728x90 AdSpace

Link Banner
Latest News
Powered by Blogger.
Sunday, 23 October 2016

Presiden Kami Yang Hilang

MUHARRIKDAKWAH - Tulisan ini saya tulis sehari setelah aksi nasional di Istana Negara Jakarta. Tulisan ini sebagai bentuk kekecewaan dari semua upaya penyampaian aspirasi ke Pemerintah Jokowi-JK selama 2 tahun ini.

Masih ingat setahun yang lalu ketika BEM SI juga melakukan aksi nasional di Jakarta, ketika kepala staff kepresiden (Pak Luhut P.) menemui Mahasiswa dan mengatakan Presiden Jokowi tidak bisa menemui mahasiswa, tapi beliau berjanji Presiden akan merespon tuntutan Mahasiswa langsung dari media-media, tapi alhasil itu hanya menjadi sebuah kebohongan belaka, Presiden sama sekali tidak menyikapi.

Aksi 20 Mei pun digelar, rekomendasi untuk bertemu kementrian-kementrian terkaitpun dilakukan oleh mahasiswa, hasilnya sama, kementrian hanya menjalankan, kebijakan tertinggi konsepsi pembangunan negara tetap berada di tangan presiden. 


Saya tidak ingin tuliskan semuanya, tapi seputar aksi nasional satu hari yang lalu (20 Oktober 2016) saya ingin semua publik tau.

Lima ribu-an mahasiswa dari sabang sampai merauke bergerak sejak subuh, hingga di depan Istana massa aksi diarahkan untuk masuk ke dalam lokasi aksi yang sudah disiapkan, tentunya dikelilingi oleh kawat berduri, water canon dan aparat bersenjata lengkap. Tapi mahasiswa menolak, dan memilih berjalan lurus ke arah istana meskipun akhirnya mendapat penghadangan polisi dan dorong-doronganpun terjadi, lalu situasipun semakin panas. Alhasil mahasiswa tetap bertahan di jalanan.

Beberapa perwakilan mahasiswa menggulung kawat berduri, sebelum pada akhirnya dihentikan oleh aparat pengamanan. Perdebatan berlangsung alot, jalan tengah tak kunjung ditemukan. Bentrok-bentrok mahasiswa dan polisipun tak bisa dihindari lagi.

Sekitar pukul 14.00 wib 15 perwakilan mahasiswa masuk kedalam istana dan bertemu kepala staff kepresidenan (Teten M.) muatan yang dibawa satu suara, bertemu pak Jokowi. Luar biasa, ternyata dalam istana banyak sekali media, tapi sayang hanya merekam dan foto kedatangan kami, tanpa menanyakan muatan apa yang sedang dibawa. Alhasil, hari ini terbit lah berita "pak Teten menerima rekomendasi semua kalangan", ITU BOHONG !!! Karna kami keluar dari istana dengan status Walk Out, dan satu hal yang masih bergema ditelinga saya sampai saat ini, ketika mengajak pak Teten menjelaskan langsung di hadapan mahasiswa, beliau malah bilang "ITU URUSAN KALIAN, BUKAN SAYA YANG UNDANG (Mahasiswa) KESINI !" dengan nada sangat arrogant.

Saya tau apa yang saya tulis akan membuat simpatisan bapak presiden angkat bicara, atau bahkan mengeluarkan segala bentuk caci makinya terhadap gerakan mahasiswa. Tapi sekali lagi, semua orang perlu tau dan harus tau, pencitraan yang dilakukan sangat jauh berbeda dari kenyataan.

Jauh-jauh hari sebelum tanggal 20 oktober, BEM SI mengirim undangan kepada Presiden agar menghadiri aksi 20 Oktober di depan istana, sesuai dengan prosedur administrasi di kemensesneg.

Hari itu Presiden ada di Jakarta, bahkan beliau sempat ada tayangan live dari istana melalui sebuah stasiun TV, tapi ternyata tak semudah melihat beliau bertemu rakyat di pasar, karna 5000 an mahasiswa dari Sabang sampai Merauke tak sedikitpun dianggap penting oleh beliau.

Tragedi demi tragedi terjadi, karna unjuk rasa apapun di republik ini tak perlu dikhawatirkan oleh pemerintah, toh ada aparat keamanan (rakyat) yang bisa mereka adu dengan rakyat yg sedang berunjuk rasa, alhasil bentrok rakyat (polisi) dengan rakyat (mahasiswa) menjadi tontonan menarik bagi mereka.

Ketika berita-berita palsu terbit di tengah-tengah masyarakat, rekan-rekan mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan membuat tulisan untuk menceritakan kondisi yang sebenarnya, seirama dengan itu muncullah akun-akun medsos anonim yang menghujat gerakan mahasiswa. Republik yang malang, rakyat yang tak ikut bergerak akhirnya termakan pencitraan melalui berita-berita palsu yang penuh dengan kebohongan.

"Kelilingilah Republik-mu kawan, maka akan kita lihat rakyat masih menderita, bila kita tanya, maka mereka menjawab mereka merindukan sentuhan dari pemerintah."

"Karna yang diam tak akan melihat banyak, bahkan diam membuatmu tidak percaya kepada mereka yang bergerak."

#JokowiSombong
#PresidenHilang

(Mari menulis dengan hastag yang sama)

Oleh : Khairunnas
(Presiden Mahasiswa UNSRI)
  • Komentar Google
  • Komentar Facebook

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Presiden Kami Yang Hilang Rating: 5 Reviewed By: Muharrik Dakwah