728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Sunday, 25 October 2015

Pasar dan Ulama: Missing Link Sejarah Indonesia

MUHARRIKDAKWAH - Pasar, apa yang terbayang ketika mendengar kata ini? Pasar yang dimaksud tentunya adalah pasar tradisional. Jorok, kotor, bau, becek dan sesak. Bau amis dan hiruk pikuk manusia dimana-mana… apalagi menjelang hari-hari tertentu. Tapi, pernahkah terfikir ternyata tempat yang bau dan jorok ini adalah gerbang pertama masuknya Islam ke nusantara. Interaksi social yang paling nyata adalah pasar, bahkan konon untuk mengetahui kondisi suatu bangsa di sinilah tempatnya. Pasar tidak hanya tempat jual beli barang, tetapi terjadi pertukaran bahasa, ekonomi, politik, sosial-budaya, ketahanan dan keamanan. Bahkan konversi agama pun berlangsung karena pengaruh pasar.

Dari tempat ini komunikasi massa dengan mudah terbentuk, bahkan jauh sebelum masjid menjadi basis kekuataan social yang pada akhirnya melahirkan empat puluh kekuasaan politik Islam atau kesultanan di seluruh nusantara. Karena tempat ini pula, lahirlah bahasa melayu dan arab yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Dari tempat ini pulalah bangsa ini, memeluk Islam hingga menjadi agama mayoritas. Pasar telah melahirkan basis kekuatan sosial baru, yaitu masjid. Dari Masjid dilakukan pembinaan generasi muda, dari sana muncullah lembaga pendidikan—yang di Indonesia lebih dikenal dengan Pesantren. Dari Pesantren inilah lahir para ulama dan pemimpin bangsa sebagai tonggak penyebaran Islam di Nusantara. Komunitas Islam kemudian melahirkan kekuasaan politik Islam atau kesultanan.

Melalui pasar, Islam memberikan semangat kehidupan baru. Menciptakan sistem ekonomi baru yang melahirkan para wirausahawan. Karena islam pulalah masyarakat nusantara terbebas dari belenggu kasta, lahirnya wirausahawan baru ini menciptakan social climbing (pendakian sosial) dan melahirkan sistem sosial terbuka (opened society) yang tidak lagi mendasarkan stratifikasi sosial pada hereditas (keturunan). Tapi stratifikasi sosial melalui achieve status—kedudukan sosial yang diperoleh melalui prestasi kerjanya. Maka pantaslah jika masyarakat menjadikan Islam sebagai simbol liberating forces—kekuatan pembebas. Tidak hanya pembebas secara ekonomi, tp juga secara sosial, budaya, dan politik

Sedangkan ulama, figur yang terlewatkan begitu saja dalam episode sejarah Indonesia. Sejarah kita hanya menggambarkan ulama pada skala terbatas, taruhlah yang kita kenal mungkin hanya KH. Zaenal Mustafa. Lalu bagaimana dengan Jenderal Soedirman, Bung Tomo, Imam Bonjol, dan tokoh-tokoh lainnya. Sejarah Indonesia, hanya menempatkan ulama sebagai peran figuran. Padahal tanpa ulama tidak mungkin ada NKRI. Tanpa perjuangan para santri dan ulama yang berjihad memerangi imperialisme, mungkin takkan pernah ada bendera merah-putih. Bendera yang sering digunakan sebagai bendera perang Rasulullah. Tanpa adanya mosi integral dari K.H. Agus Salim mungkin sampai saat ini Indonesia tetap menjadi negara federasi, yang terpecah-pecah, bukan negara kesatuan. Tapi, nyatanya tidak banyak generasi saat ini mengenal sosok K.H. Agus Salim atau bahkan Isa Anshari, siapa dia??? Tanpa adanya para santri yang masuk menjadi anggota PETA mungkin sampai saat ini tidak akan ada TNI, karena PETA inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya TNI di Indonesia.

Tapi sejarah kita masih berhaluan eropa sentris… sehingga mereka para ulama tak dikenal dalam sejarah kita. Kita dan siswa-siswa kita hanya tahu bahwa yang berperan dalam perjuangan ini adalah para tokoh nasional seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Ahmad Subardjo, M. Yamin dan masih banyak lagi. Sementara para ulama seperti wali songo lebih banyak digambarkan sebagai sosok mistis yang memiliki kekuatan-kekuatan ghaib.

Bila kita kaji ulang, siapa peletak dasar kekuasaan politik di pulau Jawa ? jawabannya adalah Sunan Gunung Djati atau Syarief Hidayatullah. Ia berhasil membangun tiga kekuatan politik Islam di Jawa Barat: Banten, Jayakarta dan Cirebon. Bahkan dikisahkan pula Sultan Baabullah dari kesultanan Ternate, memiliki garis keturunan dari Syarief Hidayatullah.

Nama Jayakarta dari manakah berasal? yaitu dari Surah 48:1, Inna fatahna laka fathan mubina. Fathan mubina adalah kemenangan paripurna atau Jayakarta. Ini melambangkan suatu kisah heroik dan rasa syukur yang mendalam karena telah berhasil menggagalkan usaha penjajahan Portugis di Sunda kelapa atas testamen Imperialisme Paus Alexander VI dalam perjanjian Tordesillas 1494 M. Fakta ini membuktikan bahwa para ulama dan wali songo adalah peletak dasar ibu kota RI. Tidaklah heran, jika pengaruh perjuangan ulama melahirkan kemerdekaan RI.

Mungkinkah dasar Negara dalam UUD 1945, terumuskan “Negara berdasar ketuhanan Yang Maha Esa” dan ditempatkan pada bab XI pasal 29 yang berjudul Agama, jika perumus pertama setelah proklamasi bukan Ulama. Ternyata karena ulama lah bangsa ini berideologi pancasila dan konstitusi UUD’45 yang digawangi oleh KH. Wachid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo dan Mr. Kasman Singodimedjo, NU dan Muhammadiyah bersama ulama lainnya. Yang kemudian hasil perumusannya di serahkan kepada Muh. Hatta untuk di sahkan dalam sidang PPKI (* namun dalam Mapel di sekolah, nyaris tak pernah di singgung).

Maka, setiap episode perjuangan bangsa ini, dapatlah disimpulkan ada peran ulama sebagai penggerak dan simbol perlawanan. Ada pasar dan masjid sebagai peletak dasar basis kekuatan sosial masyarakatnya. Komunikasi massa yang terjalin di pasar menunjukkan karakter sosial masyarakatnya. Kabangkitan umat dan kemajuan masyarakatnya terlihat dari bagaimana interaksi masyarakatnya di dalam pasar dan masjid. Jika di pasar masih ada perjudian, kata-kata kotor, gossip, ketidak jujuran dalam menakar timbangan, kemunafikan dalam interaksi jual beli...maka, begitulah sejatinya kondisi masyarakat kita. Jika masjid – masjid di waktu subuh dan isya masih lengang karena disibukkan oleh mimpi dunia, dan siang harinya masjid masih terisi hanya beberapa orang saja karena disibukkan oleh muamalah transaksi di pasar –pasar termasuk pasar tradisional dan pasar saham, maka umat ini masih jauh dari kejayaannya. Sejarah Indonesia adalah bagian dari sejarah internasional yang sering terlupakan. Wallahu’alam

Oleh: Asini Mulyani

Guru SMP Nurul Fikri Lembang

*Dari berbagai sumber
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Pasar dan Ulama: Missing Link Sejarah Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah