahi majelis syura sebagai ketua. Beliau bagaikan mendapat beban berat tiada tara. Memohon dikuatkan, dijaga dan dibantu diri dan keluarganya. "Bantu saya, keluarga dan anak-anak saya agar kuat menanggung beban ini... Jangan kalian biarkan saya sendirian.... saya tidak berdaya....".

Begitu juga Ust Anis Matta saat ditanya tentang amanah dalam dakwah ini. Beliau mengatakan, "Saya hanyalah seorang prajurit (jundi) yang siap diletakkan dan ditugaskan dimana saja. Saya sangat bahagia dan bangga berada dalam partai ini. Inilah keindahan yang tidak bisa ditukar dengan apapun di dunia...."

Semua anggota Majelis Syuro menangis, meraung bercampur dengan takbir.... Yang ada hanyalah kerendahan hati, kebesaran jiwa, kebersamaan, dan saling menghargai. Semua anggota majelis syura saling berpelukan, bersalaman dan berurai air mata.

Namun begitu, setelah amanah diterima, setelah tugas diserahkan, maka segera setelah itu adalah kerja dan kesungguhan. "Acara ini di dekat jalan tol, maka PKS akan berlari kencang seperti di jalan tol. Bebas hambatan..." Begitu kata Dr Salim di depan wartawan setelah dilantik menjadi ketua majelis syura PKS.

Begitulah kader-kader PKS dilatih. Pantang meminta amanah dan jabatan. Tapi, kalau sudah ditugaskan dan sudah diamanahkan untuk itu, maka dia akan berjuang sekuat tenaga untuk mengembannya. Walau kadang harus mengorbankan hartanya, keluarganya, waktu-waktu istirahatnya dan hak-hak privasinya.

Sebaliknya, siapa yang meminta-minta jabatan, tidak ditugaskan partai untuk itu, niscaya namanya yang akan pertama dicoret dan dihapuskan dari semenjak pencalonan. Baik untuk jabatan internal partai, apalagi jabatan publik.

Analisa-analisa liar, tulisan-tulisan gak jelas pasca diumumkannya hasil sidang Majelis Syuro PKS, hanyalah lahir dari dua jenis manusia. Manusia sakit dan manusia jahil. Sakit, karena hatinya penuh curiga dan kebencian. Jahil, karena dia tidak tahu apa dan bagaimana budaya kebiasaan dalam kehidupan keluarga besar PKS.

[H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed - Agt MS PKS]
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: PKS Memang Beda Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah