728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Friday, 24 June 2016

3 Pilihan Sebelum Memutuskan menjadi Guru

MUHARRIKDAKWAH - Di sela-sela acara pelepasan/wisuda siswa MTs Muhammadiyah 2 Malang, lembaga dimana saya mengajar kedatangan alumni Pendidikan Matematika Unmuh Malang. Ia lulus dalam jangka waktu 3 tahun 8 bulan. Alumni yang pernah sekolah di SMK Negeri 4 malang tersebut ingin menemui kepala sekolah dan menyerahkan hasil tugas akhirnya (skripsi). Skripsi yang ia tulis membahas pengembangan media permainan Monopoli pada pembelajaran materi transformasi untuk kelas VII.

Sayangnya, karena ibu kepala sekolah sedang mendampingi anak-anak dalam prosesi wisuda, maka saya menemani gadis muda yang bercita cita ingin lanjut jenjang magister di Unesa Surabaya tersebut. "Rencana mau lanjut S2 lewat LPDP, doakan ya mas..." kata gadis yang bernama lengkap Erlanda Nathasia Subroto.

Saya beranikan diri menanyakan “apakah ia berminat menjadi guru?”. Ia bilang menjadi guru di kota Malang ini butuh koneksi kuat. Sebetulnya yang ia katakan tidak sepenuhnya benar, pasalnya lowongan menjadi pengajar itu banyak. Dikarenakan lembaga berlabel negeri maupun swasta sedang mengalami krisis tenaga pengajar. Misalnya di tingkat Sekolah Dasar (SD) kota kelahiran saya ini kekurangan 175 guru SD. Disdik kota lebih ekstrim menyatakan masih butuh sekitar 1900 guru SD. (Koran Jawapos, 18/3/2016).

Saya katakan kepada gadis muda yang berkacamata tersebut bahwa guru adalah orang terdidik yang terpanggil jiwanya untuk mengajar meski tidak dapat gaji dan tunjangan yang layak. Sebelum seseorang ingin menjadi guru di sekolah negeri maupun swasta akan dihadapkan tiga pilihan, Pertama, apakah ia menganggap guru sebagai profesi dan mengejar materinya. Kedua, apakah ia menjadi guru karena panggilan jiwa? Ketiga, bersediakah ia konsisten terus memperbaharui ilmunya?

Bila materi yang dijadikan prioritas, maka yang akan ia dapatkan hanya kekecewaan dan kelelahan. Pasalnya gaji guru hanya dikisaran Rp 200-950 ribu. Baik menjadi honorer di negeri maupun guru tetap di lembaga pendidikan swasta. Di luar pulau Jawa malah ada guru perempuan yang mengajar tiap hari hanya di gaji 50 ribu rupiah tiap bulannya. Saya pun pernah merasakan digaji 32 ribu per bulan saat diberi amanah mengajar mata pelajaran Sejarah kebudayaan islam (SKI). Apabila gaji belum layak, 90 persen guru pasti mencari penghasilan tambahan, membuka les privat, jualan jilbab, promosi MLM, hingga menjadi makelar apa saja.

Tidak semua sarjana dari Fakultas keguruan maupun sarjana non keguruan terpanggil jiwanya untuk menjadi guru. Bila tidak terpanggil jiwanya apalagi disertai militansi, maka ia takkan bertahan lama menjadi seorang guru. Sebagian besar sarjana keguruan minat berkarir ke bidang swasta dan menjadi pegawai bank berplat merah seperti BRI, BNI dan Mandiri.

Zaman sekarang seorang bertitel magister banyak yang gengsi mengajar level SD hingga SMA. Saya memaklumi karena rata rata mereka ingin merasakan pengalaman menjadi dosen di perguruan tinggi. Tapi perlu diketahui, di Singapura, Guru SD saja ada yang bertitel P.hD (Doctor of Philosopy). Di Finlandia, syarat menjadi guru minimal harus Magister. Jadi yang merasa dirinya magister, tak usah gengsi mengajar level SD, SMP hingga SMA. Dahulukan mengamalkan ilmu, memburu keberkahan dan cari pengalaman daripada mengejar materi semata.

Terakhir, menjadi guru harus konsisten memperbaharui ilmunya, bisa melalui bacaan koran, makalah dan buku. Selain itu mengikuti seminar, workshop dan diklat. Dengan rajin membaca, seorang guru akan memberikan informasi dan wawasan baru kepada anak didiknya. Dengan membaca, ia akan terdorong untuk membuahkan karya tulis. Mengutip penjelasan Wakil ketua PW Muhammadiyah Jawa timur, Prof Imam Robandi, Guru yang suka menulis, bisa dipastikan muridnya pintar-pintar. Karena murid akan terbiasa dididik dan diajari oleh guru yang terbiasa melakukan keteraturan dalam tulisannya. Wallahu’allam.

Oleh: Fadh Ahmad Arifan
Penulis adalah Pengajar di MTs Muhammadiyah 2 Malang
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 comments:

  1. Tersedia tutor dalam jumlah amat banyak (Sungailiat). Ulasan bagus dan harga tidak mahal guru privat bahasa asing https://preply.com/id/Sofifi/guru

    ReplyDelete

Item Reviewed: 3 Pilihan Sebelum Memutuskan menjadi Guru Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah