728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Sunday, 28 February 2016

Dampak Mentoring di Kampus

MUHARRIKDAKWAH - Habis makan malam, langsung ke ruang belajar si bungsu. Sebagai kakak, saya rutin periksa isi laptop dan catatan kuliahnya. Saya kaget, didalamnya ada tulisan "Mentoring". Melihat tulisan itu mengingatkan saya akan 2 harakah yang memperjuangkan islamisasi keluarga, masyarakat dan negara. Harakah tersebut sejak tahun 1980-an aktif berdakwah di kampus. kalau di kota Malang, kampus berjargon " the learning university" sudah didominasi penyebar buletin jumat. Mereka amat aktif mengadakan Daurah dirasah islamiyah dan halaqah di masjid al-Hikmah. Sementara di kampus depannya yang memiliki 50 ribuan mahasiswa, didominasi aktivis harakah yang sejak Mukernas 2008 membuka diri untuk non Muslim.

Di kampus yang berdiri sejak tahun 1963 itu, para penyebar buletin jumat cukup aktif gerilya ke Mahasiswa baru. Si bungsu pernah diceramahi salah satu dari mereka tentang bahaya MEA 2016. Pernah ketika Jumat siang si bungsu mencari tahu apa isi kajian para penyebar buletin tadi. Mereka mengadakan kajian di Hall rektorat kampus. Kebetulan saat itu sedang mengkaji tragedi bom Paris. Si bungsu cerita bahwa para penyebar buletin itu golput saat bergulirnya pemilihan Presiden BEM. Alasannya cara pemilihannya tidak islami dan visi misinya tidak jelas.

Langsung saja ke pembahasan mentoring. Seperti yang pernah saya ketahui saat merampungkan tugas akhir kuliah, isi kegiatannya berupa: pembukaan, tilawah, taujih dari murobbi/musyrif, setor hafalan (murojaah), materi mentoring dan penutup dengan doa. Di dalam mentoring yang berisi 3-6 orang itu, pesertanya bawa alat tulis, mushaf al-Quran dan uang untuk infaq. Terkadang seusai mentoring, ada peserta yang curhat kepada murobbinya terutama persoalan kuliah, keluarga dan jodoh.

Peserta mentoring turut didorong menjalankan solat berjamaah di masjid, tilawah One day one juz, solat tahajjud minimal 1 kali dalam sepekan dan dzikir harian. Materi mentoring yang diterima si bungsu berupa materi dasar keislaman, seperti mengesakan Allah swt, syumuliyatul Islam, efek samping tidak baca al-Quran, dan pada 9 januari 2016, murobbinya membahas sosok Salman al-farisi. Mentoring seperti ini dibuatkan pula grup LINE dan Whats App. Masing-masing anggota saling kirim hadits, tausyiah. Lagu nasyid, petuah ulama dan info info tentang perkembangan mutakhir dunia islam di Palestina, Mesir dan Suriah.

Untuk apa ada Mentoring? Mentoring tentu saja untuk memberi bekal kepada mahasiswa di kampus umum tentang wawasan keislaman dan penguatan akhlak mereka. Dampak ikut mentoring cukup terasa dan bisa dilihat secara kasat mata, misal perubahan style/gaya berjilbab (jilbab agak lebar dan tidak ketat), tidak mau pacaran, puasa sunnah senen-kamis, bacaannya buku-buku Dr Aid al-Qarni, Yusuf mansyur, dll, bahkan yang dulunya masih labil jadi sosok yang tegar dan religius.

Sebatas yang saya ketahui, yang menjadi pendamping mentoring si bungsu ialah mahasiswi di Fakultas Ilmu Budaya. Style jilbabnya modis seperti Dian pelangi, namun diantara mereka ada yang menggemari bukunya Asma nadia, Tere liye dan Dr Yusuf Qardhawi. Untuk sementara saya tidak perlu khawatir. Karena materi mentoring dikampusnya tidak menjurus kepada ashobiyah kelompok, doktrin takfiri dan intervensi furu’iyyah. Wallahu’allam.

Oleh: Fadh Ahmad Arifan
*Pengajar di MTS Muhammadiyah 2 kota Malang, Jawa timur
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Dampak Mentoring di Kampus Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah